Archive for mata kuliah

pengkajian perioperatif dan integumen

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kemajuan teknologi terahkir telah mengarah pada prosedur yang lebih kompleks, seperti produser yang memerlukan teknik-teknik bedah mikro atau penggunaan  laser: peralatan bypass  yang lebih canggih dan peralatan pemantauan  yang sangat sensitif. Pembedahan telah meliputi transplantasi dari berbagai organ tubuh manusia, implamntasi alat-alat mekanik dan pelekatan kembali bagian-bagian tubuh.

Kemajuan yang sama  juga telah dibuat dalam perkembangan obat farmasi dan suplemen nutrisi. Walaupun kemajuan teknologi ini telah memfokuskan perhatian pada peran penting high-tech dari tenaga keperawatan, peran sentuhan manusia juga sama pentingnya.

Pada waktu yang sama dimana terjadi kemajuan teknologi, pelayanan dan pembayaran  untuk perawatan kesehatan juga berubah, mengakibatkan lama hari rawat ynag lebih singkat dan tindakan-tindakan dengan biaya efektif. Sebagai akibatnya, banyak orang yang dijadwalkan untuk pembedahan menjalani persiapan diagnostik dan praoperatif sebelum masuk rumah sakit. Mereka juga meninggalkan rumah sakit lebih cepat, meningkatkan pertumbuhan akan penyuluhan pasien, perencanaan  pemulangan, persiapan untuk  perawtan diri dan rujukan untuk perawatan rumah dan layanan rehabilitatif dan tindakan-tindakan dengan biaya efektif. Sebagai akibatnya banyak orang dijadwalkan  untuk pemmbedahan menjalani persiapan diagnostik dan praoperatif sebelum masuk rumah sakit. Mereka juga meninggalkan rumah sakit dengan cepat . meningkatkan kebutuhan akan penyuluhan pasien, perencanaan, pemulangan, persiapan untuk perawatan diri dan rujukan  untuk perawatan rumah dan layanan rehabilitatif.  Dengan mulainya penghematan biaya perawatan, pembedahan sehari dan pemulangan pascaoperatif dini, maka bukanlah suatu hal yang tidak lazim bagi pasien untuk masuk  rumah sakit pada hari ia di operasi untuk menerima anestesi umum dan menjalani prosedur pembedahan dan dipulangkan ke rumah pada hari yang sama ia dioperasi untuk dirawat oleh keluarga atau temanya.

Pada tahun 1980 –an tujuh dari delapan pasien bedah memerlukan setidaknya menginap satu malam dirumah sakit. Sekarang ini diperkiraan bahwa 60% pembedahan dilakukan di unit-unit rawat jalan. Bedah ampula tori, pembedahan sehari mengharuskan perawat untuk     mempunyai pengetahuan yang solid mengenai semua aspek perawatan pasien bedah. Pengetahuan keperawatan praoperatif dan pascaoperatif tidak lagi memadai perawatan yang lengkap harus mencakup pemahaman tentang aktivitasi intraoperatif.

  1. Tujuan

-          Tujuan Umum

Agar mahasiswa maupun mahasiswi STIKES Muhammadiyah Manado dapat memahami dan menerapkan apa yang telah di pelajari dalam makalah ini dalam praktek klinik.

-          Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi penyebab ansietas praoperatif dan tindakan  keperawatan untuk untuk menurunkan ansietas tersebut.
  2. Menggunakan pengkajian keperawatan praoperatif komprehensif untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko pembedahan.
  3. Mengidentifikasi pertimbangan etis dan legal yang berkaitan dengan izin operatif dan informed consent
  4. Menguraikan tindakan-tindakan keperawatan praoperatif yang dapat menurunkan resiko terjadinya infeksi dan komplikasi pascaoperatif lainya
  5. Mengembangkan rencana penyuluhan praoperatif yang di desain untuk mencegah komplikasi pascaoperatif
  6. Mengambarkan persiapan praoperatif segera pasien
  7. Mengidentifikasi tanggung jawab perawat dalam memenuhi kebutuhan keluarga dari pasien praoperatif dan pascaoperatif.
  1. Manfaat

Manfaat penulisan dari makalah ini agar mahasiswa maupun mahasiswi dapat menerapkan apa yang telah di pelajari dalam makalah ini baik di klinik maupun di masyarakat.

menambah pengetahuan  dan referensi kita semua yang bergulat dengan dunia kesehatan khususnya dokter maupun perawat.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien Kata” perioperatif “ adalah suatuistilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. Seperti yang diperlihatkan 19-1 masing-masing dari setiap fase inu dimulai dan berakhir pada waktu tertentu dalam urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah, dan masing-masing mencakup tentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang dilakukan oleh perawat  dengan menggunakan proses keperawatan dan standart praktik keperawatan.

Fase Praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah di buat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi lingkup aktivitas keperawatan selama  waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan klinik atau di rumah, menjalani wawancara praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan dan pembedahan. Bagaimana pun aktivitas keperawatan mungkin di batasi  hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat atau  ruang operasi.

Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai ketika pasien masuk atau di pindah ke bagian atau  depertemen bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan padapascaoperatif

fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi : memasang infus(IV) memberikan  medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada beberapa contoh aktivitas keperawatan dapat terbatas hanya pada menggengam tangan pasien selama induksi anestesia umum, bertindak dalam peranannya sebagai perawat scrub atau membantu dalam mengatur posisi pasien di atas meja operasi  dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh.

Fase praoperatif

Pengkajian Praoperatif diklinik

  1. Melakukan pengkajian praoperatif awal
  2. Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien
  3. Melibatkan keluarga dalam wawancara
  4. Memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperatif
  5. Mengkaji kebutuhan pasien terhadap transportasi dan perawatan

Uji bedah

  1. Melengkapi pengkajian praoperatif
  2. Mengkoordinasi penyuluhan pasien degan staf keperawatan lain
  3. Menjelaskan fase-fase dalam periode praoperatif dan hal-hal yang di perkirakan terjadi
  4. Membuat rencana asuhan

Ruang operasi

  1. Mengkaji tingkat kesadaran pasien
  2. Menelitiiii lembar observasipasien
  3. Mengidentifdikasi pasien
  4. Memastikan daerah pembedahan

Perencanaan

  1. Menentukan rencana asuhan
  2. Mengkoordinasi pelayanan dan sumber2 yang sesuai

Dukungan psikologis

  1. Menceritakan pada pasien apa yang sedang terjadi
  2. Menentukan status psikologis
  3. Memberikan peringatan akan stimuli nyeri
  4. Mengkomunikasikan status emosional pada anggota tim kesehatan lain yang berkaitan.

Fase intraoperatif

  1.  Atur posisi pasien
    1. Kesejajaran fungsional
    2. Pemajanan area pembedahan
    3. Mempertahankan posisi  sepanjang prosedur operasi
    4. Memasang alat grouding  ke pasien
    5. Memberikan dukungan fisik
    6. Memastikan bahwa jumlah  APONGA dan jarum instrumen tepat

Pemantauan fisiologis

  1. Memperhintungkan efek dari hilangnya atau masuknya cairan secara berlebihan pada pasien
  2. Membedahkan data kardiopumonal yang normal dengan yang abnormal
  3. Melaporkan perubahan-perubahan pada nadi,pernafasan, suhu badan dan tekanan darah pasien

Dukungan psikologis ( sebelum induksi dan jika pasien sadar)

  1. Memberikan dukungan emosional pada pasien
  2. Berdiri dekat dan  menyentuh  pasien selama prosedur  dan induksi
  3. Terus mengkaji status emosional pasien
  4. Mengkomunikasi status emosional pasien ke anggota tim perawatan kesehatan lain yang sesuai

Penatalaksanaan keperawatan

  1. Memberikan keselamatan untuk pasien
  2. Mempertahankan lingkungan aseptik dan terkontrol
  3. Secara efektif mengelola sumber daya manusia.

Fase pascaoperatif

Komunikasi   dari informasi intraoperatif

  1. Menyebutkan nama pasien
  2. Menyebutkan jenis pembedahan yang dilakukan
  3. Menggambarkan faktor2 intraoperatif (y) pemasangan drain atau kadebor, kekambuhan peristiwa-peristiwa yang tidak diperkirakan )
  4. Mengambarkan keterbatasan fisik
  5. Melaporkan tingkat kesadaran praoperatif pasien
  6. Mengkomunikasi alat-alat yang diperlukan

Pengkajian pascaoperatif di ruang pemulihan

 

  1. Menentukan respons langsung pasien terhadap intervensi  pembedahan

 

Unit bedah

 

  1. Mengevaluasi efektivitas dari asuhan keperawatan di ruang operasi
  2. Menentukan tingkat kepuasan pasien dengan asuhan yang berikan selama periode perioperatif
  3. Mengevaluasi produk-produk yang digunakan pada pasien diruang operasi
  4. Menentukan status psikologis pasien
  5. Membantu dalam perencanaan pemulangan.

Di rumah klinik

 

  1. Gali persepsi pasien tentang pembedahan dalam kaitannya  dengan agens anestesi, dampak pada citra tubuh. Penyimpangan,imobilitas
  2. Tentukan persepsi keluarga tentang pembedahan

BAB III

PEMBAHASAN

Tinjauan proses keperawatan

  1. A.    Pengkajian

Pengkajian pasien bedah meliputi mengevaluasi faktor-faktor fisik dan psikologis secara luas. Banyak parameter dipertimbangkan dalam pengkajian menyeluruh pasien dan berbagai  masalah pasien atau diagnosa keperawatan dapat diantasipasi atau diidentifikasi dengan dibandingkan pada data dasar. Pembahasan rinci tentang pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik dari pasien bedah disajikan setelah bagian ini.

  1. B.     Diagnosa keperawatan

Berdasarkan pada data pengkajian diagnosa keperawatan praoperatif  mayor pasien bedah dapat mencakup

  1. Ansietas yang berhubungan dengan pengalaman bedah (anastesi, nyeri)  dan hasil akhir dari pembedahan
  2. Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan proterksi praoperatif dan harapan pascaoperatif
  3. C.     Perencanaan dan implementasi

Tujuan : tujuan utama pasien bedah dapat meliputi menghilangkan ansietas praoperatif dan peningkatan pengetahuan tentang persiapan praoperatif dan harapan pasceoperatif

  1. D.    Intervensi keperawatan

Menurunkan ansietas praoperatif intervensi keperawatan yang spesifik di bahas secara rinci dalam pengkajian dan intervensi keperawatan psikososial.

Penyuluhan pasienIntervensi keperawatan spesifik dibahas secara rinci  pada bagian lain dalam bab ini dalam penyuluhan pasien praoperatif lihat jga intervensi keperawatan praoperatif  dan intervensi keperawatan praoperatif segera.

  1. E.     Evaluasi

 

Hasil – hasil yang di harapkan

  1. Ansietas dikurangi
    1. Mendiskusikan kekwatiran yang berkaitan dengan tipe anestesia dan induksi dengan ahli anestesi
    2. Mengungkapkan suatu pemahaman tentang medikasi praanestesi dan anestesi umum
    3. Mendiskusikan kekwatiran saat-saat terakhir dengan perawat atau dokter
    4. Mendiskusikan mkasalah –masalah finansial dengan pekerja sosial bila diperlukan
    5. Meminta kunjungan pendeta bila di perlukan
    6. Benar-benar relaks setelah dikunjungi oleh tim kesehatan
    7. Menyiapkan terhadap intervensi  pembedahan
      1. Ikut serta dalam persiapan praoperatif
      2. Menunjukan dan mengambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan pasien setelah operasi
      3. Menelaah informasi tentang perawatan pascaoperatif
      4. Menerima medikasi praanestesi
      5. Tetap berada ditempat tidur
      6. Relaks selama transformasi ke unit operasi
      7. Menyebutkan rasional penggunaan pagar tempat tidur

Pengkajian dan intervensi keperawatan psikososial

 

Segala bentuk prosedur pembedahan selalu di dahului dengan suatu reaksi emosional tertentu oleh pasien apakah reaksi tersebut jelas atau tersembunyi normal atau abnormal sebagai contoh ansietas praoperatif kemungkinan merupakan suatu respons antisipasi terhadap suatu pengalaman yang dapat dianggap pasien sebagai  suatu ancaman terhadap perannya dalam hidup integritas tubuh atau Bahkan kehidupannya itu sendiri. Sudah diketahui bahwa pikiran yg bermasalah fikiran yg bermasalah secara lansung mempengaruhi fungsi tubuh. Karenanya penting artinya untuk mengidentifikasi ansietas yang di alami pasien

Dengan mengumpulkan riwayat kesehatan secara cermat, perawat menemukan kekwatiran pasien yang dapat menjadi beban langsung selama pengalaman pembedahan. Tidak diragukan lagi, pasien yang menghadapi pembedahan dilingkupi oleh ketakutan termasuk ketakutan akan ketidaktahuan, kematian,tentang ansietas kanker. Kekwatiran mengenai kehilangan waktu kerja kemungkinan kehilangan pekerjaan,tanggung jawab mendukung keluarga, dan ancaman ketidakmampuan permanen yang lebih jauh,memperberat ketengangan emosional yang sangat hebat yang diciptakan oleh prospek pembedahan. Kekwatiran nyata yang lebih ringan dapat terjadi karena pengalaman sebelumnya dengan system perawatan kesehatan dan orsng-orang yang dikenal pasien dengan kondisi yang sama. Akibatnya perawat harus memberikan dorongan untuk pengungkapan dan harus mendengarkan,harus memahami dan memberikan informasi yang membantu  menyingkirkan kekhwatiran tersebut.

Keluasan reaksi pasien didasarkan pada banyak factor, meliputi ketidaknyamanan dan perubahan-perubahan yang diantisipasi baik fisik, financial, psikologis,spiritual, atau social dan hasil akhir pembedahan yang diharapkan akankah pembedahan tersebut memperbaiki keadaan? Akankah pembedahan tersebut mengakibatkan ketidakmampuan? Apakah ini hanya merupakan tindakan sementara dalam kondisi kronik?

Bagian terpenting dari pengkajian adalah untuk menentukan peran dari keluarga atau sahabat pasien, nilai dan keabsahan  dari ke semua system pendukung yang tersedia juga ditentukan. Informasi lain,tingkat fungsi yang lazim dan aktivitas sehari-hari yang khas, dapat membantu dalam perawatan pasien dan rencana rehabilitasi.

Takut diekpresikan dengan cara yang berbeda oleh orang yang berbeda. Sebagai contoh, takut mungkin diekpresikan secara langsung oleh pasien  yang secara berulang mengajukan banyak pertanyaan,walaupun telah di jawab sebelumnya. Untuk pasien lainyan,reaksinya mungkin menarik diri yaitu dengan sengaja menghindari komunikasi, barangkali dengan membaca atau menonton televisi, atau pasien lainnya lagi mungkin membicarakan secara terus menerus tanpa henti mengenai hal-hal yang yang sepele. Saat pasien mengekspresikan ketakutan atau kekwatiran tentang pembedahan yang akan di hadapinya penting artinya untuk mempertahankan agar komunikasi tetap terbuka.

Pasien praoperatif dan mengalami berbagai ketakutan. Takut terhadap ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas. Perawat dapat melakukan banyak hal untuk menghilangkan kesalahan konsep dan kesalahan informasi, dan untuk memberikan penenangan ketika memungkinkan. Selain ketakut-takutan diatas, pasien sering mengalami kekwatiran lain seperti masalah financial, tanggung jawab terhadap keluarga dan kewajiban pekerjaan atau ketakutan akan pragnosa yang buruk atau probabilitas kecacatan dimasa datang. Perawat dapat mengalihkan ketakut-takutan bersama dan mengatur untuk mendapat bantuan dari tenaga kesehatan professional lainya jika dibutuhkan. Jika kekwatiran berasal dari ketakutan tentang prognosisnya, maka dokter harus di hubungi.

Kepercayaan spiritual memainkan peranan penting dalam menghadapi ketakutan dan ansietas. Tanpa memandang anutan keagamaan pasien, kepercayaan spiritual dapat menjadi medikasi teraupetik. Segala upaya harus dapat dibuat untuk membantu pasien mendapat bantuan spiritual yang pasien inginkan. Keyakinan mempunyai kekuatan yang sangat besar; dengan begitu, kepercayaan yang dimiliki oleh setiap individu pasien harus di hargai dan didukung. Beberapa pasien menghindari kunjungan dari pemuka agama dengan alasan bahwa, tindakan tersebut dapat membuat pasien gelisah. Bagaimana pun menanyakan apakah pemuka  agama mengetahui tentang pembedahan yang akan dijalaninya adalah pendekatan penuh kasih dan tidak mengancam.

Menghormati nilai budaya dan kepercayaan pasien menfasilitasi terciptanya hubungan dan saling percaya beberapa area pengkajian termasuk kelompok etnik yang menjadi bagian dari pasien dan adat kebiasaan serta kepercayaan terhadap penyakit dan tenaga perawatan kesehatan. Sebagai contoh pasien dari kelompok budaya tertentu tidak terbiasa untuk mengekpresikan perasaan secara terbuka. Perawat harus mempertimbangkan pola control diri ini ketika mengkaji nyeri. Sebagai tanda  hormat, ada individu. dari kelompok budaya tertentu tidak melakukan kontak mata langsung dengan orang lain penting bagi perawat untuk mengetahui tidak adanya kontak mata ini bukanlah suatu penghindaran atau tidak adanya minat.

Barangkali fasilitas yang paling berguna saat perawat memberikan asuhan adalah kemampuan untuk mendengarkan  pasien, terutama ketika sedang mengumpulkan riwayat pasien. Melalui keterlibatan dalam percakapan dan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dan mewawancara, perawat dapat mengumpulkan informasi dan wawasan yang sangat berharga. Perawat yang tenang memperhatikan, pengertian, menimbulkan kepercayaan pada pihak pasien.

                      Status Nutrisi dan Penggunaan Bahan Kimia     

Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan  mengukur tinggi dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup unuk perbaikan jaringan.

Dehidrasi, hipovolemia dan ketidakseimbangan elektrolit adalah umum terjadi dan harus didokumentasikan dengan cermat. tingkat keparahan sering sulit untuk dietukan, ketika pasien sedang disiapkan untuk pembedahan, waktu tambahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki deficit untuk meningkatkan kondisi persoperatif  sebaik mungkin. Nutrien yang diperlukan untuk penyembuhan luka diringkaskan pada table 19-2.

Obesitas, obesitas sangat meningkatkan resiko dan keparahan komplikasi yang berkaitan dengan pembedahan. Selama pembedahan, jaringan lemak terutama sekali rentan terhadap infeksi. Selain itu pula, obesitas menciptakan peningkatan masalah-masalah teknik dan mekanik, oleh karenannya, dehisens (perlepasan luka) dan infeksi luka, umum terjadi, pasien obes sering lebih sulit dirawat karena tambahan berat badan; pasien tidak optimal ketika ia berbaring miring dan karenannya mudah mengalami hipovelintasi dan komplikasi pulmonary pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, fiebitis, dan kardiovaskuler, endokri, hepatic, dan penyakit biliariterjadi lebih sering pada pasien obes, telah diperkirkan bahwa untuk setiap kelebhan berat badan 13 kg, diperlukan sekitar 40 km pembuluh darah. Kebutuhan yang meningkat pada jantung dalam hal ini sangat jelas.

Penggunaan Obat Dan Alkohol, orang yang mengalami ketagihan terhadap obat dan alcohol seringkali menyangkal atau berupaya unuk menyembunyikan kebiasaan tersebut. Sering berbagai infeksi dan letak trauma pada tubuh dapat terlihat. Situasi ini membutuhkan perhatian yang sangat cermat, pertanyaan gambling. Dan sikap yang tidak menunjukan tuduhan dari sisi perawat yang mengkaji pasien.

Individu yang mengalami inoksikasi akut rentan terhadap cedera, oleh karenanya, pembedahan ditundadahulu bila memungkinkan. Jika diperlukan pembedahan kedaruratan, anestesi local atau regional digunakan untuk bedah minor, sebaliknya, untuk mencegah muntah dan aspirasi, lambung harusn diintubasi dan diispari sebelum anestesi umum diberikan.

Anestesi local atau regional digunakan untuk bedah minor, sebaliknya, untuk mencegah muntah dan aspirasi, lambung harusn diintubasi dan diispari sebelum anestesi umum diberikan.

Individu dengan riwayat alkoholik kronis sering kali menderita malnutrisi dan maslah-masalah sistemiklain yang meningkatkan risiko pembedahan. Selain itu pula, delirium akibat heni-alkohol (tremens delirium) mungkin diperkirakan pada hari kedua atau ketiga setelah henti alcohol da kondisi ini berkaitan dengan mortalitas yang signifikan bila kondisi ini terjadi pada periodepasca-operatif.

                      Status Pernafasan

Tujuan bagi pasien yang berpotensi menjalani pembedahan adalah untuk mempunyai fungsi pernafasan yang optimal. Semua pasien diminta untuk berhenti merokoksampai 6 minggu sebelum pembedahan; mereka yang akan menjalani bedah abdomen bagian atas dan bedah dada diajarkan latihan bernapas dan cara menggunakan spirometer insentif.

Karena penting sekali untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat selama semua fase pemedahan, pembedahan biasanya dikontraindikasikan ketika pasien mengalami ifeksi pernapasan.

Kesulitan pernapasan meningkatkan kemungkinan atelektasis, bronkopneumonia, dan gagal napas ketika anesthesia diberikan pada keadaan ventilasi yang tidak adekuat . pasien dengan masalah paruyang sudah ada sebelumnya dievaluasi dengan melakukan pemeriksaan fungsi paru dan anallis gas darah untuk menemukan luasnya insufisiensi respirasi. Mungkin diresepkan antibiotic untuk mengatasi infeksi tersebut.

                        Status Kardiovaskuler

Tujuan dalam  menyiapkan semua pasien untuk pembedahan adalah agar fungsi system kardiovaskuler berfungsi dengan baik untuk memenuhi kebutuhan oksigen, cairan dan  nutrisi sepanjang periode perioperatif

Karena penyakit kardiovaskuler meningkatkan resiko, pasien dengan penyakit ini membutuhkan peerhatian yang lebih besar dari besarnya selama semua fase perawatan dan penatalaksanaan. Bergantung pada keparahan gejala, pembedahan mungkin diundur sampai pengobatan medis dapat dilakukan untk memperbaiki kondisi pasien. Pada waktunya, tindakan pembedahan dapat dimodifikasi untuk memenuhi toleransi jantung pasien. Sebagai contoh, pada arter koroner, kolostomi sederhana sementara mungkin lebih baik dilakukan dari pada tindakan reseksi koloe secara ekstensif.

Yang terpenting dari pasien dengan penyakit kardiovaskuler adalah kebutuhan untuk menghindari perubahan posisi secara mendadak, imobilisasi berkepanjangan hipotensi aau hipoksia, dan terlalu membebani system sirkulasi dengan cairan atau darah.

Fungsi Hepatik Dan Ginjal

Tujuannya adalah untuk mempunyai fungsi hepar dan system urinary yang maksimal sehingga medikasi, agen anesthesia dan sampah tubuh serta toksin dapat dibuangoleh tubuh secara adekuat.

Hepar penting dalam biotransformasi senyawa-senyawa anesthesia. Karena itu, segala bentuk kelainan hepar mempunyai efek pada bagaimana anestetik tersebut dimetabolisme. Karena penyakit hepar akut berkaitan dengan mortalitas bedah yang tinggi, perbaikan fungsi heparpraoperaif amalah diperlukan. Pengkajian ang cermat dilakukan dengan berbagai pemeriksaanfungsi hepar.

Ginjal terlibat dalam ekskresi obat-obat anesthesia dan metablitnya.

Status asam basa dan metabolisme juga merupakan pertimbangan penting dalam pemberian anesthesia. Pembedahan dikontraindikasikan bila pasien menderita nefritis akut, insufisiensi renal akut dengan oliguri atau anuri, atau maslah-masalah renal akut lainnya, kecuali pembedahan merupakan satu tindakan penyelamat hidup atau amat penting untuk memperbaiki fungsi urinary, seperti pada obstruksi uropai.

 

Fungsi Endokrin

Pada diabetes tidak terkontrol, bahaya pokok utama yang mengancam hidup adalah hipoglikemia, yang memungkin terjadi selama anesthesia atau akibat masukan karbohidrat pascaoperatif yang tidak adekuat atau pembeerian obat insulin yan berlebihan. Bahaya lain yang mengancam pasien tetapi terjadinya tidak secepat hipoglikemia adalah asidosis atau glukosuria. Secara umum, risiko pembedahan bagi pasien dengan diabetes tidak terkontrol tidak lebih besar dari pasien yang bukan diabetes; bagaimanapun, pemantauan kadar gula darah yang sering adalah penting sebelum, selama dan setelah pembedahan.

Pasien yang mendapat kortikosteroid beresiko mengalami insufisiensi adrenal; karena itu, penggunaan modikasi steroid untuk segala tujuan selama tahun-tahun sebelumnya harus dilaporkan pada ahli anestesi dan ahli bedah. Selain itu, pasien dipantau terhadap tanda-tanda insufisiensi adrenal.

Fungsi imunologi

Fungsi pengkajian praoperatif yang penting adalah untuk menentukan adanya alergi, termasuk reaksi alergi sebelumnya. Terutama sekali penting untuk mengidentifiasi dan mencatat segala bentuk  sensitivitas terhadap medikasi tertentu dan reaksi merugika terhadap agens ini di masa lalu. Pasien diminta untuk mengingat segala substansi yang mencetuskan reaksi alergi sebelumnya, termasuk medikasi, tranfusi darah dan agens kontras dan untuk menggambarkan tanda dan gejala yag ditimbulkan oleh substansi ini. Riwayat asma bronchial dilaporkan pada ahli anestesi.

Immunosupresi umum terjadi pada terapi kortikosteroid, transplantasi ginjal, terapi radiasi, kemoterapi dan gangguan yang menyerang system imun (mis, AIDS dan leukemia )

Gejala ringan atau sedikit kenaikan suhu tubuh harus diteliti, karena pasien ini sangat rentan terhadap infeksi, harus hati-hati sekali untuk menggunakan asepsis yang sangat cermat.

Terapi Medikasi Sebelumnya

Riwayat medikasi dikumpulkan dari setiap pasien karena kemungkina efek samping dari medikasi pada perjalanan perioperatif pasien dan kemungkinan efek inerkasi oba. Segala medikasi yang digunakan pasien atau yang perna digunakan dimasa lalu didokumentasikan., termasuk obat-obat yang dijual bebas dan frekuensi penggunaannya medikasi yang poten mempunyai efek pada fungsi fisiologis; interaksi medikasi ini dengan agens anestetik tela menyebabkan masalah serius, seperti hipotensi arteri dan kolaps sirkulasi atau depresi.

Efek potensial dari terapi obat sebelumnya dievaluasi oleh ahli anestesi, yang mempertimbangkan lamanya waktu pasien telah menggunakan modikasi, pasien dan sifat dari pembedahan yang direncanakan. Medikasi yang menyebabkan kekhawatiran tertentu meliputi:

Kortikosteroid adrenal-kosikoteoid tidak akan dihentikan secara tiba-tiba sebelum pembedahan. Individu yang telah menggunakan steroid selama beberapa waktu dapat menderita kolaps system kardiovaskular jika steroid tersebut dihentikan secara tiba-tiba. Karena itu, bolus steroid diberikan secara intravena dengan segera sebelum dan sesudah pembedahan.

Diuretic-diuretik tiasid dapat menyebabkn depresi pernapasan berlebihan selama anesthesia; ini terjadi akibat ketidakseimbagan elektrolit.

Fenotiasin-menikasi ini dapat meningkatkan kerja hipotensif dari anestesi

Antidepresan-inhibitor monoamine oksidase (MAO) meningkatkan efek anestes.

Tranquilizer-barbiturat, diazepam dan klordiasepoksid dapat menyebabkan ansietas, ketegangan dan bahkan kejang jika dihentikan secara tiba-tiba.

Insulin-interaksi antara anestesi dan inslin harus dipertimbangkan ketika pasien dengan diabetes menjalani pembedahan.

Antibiotic-obat-obat “mycin” seperti neomisin, kanamisin dan kurang umum, streptomisin dapat menimbulkan masalah; saat medikasi ini dikombinasi dengan relaksan otot bentuk kurare, transimisi saraf terganggu dan dapat terjadi paralisis system pernapasan.

Untuk alas an-alasan tersebut diatas, adalah penting di mana riwayat medikasi pasien dikaji oleh perawat dan anestesi.

Perimbangan Geronologi

Individu lansia yang menghadapi oprasi dapat mempunyai suatu kombinasi penyakit dan masalah kesehata selain masalah kesehatan yang mengidintikasikan pembedahan. Individu lansia sering tidak melaporkan gejala, barang kali karena mereka takut akan didiagnosa penyakit serius atau karena mereka menerima gejala tersebut sebagai bagian dari proses pemuaan. Tingkat kewaspadaan yang tinggi tentang isyarat yang sangat halus mewaspadakan perawat terhadap masalah yang mendasari.

Secara umum, lansia dianggap memiliki resiko pembedahan yang lebih buruk dibandingkan pasien yang lebih muda, cadangan jantung menurun, fungsi ginjal dan hepar menurun dan aktivitas gastrointestinal tampaknya berkurang. Dehidrasi, konstipasi, dan malnutrisi mungkin terjadi.

Keterbatasan sensori seperti penggunaan peglihatan dan pendengaran dan penurunan sensitivitas terhadap sentuhan seringkali menjadi alas an terjadinya kecelakaan, cedera dan luka bakar. Karena itu, perawat harus waspada untuk mempertahankan lingkungan yang aman. Arthritis merupakan masalah yang umum terjadi pada lansia dan dapat mempengaruhi mobilitas, membua pasien sulit untuk merubah posisi dari yang satu ke sisi lainnya tanpa disrtai ketidaknyamanan. Tindakan protektif yang mencakup pemasangan bantalan busa untuk daerah yang nyeri, memindahkan pasien dengn pelan, melindungi area tonjolan tulang dari tekanan yang lama dan melakukan masase ringan untuk meningkatkan sirkulasi yang adekuat.

Keadaan mulut penting pula untuk dikaji sebab seringkali ditemukan adanya karies gigi, gigi palsu, temuan ini erutama penting bagi ahli anestesi.

Penuunan perspirasi mengarah pada kulit yang kering dan gatal-gatal. Kulit yag rapuhtersebut mudah mengalami abrasi, sehngga tindakan kepaspadaan yang lebih tinggi harus diterapkan ketika memindahkan pasien lansia. Penurunan lemak subkutan membuat individu lansia lebih rentan terhadap perubahan suhu tubuh. Selimut katun yang ringan akan sesuai untuk menyelimuti pasien lansia dipindahkan ked an dari ruang operasi.

Individu lansia tidak diragukan lagi telah mengalami banya penyakit pribadi dan kemungkinan penyakit mengancam jiwa dan keluarganya. Pengalaman seperti ini dapat mengakibatkan ketakutan terhadap masa depan. Memberikan kesempatan untukmengekspreikan ketakutan ini memberdayakan pasien untuk mendapat ketenangan dalam pikiran dan suatu perasaan bahwa dirinya dimengerti.

Secara ringkasnya, tujua keseluruhan dalam periode praoperaif adalah untuk mempunyai sebanyak mungkin factor-faktor kesehatan yang positif. Setiap upaya dilakukan untuk mengstabilkn kondisi-kondisi ersebut yang bila tidak akan menghambat kelancaran penyembuhan. Kitika factor-fakor negative seperti yang tertera pada bagian 19-2 mendominasi, risiko pembedahan dan komplikasi pascaoperasi akan meningkat.

Informed Consent

Izin tertulis yang dibuat secara sadar dan sukarela dari pasien diperlukan sebelum suatu pembedahan dilkukan. Izin tertulis seperti ini melindungi pasien terhadap pembedahan yang lalai dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari suatu lembaga hukum. Demi kepentingan semua pihak yang terkait, perlu mengikuti prinsip medikolegal yang baik.

Tanggung jawab perawat adalah untuk memastikan bahwa informed consen telah didapat secara sukarela dari pasien oleh dokter. Table 19-3 menyajikan criteria untuk persetujuan tindak meik yang abash.

Sebelum pasien menandatangani formulir consent  ahli bedah harus memberikan penjelasan yang jelas dan sederhana tentang apa yang akan diperlukan dalam pembedahan. Ahli bedah juga harus menginformasikan pasien tentang alternative-alternatif yang ada, kemungkinarisiko, komplikasi, perubahan bentuk tubuh, menimulkan kecacatan, ketidakmampuan, da pengangkata bagian tubuh, juga tentang apa yang diperkirakan terjad pada periode pascaoperatif awal dan lanjut.

Persetujuan tindak medic diperluan ketika:

  • Prosedur tindakan adalah invasive, seperti insisi bedah, biopsy, sistoskopi, atau parasentesia
  • Menggunakan anastesi
  • Prosedur non-bedah yang dilakukan dimana resikonya pada pasien lebih dari sekadar resiko ringan, seperti anterigoram
  • Prosedur yang dilakukan yang mencakup terapi radiasi atau kobalit

Pasien secara pribadi menandatangani consent tersebut jikia dia telah mencapai usia legal dan mampu secara mentall. Bila pasien dibawah umur, atau idak sadar atau tidak kompeten, izin harus didapat dari anggota keluarga yang bertanggung jawab atau wali yang sah. Individu dibawah umur dengan kondisi khusus (menikah atau yang dapat menghidupi dirinya sendiri) dapat menandatangani surat izin tersebut. Peraturan Negara bagian dan kebijakan lembaga hukum harus dipatuhi.

Pada kasus-kasus kedaruratan penting bagi ahli bedah untuk mengambil tindakan bersifat penyelamatan tanpa inferomed consent dari pasien. Namun demikian, setiap usaha harus dilakukan untuk menghubungi pihak keluarga pasien. Pada siuasi ini komunikasi dapat dilakukan melalui telepon, telegram, fax, atau medis elektronok lainnya.

Jika pasien ragu-ragu dan tidak sempat encari pengobatan alternative, opini orang kedua dapat diminta. Tidak ada pasien yang boleh dpaksa untuk menandatangan izin oprasi. Penolakan terhadap prosedur pembedahan adalah hak hukum dan hak  istimewa seserang. Akan tetapi, informasi tersebut harus didokumentaskan dan disampaikan keahli bedah sehingga pengaturan  lain dapat dibuat; sebagai contoh, penjelasan tambahan dapat diberikan kepada pasien dan keluarganya, atau pembedahan dapat dijadwalkan ulang nantinya.

Proses consent ini dapat dilengkapi dengan memberikan materi audiovisual untuk melengkapi diskusi, dengan memastikan bahwa kata-kata formulir consent tersebut dapat dipahami, dan dengan  menggunakan  strategi dan sumber-sumber lain sesuai dengan kebutuhan untuk membantu pasien mengerti.

  • Formulir conset yng ditandatngani diletakkan ditempat yang mudah dilihat pada kardeks pasien danmenyertai pasien keruang operasi.

Pendidikan Pasien Praoperatif

Manfaat dari instruksi praoperatif telah dikenal sejak lama. Setiap pasien diajarkan sebagai seorang individu, dengan mempertimbangkan segala keunikan ansietas, kebutuhan dan harapan-harapannya, program instruksi yang didasarkan pada kebutuhan individu direncanakan dan diimplementasikan pada waktu yang tepat. Jika sesi penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum pembedahan, pasien mungkin tidak ingat tentang apa yag telah dikatakan. jika instruksi diberikan terlalu dekat dengan waktu pembedahan, asien mungkin tidak dapat berkosentrasi ata belajar karena ansietas atau efek dari medikasi praanestesi.

Idealnya, instruks dibagi dalam beberapa periode waktu untuk memungkinkan pasien mengasimilasi informasi dan untuk megajukan pertanyaan ketika timbul pertanyaan. Seringkali, sesi penyuluhan ini dibarengi dengan berbagai persiapan prosedur untuk memudahkan aliran informasi. Pada kenyataannya, perawat harus membuat penilaian tentang seberapa banyak yang pasien ingin dan harus ketahui. Pada beberapa contoh, terlalu rinci malahmeningkatkan tingkat ansietas pasien.

Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah-langkah prosedur dan harus mencakup penjelasan tentang sensasi yang pasien akan alami. Sebagai contoh, memberiahu pasien hanya medikasi praoperatif yang akan membuatnya relas sebelum operasi tidaklah seefektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan megantuk. Mengetahui apa yang diperkrakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapa tingkat relaksasi yang lebih tinggi dari pada yang diperkirakan sebaliknya.

Pengaturan waktu yang tepat untuk penyuluhan praoperatif tidaklah realistic bila diterapkan dipusat-pusat pembedahan atau dilingkungan bedah hari ayng sama.bagaimanapun, selaa kunjungan pra-masuk ketika meriksaan diagnostic sedang dilakukan, perawat atau tenaga ain dapat menjawab pertanyaan dan memberikan kesempatan untuk penyuluhan pasien dan membangun hubungan. Selama kunjungan ini, pasien dapat bertemu dan bertanya pada perawat yang akan bertugas, dan melihat audiovisual, menerima materi ertulis,dan akan diberi nomor telepon yang dapat dihubungi bila timbul pertanyaan ketika mendekati waktu pembedahan.

Latihan Napas Dalam, Batuk Dan Relaksasi

Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anestesi umum. Hal ini dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal, MSI) dan bagaimana menghembuskan  napas dengann lambat. Pasien diletakkan dalam  posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru yang maksimum. Setelah melakukan latihan  napas dalam beberapa kali, pasien diinstruksikan untuk bernapas dalam-dalam, menghembuskan melalui mulut, ambil napas pendek, dan batukkan dari bagian paru yang paling dalam selain meningkatkan pernapasan, latihan ini membantu pasien untuk relaksasi.

Bila akan dilakukan insisi abdomen atau toraks, perawat memperagakan bagaimana garis insisi dapat dibebat sehingga tekanan diminimalkan dan nyeri terkonrol. Pasien harus membentuk jalinan kedua elpak tangannya dengan kuat. Lalu meletakkan jalinan tersebut melintang diatas luka insisi dan bertindak sebagai bebat yang efektif keika batuk. Selain itu, pasien diinformasikan bahwa medikasi akan diberikan untuk mengontrol nyeri.

Tujuan dalam meningkatkan batuk adalah untuk memobbilisasi sekresi sehingga dapat dikeluarkan. Ketika dilakukan napas dalam sebelum batuk, reflex batuk dirangsang. Jika pasien tidak dapat batuk secara efektif, pneumonia hipostastik dan komplikasi paru lainnnya dapat terjadi.

Perubahan Posisi dan Gerakan Tubuh Aktif

Tujuan peningkatan pergerakan tubuh secara hati-hati pada pascaoperatif adalah untuk memperbaiki sirkulasi, untuk mencegah statis vena, dan untuk menunjang fungsi pernafasan yang optimal.

Pasien ditunjukan bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya dan cara untuk mengambil posisi lateral. Posisi ini akan digunakan pada pascaoperatif (bahkan sebelum pasien sadar) dan dipertahankan sebelu 2 jam.

Latihan ekstreimas meliputi ekstensi dan fleksi lutut dan sendi panggul (sama dengan mengendarai sepeda selama posisi berbaring mirng). Telapak kaki diputar seperti membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu jari kaki. Siku dan bahu juga dilaih ROM. Pada awalnya pasien akan dibantu dan diingatkan untuk melakukan latihan ini, etapi selanjutnya dianjurkan untuk melakukan laihan secara mandiri. Tonus otot dipertahankan sehingga ambulasi akan lebih mudah dilakukan.

Perawat diingatkan untuk tetap mnggunakan mekanik tubuh yang tepat dan mengintruksikan pasien untuk melakukan hal yang sama. Ketika pasien dibaringkan dalam posisi apa saja, tubuhnya dipertahankan dalam kelurusan yang sesuai.

Kontrol Dan Medikasi Nyeri

Pasien diberitahukan bahwa medikasi praanestesi akan diberikan untuk meningkatkan relaksasi dan dapat menyebabkan rasa mengantukdan keunikan haus. Pada pascaoperatif, medikasi akan diberikan untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan rasa nyaman tetapi bukan untuk mencegah aktifitas yang sesuai atau pertukaran udara yang adekuat. Pasien diyakinkan bahwa medikasi ersebut akan tersedia pada pascaopertif untuk menghilangkan nyeri. Metode yang diantisipasi mengenai emberian agens anestesi (seperti PCA, epidural) dibicarakn dengan pasien sebelum pembedahan dan minat serta dikaj keinginan pasien untuk berpartisipasi dalam penerapan metode tersebut.

Antibiotic profilaksis mungkin akan diberikan dalam kasus spesifik. Seringkali, sefalosorin dipilih karena agens ini mempunyai oksisitas yang rendah dan spectrum kerja luas. Akan tetapi, penggunaan antimikrobial profilaksis jangka pendek atau doksis tunggal untuk prosedur bedah bersih harus ekstra hati-hatidipertimbagkan karena penggunaannya dapat menyebabkan peningkatan koloni dan bukannya menurunkan.

kontrol Kognitif

Strategi kognitif dapat bermanfaat untuk menghilangkan ketegangan, ansietas yang berlebihan dan relaksasi. Contoh dari strategi tersebut meliputi yang berikut:

Imajinasi-pasien dianjurkan untuk berkosentrasi pada pengalaman yang menyenangkan atau pemandangan yang menyenangkan.

            Distraksi-pasien dianjurkan untuk memikirkan cerita yang dapat dinikmati atau mendeklamasikan puisi favoritnya.

Pikiran optimis diri-menyatakan pikiran-pikiran imistik (“saya tau semuanya akan berjalan dengan lancar”) dianjurkan.

Informasi Lain

Pasien akan mendapat manfaat bila mengetahui kapan keluarganya dan temannya bisa berkunjung setelah pemedahan dan bahwa penasihat spiritualnya dapat hadir bila diinginkan. Mengetahui sebelumnya tentang kemungkinan diperlukan ventilator atau terpasangnya selang akan membantu pasien menerima alat ini pada periode pascaopertif.

Nutrisi dan Cairan

Bila pembedahan dijadwalkan untuk pagi hari, makanan kecil mungkin diperbolehkan pada malam sebelumnya, pada pasien dehidrasi, dan terutama pada pasien lansia. Cairan peroral seringkali dianjurkan sebelum operasi dilakukan. Selain itu, cairan mungkin akan diresepkan secara intravena. Terutama pada pasien yang tidak mampu minum. Jika pembedahan dijadwalkan siang hari dan tidak melibatkan bagian saluran gastrointestinal manapu, sarapan pagi lunak bisa saja diberikan. Seringnya, masukan makanan atau air peroral harus sudah idak diberikan 8 samai 10 jam sebelum operasi. Bagaimanapu, banyak pusat ambulatory sekarang membolehkan masukan cairan jernih 3 sampai 4 jam sebelum pembedahan.

Tujuan menunda memberikan sebelum pembedahan adalah untuk mencegah aspirasi. Aspirasi terjadi ketika makanan dan air mengalami regurgitasi dari lambung dan masuk kedalam system paru. Material yang terhirup tersebut bertindak sebagai benda asing, yang mengiritasi, dan menyebabkan reaksi inflamasi yang menggangggu pertukaran yang adekuat dari udara. Aspirasi merupakan masalah serius dan menyebabkan angka moralitas yang tinggi (60% sampai 70%) ketika hal tersebut terjadi. Pasien bedah yang lansia bahkan berisiko lebih tinggi lagi terhadap aspirasi.

Persiapan Intestinal

Pembersihan dengan enema atau laksatif mungkin dilakukan pada malam sebeum operasi dan mungkin diulang jika tidak efektif. Pembersihan ini adalah untukmencegah defekasi selama anestesi atau untuk mencegah trauma yang tidak diinginkan pada intestinal selama pembedahan abdomen. Kecuali kondisi pasien menyebabkan suatu kontraindikasi, toilet atau commode atau tempat tidur, ketimbang menggunakan bedpan, digunakan untuk evaluasi enema, selain itu pula mungkin diresepkan antibiotic untuk mengurangi flora usus.

Persiapan Kulit

Tujuan dari persiapan kulit praoperatif adalah untuk mengurangi sumber bakteri tanpa mencederai kulit. Bila ada waktu, seperti pada bedah selektif, pasien dapat diinstruksikan untuk menggunakan sabun yang mengandung deterjen-germisida untuk membersihkan area kulit selama beberapa hari sebelum pembedahan. Untuk mengurangi jumlah organisme  kulit, persiapan ini dapat dilakukan dirumah.

Sebelum pembedahan, pasien harus mandi air hangat dan  merelakskan serta menggunakan sabun betadin. Eskipun hal ini lebih disukai dilakukan pada hari pembedahan, waktu yang dijadwalkan untuk pembedahan dapat mengharuskan bahwa hal tersebut dilakukan pada malam sebelumnya. Tujuan menjadwalkan mandi pembersihan sedekat mungkin waktu dengan pembedahan adalah untuk mengurangi risiko kontaminasi kulit terhadap luka bedah. Mencuci rambut sehari sebelum pembedahan sangat disarankan kecuali kondisi pasien tidak memungkinkan hal tersebut.

Amat disarankan agar kulit dan sekitar letak opertif tidak dicukur. Selama mencukur, kulit mengalami cedera oleh silet dan menjadi pintu masuk untuk bakteri. Jaringan yang cedera ini dapat bertindak sebagai untuk pertumbuhan bakteri. Selain itu, makin jauh interval antara bercukur dan operasi, makin tinggi angkainfeksi luka pascaoperatif. Kulit yang dibersihkan dengan baik tetapi tidak dicukur sering jarang menyulitkan dibanding dengan kulit yang dicukur.

Protocol untuk persiapan kulit, bervariasi banyak ahli bedah lebih menyukai rambut dibersihkan dari area yang akan dioperasi. Salah satu pendekatan menyangkut penggunaan alat cukur listrik untuk mencukur rambut 1 sampai 2 mm dari kulit supaya jangan melukai kulit. Alat cukur harus dibersihkan dengan seksama setelah digunakan. Pendekatan lain adalah dengan menggunakan krim penghilang rambut.

Jika protocol lembaga atau ahli bedah mengharuskan kulit untuk dicukur, pasien diberitahukan tentang prosedur mencukur, dibaringkan dalam posisi yang nyaman, dan tidak memajang bagian yang tidak perlu. Substansi adesif atau berminyak mungkin dapat dihilangkan cepat dengan menggunakan benzen atau eter, jika balutan rasa dinginnyatidak mengganggu bagi pasien.

Kulit mungkin dicukur oleh tim persiapan khusus, oleh perawat ditugaskan untuk merawat pasien, atau oleh anggota tim ruang operasi. Gunting dapat digunakan pertama-tama untuk membuang rambut yang lebih panjang. Deterjen antimikrobial dapat digunakan untuk menghasilkan busa yang membuat rambut yang lebih mudah untuk dibuang. Kulit ini diregangkan dan dicukur dengan arah sesuai dengan arah pertumbuhan rambut. Sapuan panjang yang kontinu biasanya lebih baik. Hindari guratan, dan semua tempat potensial untuk terjadinya infeksi dilaporkan semua tindakan dan temuan didokumentasikan.

Krim Penghilang Rambut, senyamaan kimia (krim untuk melepaskan rambut). Aman untuk mempersiapkan guna keperluan pembedahan. Jika terdapat keraguan tentang kemungkin suatu reaksi alergi, uji bercak, harus dilakukan terlebi dahulu. Sebagai tindakan penghematan, rambut yang panjang dpat digunting terlebi dahulu sebelum mengoleskan krim untuk mengurangi jumlah krim yang digunakan.

            Krim ini dioleskan secara merata 1,25 cm diatas keseluruhan didaerah operasi. Spatel lidah atau tangan yang bersarung dapat digunakan untuk mengoleskan krim ini. Setelah krim digunakan pada kulit selama 10 menit (berganung pada instruksi kemasan), krim dibershkan dengan spatel lidah atau dengan spon kasa yang telah dibasahi. Bil semua krim dan rambut telah diangkat, kulit dibilas dengan sabun dan air dan dikeringkan dengan baik.

Ada beberapa keuntungan menggunakan krim penghilang rambut untuk persiapan kulit praoperatif. Hasil akhir adalah kulit bersih, halus dan utuh, goresan, abrasi, terluka dan pembuangan rambut yang tidak adekuat dapat dicegah. Penggunaan ini memberikan kenyamananan pada pasien dan pasien dapat mengoleskan krim ini secara pribadi untuk prosedur operatif tertentu.

Intervensi Keperawatan Praoperatif Segera

Pasien dipakaikan baju rumah sakit yang dibiarkan tidak terikat dan terbuka bagian belakangnya. Jika pasien memiliki rambut yang panjang, rambut tersebut mungkin diikat; jepit rambut dilepas dan seluruh rambut ditutup dengan topi operasi yang terbuat dari kertas sekali pakai.

Mulut asien diinfeksi, dan gigi palsu atau mungkin ikat gigi dilepaskan, jika dibiarkan didalam mulut alat ini akan dengan mudah jauh kebelakang tenggorok selama induksi anestesi dan menyebabkan obstruksi pernapasan.

Perhiasan tidak dikenakan keruang operasi, bahkan cincin kain sekalipun harus dilepas. Jika pasien menolak unuk melepaskan cincinnya, sehelai kasa kecil disisipkan melalui cincin dan ikatkan dengan kuat kepergelangan tangan pasien. Semua barang berharga, termasuk gigi palsu dan alat-alat protetk, diberi label nama pasien denga jelas dan disimpan dengan tempat yang aman sesuai dengan kebijaksanaan rumah sakit.

Semua pasien (kecuali merekadengan ganggun urologi) harus buang air kecil tepat sebelum masuk ruang operasi untuk meningkatkan kontnen selama pembedahan abdomen bagian bawah dan untuk memudahkan mengakses organ-orga abdomen. Kateterisasi tidak selalu dilakukan kecuali dalam keadaan kedaruratan atau keika dierlukan untuk memastikan pengosongan kandung kemih dengan memasang indwelling kateter. Dalam contoh ini, kateter ersebut harus dihubungkan dengan system drainase tertutup. Urin yang dikeluarkan diukur dan jumlah serta waktu berkemih dicatat pada catatan praoperatif.

Medikasi Praanestesi: Farmakokinetik

Barbiturate/Tranquilizer. untuk sedasi, umumnya dipakai barbiturate erutama pentobarbital (Nembutal) dan sekobarbital (sodium seconal)-sebagai hipnotik seperti benzodiazepine (flurazepam, diazepam). Akan tetapi kunjungan ahli anestesi dan perawat ruang operasi seringkali memiliki efek yang menenangkan dan melegakkan dari pada barbiturate. Meskipun demikian, malam sebelum operasi, biasanya diberikan hipnotik untuk menghilangkan insomnia.

Opioid, medikasi seperti morfin dan meperidin (demoral) mungkin diresepkan sebelum operasi untuk menurunkan besarnya anestesi umum yang diperlukan. Medikasi ini dapat juga digunakan untuk menghasilkan analgesia pada pasien yang mengalami nyeri sebeum pembedahan. Pada saat sama, penting artinya untuk menyadari bahwa dosis analgesic dapat mendepresi pernapasan dan reflex batuk dan meningkatkan resiko asidosia respiratori pneumotitis aspirasi. Dosis penuh dapat menyebabkan hipotensi, mual, muntah, konstipasi dan distensi abdomen.

Antikolirgenik. Medikasi kolirgenik mungkin diberikan untuk menurunkan sekresi saluran napas dan untuk mencegah atau mengatasi reflex melambat jantung selama anestesi. Medikasi ini juga diberikan untuk nmelawan sekresi yang diinspasi degan induksi anastesi dan intubasi. Antropin seringkali diberikan; akan tetapi, harus diberikan dengan sangat hati-hati pada pasien yang mengalami glaucoma, tirotoksikosis, hiperplasi prostat atau beberapa bentuk kelainan jantung.

Karena alkaloid beladona (atropine dan skopolamin) mempunyai efek yang berada pada frekuensi nadi, juga efek lemahnya, glikopirolat (robinul), suatu senyawaan ammonium kuartenari, sering digunakan. Adalah medikasi antikolinergik yang dua kali lebih poten dari anti sialagong (menurunkan sekresi) dan bekerja tiga kali lebih lama.

Medikasi praanestetik lain. Preparat lain yang digunakan sebagai medikasi praanestesik adalah droperidol, fentanil, atau kombinasinya. Medikasi ini tidak boleh digunakan bersama sedative karena dapat menyebabkan depresi pernapasan dan sirkulasi dan dapat menguatkan depresan.

Antbiotik profilaktik diberikan ketika diduga ada kotaminasi bakteri, atau bagi pasien dengan luka yang bersih yang merupakan tempat pemasangan alat protetis.

Penentuan waktu pemberian medikasi, karena medikasi praanestestik harus sudah diberikan 45 sampai 75 menit sebelum anestesi dimulai, sangat penting arinya bila perawat memberikan obat ini tepat pada waktu yang ditentukan; jika tidak efeknya akan tidak maksimal, atau tidak akan mulai beraksi keika anestesi dimulai.

Setelah medikasi praanestesik diberikan, pasien ditempatkan ditempat tidur dengan pagar tempat tidur terpasang karena medikasi dapat menyebabkan kepala seperti melayang dan mengantuk. Jika diberikan antropin atau glikopirolat (robinul), pasien diinformasikan bahwa obat tersebut akan membuat mulutnya terasa kering. Selama waktu tersebut, perawat mengamati pasien terhadap reaksi medikasi yang tidak diinginkan, lingkungan dekat pasien dijaga agar tetap tenang untuk meningkatkan relaksasi.

Sangat sering terjadi, pembedahan ditunda atau jadwal ruang operasi berubah, dan hal tersebut membuat tidak.

  1. Nama Pasien :                     tanggal:                      tinggi badan             berat badan

Pita identifikasi terpasang :

  1. Informed consent ditandatangani :                               izin khusus ditandatangani:
  2. Laporan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik disertakan :                     tanggal :
  3. Catatan laboratorium disertakan :

HSD:                HB:               urinalisis:              ht:

  1. Item:                                 ada:                           tidak ada:
    1. Gigi asli:

Gigi palsu; atas bawah ,parsial,kawat gig,mahkota

  1. Lensa kontak:
  2. Protosis lain-tipe:
  3. Perhiasan:

Cincin kawin:

Cincin:

Anting:giwang,jepit:

Kalung:

  1. Tata rias:

Cat kuku:

  1. Pakaian:
    1. Gaun bersih pasien:
    2. Topi:
    3. Pembalut wanita dll.:

 

  1. A.                Pernafasan Diafragmatik

Pernafasan diafragmatik mengacu pada pendataran kubah diafragma selama insipari dengan mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejajar dengan desakan udara masuk. Selama ekspirasi, otot-otot abdomen berkontraksi.

  1. Lakukan dalam posisi yang sama seperti posisi anda ditempat idur nanti setelah pembedahan, posisi semifowler, berbaring ditempat tidur dengan punggung dan bahu terangga baik dengan bantal.
  2. Dengan tangan dalam posisi genggaman kendur, biarkan tangan berada diatas iga paling bawah-jari jari tangan menghadap dada bagian bawah untuk merasakn gerakan.
  3. Keluarkan napas dengan perlahan dan penuh bersamaan dengan gerakan iga menurun dan kedalam mengarah pada garis tengah.
  4. Kemudian ambil napas dalam  melalui hidung dan mulut anda, biarkan abdomen mengembang bersamaan dengan paru-paru terisi oleh udara.
  5. Tahan napas ini dalam hitungan kelima.
  6. Hembuskan dan keluarkan semua udara melalui hidung dan mulut anda.
  7. Ulangi 15 kai denga istirahat singkat seelah setiap lima kali.
  8. Lakukan hal ini dua kali sehari praoperatif.
  1. B.                     Batuk
    1. Condong sedikit kedepan dari posisi duduk ditempat tidur, jalinkan jari-jari tangan, dan letakkan tangan melintang letak insisi untuk bertindak sebagai bebat ketika batuk.
    2. Napas dengan diafragma seperti yang digambarkan pada bagian A.
    3. Dengan mulut agak terbuka, hirup napas dengan penuh.
    4. “hak” kan keluar dengan keras dengan tiga kali napas pendek.
    5. Kemudian, degan mulu tetap terbuka, lakukan napas dalam dengan cepat dan dengan cepan batukdengan kuat satu atau dua kali. Hal ini mebantu membersihkan sekres dari dada. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan tetapi tidak membahayakan insisi.
  1. C.    Latiha Tungkai
  2. Berbaring dalam posisi semi-fowler dan lakukan latihan sederhana berikut ini untuk memperbaiki sirkulasi
  3. Bengkokkan lutut dan naikkan kaki-tahan selama beberapa detik, kemudian  luruskan tungkai dan turunkan ketempat tidur.
  4. Lakukan hal lima kali untuk satu tungkai, kemudian ulang pada tungkai lainnya.
  5. Kemudian buat lingkaran engan kaki dengan membengkkokkannya kebawah, kedalam mendekat satu sama lain, ke atas, dan kemudian keluar.
  6. Ulang gerakan ini ima kali
  1. D.    Miring
  2. Mring ke salah satu sisi dengan bagian paling atas tungkai fleksi dan disangga diatas bantal.
  3. Raih pagar tempat tidur sebagai alat bantu untuk maneuver kesamping.
  4. Lakukan pernapasan diafragmatik dan bauk keika anda miring.
  1. E.     Turun Dari Tempat Tidur
  2. Miring kesalah satu sisi .
  3. Dorong tubuh anda keatas dengan satu tangan ketika mengayunkan tungkai anda turun dari tempat tidur.

PENGKAJIAN PADA SISTEM INTEGUMEN

1. DATA DEMOGRAFI

1)   Usia ( aging proses).

2)   Suku bangsa – ras normal / abnormal tergantung suku bangsa.

3) Pekerjaan – paparan sinar matahari, kimia iritasi zat atau substansi yang abrasive     lingkungan yang menjadi faktor masalah kulit.

2. RIWAYAT KESEHATAN

1) Riwayat medis dan pembedahan

a. Riwayat medis baik saat ini atau sebelumnya.

b. Riwayat pembedahan.

2) Riwayat keluarga riwayat pengobatan

a. Tentang penyakit kulit yang kronis.

b. Anggota keluarga yang bermasalah dengan gangguan sistem integument.

3) Riwayat sosial

Pekerjaan aktifitas sehari-hari dengan lingkungannya, reaksi dss.

4) Riwayat kesehatan saat ini

  • Kapan pertama kali mendapat masalah kulit.
  • Bagian tubuh mana yang pertama kali terkena.
  • Menjadi lebih baik atau memburuk.
  • Mempunyai kondisi yang sama sebelumnya.
  • Apa faktor penyebabnya.
  • Bagaimana penatalaksanaanya.
  • Adakah masalah yang menyertai :
  • gatal, rasa terbakar, baal, nyeri, demam,vomiting, diare, sakit tenggorokan,dingin kaku
  • Keadaan buruk jika tersinar matahari, pengobatan padnas atau dingin.
  • Apa yang membuat masalah menjadi baik.
  •  Apa faktor pencetus karena makanan , sprei baru, sabun baru, kosmetik baru.
  • Bagaimana ruam atau lesi tersebut terlihat ketika muncul untuk pertama kalinya.
  • Apakah terdapat rasa gatal, tebakar, kesemutan atau seperti ada yang merayap.
  • Apakah ada gangguan sensasi kulit.
  • Apakah masalah tersebut menjadi bertambah pada musim tertentu.
  • Apakah anda mempunyai riwayat hypever, asma atau alergi.
  • Apakah ada di keluarga yang mempunyai masalah kulit.
  • Apakah erupsi kulit muncul setelaah makan makanan tertentu.
  • Apakah anda mengkonsumsi alcohol.
  • Apakah ada hubungan antara kejadian tertentu dengan ruam kulit.
  • Obat- obatan apa yang anda gunakan ( krim, salep, lotion) untuk mengobati kelainan kulit tersebut yang dapat dibeli di toko obat.
  • Jenis kosmetik apa untuk perawatan kulit yang anda gunakan.
  • Apakah di lingkungna sekitar anda terdapat faktor- faktor ( tanaman, hewan jat iritan, kimia infeksi ) yang menimbulkan masalah pada kulit.
  • Apakah ada sesuatu mengenai kulit yang yang menimbulkan ruam.

5) Riwayat diet

kaji BB, Bentuk tubuh, makanan yang disukai

 3. STATUS SOSIAL EKONOMI

Latar belakang status ekonomi klien untuk mengidentifikasi faktor lingkungan yang dapat menjadi faktor penyebab penyakit kulit ( berapa jam terpapar sinar matahari, bagaimana dengan personal hygienenya).

RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG

Jika masalah kulit sudah dapat diidentifikasi, kaji :

  1.  1.  Kapan klien pertama kali melihat adanya rash
  2.  2.  Dibagian tubuh mana rash mulai

3. Apakah masalahnya dapat diatasi atau bertambah banyak jika masalah sama dengan  penyakit sebelumnya , kaji ;

1. Penyebab lesi kulit

2. Bagaimana cara mengatasinya

3. Hubungkan dengan gejala penyerta yang lain : gatal, gatal rasa terbakar, rasa    demam, nausea dan vomiting, nyerio tenggorokan , Kaku kuduk

4. Identifikasi yang menbuat masalah menjadi baik atau menjadi buruk

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi dan palpasi dengan menggunakan :

- Penglihatan untuk menyinari lesi

- Pakaian dapat dilepaskan seluruhnya dan diselimuti dengan benar

- Proteksi diri sarung tangan haris dipakai ketika melakukan pemeriksaan kulit Tampilan umum kulit karakteristik kulit normal diantaranya:

  1. Warna

warna kulit normal bervariasi antara orang yang satu dengan yang lain dari berkisar warna gading atau coklat gelap, kulit bagian tubuh yang terbuka khususnya di kawasan yang beriklim panas dan banyak cahaya matahari cenderung lebih berpigmen efek vasodilatasi yang ditimbulkan oleh demam sengatan matahari dan inflamasi akan menimbulkan bercak kemerahan pada kulit, pucat merupakan keadaan atau tidak adanya atau berkurangnya toonus serta vaskularissi yang normal dan paling jelas terlihat pada konjungtiva.

Warna kebiruan pada sianosis menunjukan hipoksia seluler dan mudah terlihat pada ekstremitas , dasar ,kuku bibir serta membran mukosa. Ikterus adalah keadaan kulit yang menguning , berhubungan langsung dengan kenaikan bilirubin serum dan sering kali terlihat pada sklera serta membran mukosa.

  1. Tekstur kulit

Tekstur kulit normalnya lembut dan kencang, pajanan matahari, proses penuaan dan peroko berat akan membuat kulit sedikit lembut. Niormalnya kulit adalah elastis dan akan lebih cepat kembali turgor kulit baik

  1. Suhu

Suhu kulit normalnya hangat , walaupun pada beberapa kondisi pada bagian   ferifer seperti tangan dan telapak kaki akan teraba dingin akibat vasokontriksi

  1. Kelembaban

Secara normal kulit akan teraba kering saat disentuh. Pada suatu kondisi saat ada peningkatan aktifitas dan pada peningkatan kecemasan kelembaban akan meningkat

  1. Bau busuk

Kulit normal bebas dari bau yang tidak mengenakan. Bau yang tajam secara normal akan ditemukan pada peningkatan produksi keringat pada area aksila dan lipat paha

  1. Eflorensi

Eflorensi adalah pengkajian kelainan kulit yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan bila perlu di periksa dengan perabaan ada 2 macam pengkajian efrolensi

1. Eflorensi primer adalah kelainan kulit yang terjadi pada permulaan penyakit        diantaranya :

- makula : warna kulit tegas, ukuran bentuk bervariasi, tanpa disertai peninggian atau cekungan diameter

2. Eflorensi sekunder adalah kelainan kulit yang terjadi selama perjalanan penyakit

PROSEDUR DIAGNOSTIK PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN

  1. Biops Kulit.

Mendapatkan jaringan untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan cara eksisi dengan scalpel atau alat penusuk khusus ( skin punch) dengan mengambil bagian tengah jaringan. Indikasi Pada nodul yang asal nya tidak jelas untuk mencegah malignitas.Dengan warna dan bentuk yang tidak lazim.Pembentukan lepuh.

  1. Patch Test

Untuk mrngenali substansi yang menimbulkan alergi pada pasien dibawah plester khusus ( exclusive putches ).

indikasi

- Dermatitis, gejalak kemerahan, tonjolan halus, gatal- gatal. Reaksi + lemah.

- Blister yang halus, papula dan gatal –gatal yang hebat reaksi + sedang.

- Blister/bullae, nyeri, ulserasi reaksi + kuat.

Penjelasan pada pasien sebelum dan sesudah pelaksanaan patch test :

- Jangan menggunakan obat jenis kortison selam satu minggu sebelum tgl pelaksanaan.

- Sample masing – masing bahan tes dalam jumlah yang sedikit dibubuhkan pada plester berbentuk cakaram kemudian ditempel pada punggung,dengan jumlah ynag bervariasi.( 20 – 30 buah.).

- Pertahankan agar daerah punggung tetap kering pada saat plester masih   menempel.

- Prosedur dilaksanakan dalam waktu 30 menit.

- 2- 3 hari setelah tes plester dilepas kemudian lokasi dievaluasi.

3. Pengerokan Kulit

Sampel kulit dikerok dari lokasi lesi, jamur, yang dicurigai.dengan  menggunakan skatpel yang sudah dibasahi dengan minyak sehingga jaringan yang dikerok menempel pada mata pisau hasil kerokan dipindahkan ke slide kaca ditutup dengan kaca objek dan dipriksa dengan mikroskop.

  1. Pemeriksaan Cahaya Wood ( Light Wood)

Menggunakan cahaya UV gelombang panjang yang disebut black light yang akan menghasilakan cahaya berpedar berwarna ungu gelap yang khas.cahaya akan terlihat jelas pada ruangan yang gelap, digunakan untuk memebedakan lesi epidermis dengan dermis dan hipopigmentasi dengan hiperpigmentasi.

5.   Apus Tzanck Untuk memeriksa sel – sel kulit yang mengalami pelepuhan.

Indikasi :

- Herpes zoster,varisella, herpes simplek dan semua bentuk pemfigus.

- Secret dari lesi yang dicurigai dioleskan pada slide kaca diwarnai dan periksa

Tujuan :

Agar mahasiswa dapat mengamati berbagai kelainan pada integument melalui  pemeriksaan fisik kulit, rambut dan kuku.

Alat satu-satunya yang digunakan untuk memeriksa kulit adalah lampu senter.

Pemeriksaan kulit anda perlu perhatikan :

  1. Warna
  2. Kelembaban
  3. Turgor
  4. Tekstur kulit

Perhatikan setiap perubahan warna seperti :

  • Sianosis
  • Ikterus
  • Anemis
  • Atau kelainan pigmentasi

Petekia atau purpura atau angioma adalah Lesi vascular merah mungkin adalah ekstravasasi darah dari pembuluh masuk ke dalam kulit.

Tes petekia dengan melakukan penekanan dengan kaca objek glas, dimana kemerahannya tidak akan hilang. Berbeda dengan angioma.

Kelembaban yang berlebihan mungkin terdapat pada orang normal, demam, emosi, penyakit keganasan, atau hipertiroidisme.

Kulit kering adalah perubahan menua normal, dapat dijumpai pada miksedema, nefritis (penyakit ginjal), atau obat-obat tertentu.

Turgor jaringan adalah alat secara kasar menafsir keadaan hidrasi umum biasanya.

Lesi Primer

  • Macula, bercak datar dan kecil, berukuran sampai 1,0 cm.

Contoh: hemangioma, vitiligo

  • Patch, bercak datar, 1.0 cm atau lebih.

Contoh: bercak Café-au-lalt

  • Papula, berukuran sampai 1,0 cm.

Contoh: nevus yang menonjol

  • Plak, lesi permukaan yang menonjol 1,0 cm atau lebih sering dibentuk oleh kumpulan papula

Lesi Sekunder

Jenis lesi

Pengertian

Skuma

Eksfolisasi epidermis/mengelupasnya epidermis, misalnya pada psoriasis, tinea versikolor

Ekskoriasi

Lapisan epidermis yang lecet karena trauma mekanik, misalnya karena digaruk atau dicakar

Fisura

Celah yang memanjang ke dalam epidermis, kadang sampai di korium, karena luka-luka atau penyakit

Krusta

Timbunan serum, pus, atau darah yang mongering, kadang-kadang bercampur jaringan epitel atau debris

Sikatriks

Pembentukan jaringan iakt baru, sebagai pengganti kerusakan jaringan korium (atau lebih dalam lagi), akibat suatu luka atau penyakit atau bekas operasi. Jaringan parut yang berlebihan pertumbuhannya disebut keloid

Ulkus

Luka yang menembus epidermis, biasanya disertai nekrosis, bervariasi dalam bentuk serta dalamnya luka

Perubahan Lokal

Angioma

Tumor yang terjadi dari system pembuluh, bila asalnya pembuluh darah di sebut hemangioma, bila asalnya pembuluh limpa disebut limfangioma

Nevi

Pertumbuhan yang sifatnya kongenital, merupakan tanda lahir

Spider nevi

Bercak merah kecil, merupakan pembuluh-pembuluh darah yang kecil mempunyai pusat dengan cabang-cabangnya yang terbesar dari pusat (sepetri sarang laba-laba). Biasanya dijumpai pada penyakit hati, misalnya sirosis hati.

Striae

Garis putih kemerahan dari daerah yang atrofi, dikelilingi oleh kulit yang normal. Dijumpai pada wanita hamil, gemuk, atau pada sindrom cushing, jaringan parut (sikatriks pada eflorosensi)

Pertumbuhan Rambut

Dinilai cukup tidaknya, adakah bagian-bagian yang berlebihan atau tidak ada pertumbuhan rambutnya.

Edema

Diperiksa didaerah pretibial, pergelangan kaki dan sacral, dengan cara menekan di atas dasar yang keras (di atas tulang, tidak di daerah otot). Adanya lekukan ke dalam setelah penekanan, disebut pitting edema,misalnya pada sirorosis hati, gagal jantung kanan dan sindrom nefrotik. Keadaan sebaliknya disebut non pitting, dijumpai misalnya pada miksedema.

Turgor

Diperiksa dinding perut, lengan dan punggung tangan.

Keringat

Seluruh badan, setempat.

Scleroderma

Gambaran kulit yang kasar, menebal, warna putih gading. Terabanya biasaanya tipis dan tegang, sehingga kadang kala pasien sukar untuk tersenyum atau menutup mulutnya.

Atrofia

Menipisnya kulit karena berkurangnya satu atau lebih lapisan kulit. Tampaknya kulit jadi pucat, elastisitas berkurang, pada keadaan ekstrim, kulit teraba seperti kertas.

Emfisema subkutis

Adanya udara pada jaringan subkutan, ditandai dengan adanya krepitasi pada perabaan.

Kuku

  • Falang dorsal membulat dan menggelembung, kecembungan dari lempeng kuku meningkat. Sudut antara lempeng kuku dan lipatan kuku proksimal bertambah sampai 180° atau lebih. Lipatan kuku proksimal teraba seperti busa. Banyak penyebab dari kondisi ini termasuk hipoksia kronis dan kanker paru
  • Inflamasi pada lipatan kuku proksimal dan lateral, dapat akut atau kronis. Lipatan berwarna merah, bengkak, mungkin terdapat nyeri tekan.
  • Pelepasan lempeng kuku yang tidak terasa sakit dari bantalan kuku, dimulai dari distal. Banyak penyebab dari kondisi ini.
  • Keputihan pada kuku disertai dengan pita distal kemerahan atau coklat. Terlihat pada penuaan dan beberapa penyakit kronis.
  • Bercak putih yang disebabkan oleh trauma. Tumbuh ke luar bersamaan dengan pertumbuhan kuku.
  • Garis kurva putih yang serupa dengan kurva linula. Pertumbuhan ini menyertai penyakit dan tumbuh ke luar bersama pertumbuhan kuku.

PERTUMBUHAN RAMBUT

Rambut rontok di seluruh badan ataupun setempat (alopesia areata).Dapat di jumpai pada penyakit infeksi berat (demam tifoid) atau penyakit endokrin (diabetes mellitus, miksedema).

  • Trikotilomania

Area tampa rambut karena penarikan, pencabutan atau pemuntiran rambut .batang rambut patah dan dalam berbagai ukuran. Lebih umum terjadi pada anak, sering pada situasi stress keluarga atau stress psikologis.

  • Tinea kapittis (“Ringworm”)

Area alopesia parut yang bulat.Rambut patah sangat dekat dengan pangkalnya di kulit kepala.Biasanya disebabkan oleh infeksi jamur karena tinea tonsurans.Menyerupai dermatitis seborea.

BAB IV

PENUTUP

  • Kesimpulan

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien Kata” perioperatif “ adalah suatuistilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif

Sistem integumen atau biasa disebut kulit adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan manusia terhadap lingkungan sekitarnya dan merupakan organ yang paling luas, dimana orang dewasa luasnya mencapai lebih dari 19.000 cm2.

Karena merupakan salah satu again yang terpenting pada tubuh manusia maka seharusnya di perhatiakan tingkat hygianenya.

  • Saran

Pentingnya seorang tenaga kesehatan untuk mengetahui prosedur-prosedur yang perlu di lakukan sebelum pasien di lakukan tindakan operatif khusus system integument

Baik menyangkut kesiapan fisik pasien,kesiapan alat dan sarana,kesiapan mental baik pasien maupun keluarga pasien.

Laporan Hasil Diskusi Studi Kasus Pasien dengan Inkontinensia Urin/ Beser

Mata kuliah : Kep.Medikal Bedah

Semester      : VI( Enam )

Dosen          : jon W. Tangka M.Kep.Sp.KMB

Laporan Hasil Diskusi Studi Kasus

Pasien dengan Inkontinensia Urin/ Beser

OLEH

Kelompok I

v  Sriwinarti Mamonto

v  Ritha Siahaya

v  Niswan Iskandar  Alam

v  Petronela Mamentu

v  Nurherlina Rohayati

v  Soan H. Moniaga

v  Julyet Abdul Haris

v  Meidi L. Panese

v  Ovria Ningsih Ibrahim

v  Irma Hasan

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH

MANADO 2012

Kata Pengantar

Assalammualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah…..

Tiada kata yang paling indah selain puji dan puja syukur kehadirat Allah swt,yang mana dengan limpahan rahmat dan karunia Nya lah sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabiyaullah Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah rela mempetaruhkan harta,jiwa dan raganya untuk membawa umat manusia dari dunia kegelapan menuju dunia yang terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Saya sadari peyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan maka berpegang dari itu semua saya sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca pada umumnya dan dosen bidang studi pada khususnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat menambah referensi kita semua….

“ tak ada gading yang tak retak,tak ada manusia yang sempurna ˝

 

Billahifii sabililhaq fastabiqulkhairat

Wassalammualaikum Wr.Wb

Penyusun

Kelompok I

Daftar Isi

Kata Pengantar           …………………………………………………………………………………..

Daftar Isi                     …………………………………………………………………………………..

Bab I. Pendahuluan    …………………………………………………………………………………..

  1. Latar Belakang…………………………………………………………………………………..
  2. Kasus dan Kata Kunci………………………………………………………………………..

Bab II. Pembahasan    …………………………………………………………………………………..

  1. Definisi inkontinensia…………………………………………………………………………
  2. Fungsi normal kandung kemih……………………………………………………………..
  3. Anatomi dan fisiologi vesika dan uretra………………………………………………..
  4. Jenis – jenis inkontinensia urin……………………………………………………………..
  5. Prevalensi usia dan jenis kelamin yang beresiko menderita inkontinensia…..
  6. Factor resiko inkontinensia urin……………………………………………………………
  7. Etiologi Inkontinensia…………………………………………………………………………
  8. Patofisiologi inkontinensia urin……………………………………………………………
  9. Manifestasi klinis inkontinensia urin……………………………………………………..
  10. Pemeriksaan fisik inkontinensia urin……………………………………………………..
  11. Pemeriksaan diagnostic……………………………………………………………………….
  12. Komplikasi inkontinensia…………………………………………………………………….
  13. Penatalaksanaan inkontinensia……………………………………………………………..
  14. Asuhan Keperawatan Inkontinensia urin……………………………………………….

Bab III. Penutup         …………………………………………………………………………………..

Kesimpulan                 …………………………………………………………………………………..

Daftar Pustaka            …………………………………………………………………………………..

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Inkontinensia urine atau yang dikenal dalam bahasa awam sebagai beser adalah ketidakmampuan menahan air kencing. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan (nulipara). Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik.

Angka kejadian bervariasi, karena banyak yang tidak dilaporkan dan diobati. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 10-12 juta orang dewasa mengalami gangguan ini. Gangguan ini bisa mengenai wanita segala usia. Prevalensi dan berat gangguan meningkat dengan bertambahnnya umur dan paritas. Pada usia 15 tahun atau lebih didapatkan kejadian 10%, sedang pada usia 35-65 tahun mencapai 12%. Prevalansi meningkat sampai 16% pada wanita usia lebih dari 65 tahun. Pada nulipara didapatkan kejadian 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai 10% dan meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak.

Pada wanita umumnya inkontinensia merupakan inkontinensia stres, artinya keluarnya urine semata-mata karena batuk, bersin dan segala gerakan lain dan jarang ditemukan adanya inkontinensia desakan, dimana didapatkan keinginan miksi mendadak. Keinginan ini demikian mendesaknya sehingga sebelum mencapai kamar kecil penderita telah membasahkan celananya. Jenis inkontinensia ini dikenal karena gangguan neuropatik pada kandung kemih. Sistitis yang sering kambuh, juga kelainan anatomik yang dianggap sebagai penyebab inkontinensia stres, dapat menyebabkan inkontinensia desakan. Sering didapati inkontinensia stres dan desakan secara bersamaan.

  1. Kasus

Tn. Z.A, 68 tahun, masuk Rumah Sakit dengan keluhan Kencing tak tertahankan/beser.  Keluhan ini pasien rasa sejak 2 bulan yang lalu setelah menjalani operasi prostat. Dirumah pasien selalu tidak bisa melakukan kencing dikamar mandi sehingga pasien menggunakan pempers. Saat ini pasien terpasang condom kateter. Jumlah urin tertampung pada kantung urin ± 800cc/8jam. Konsistensi urin keruh, bewarna kuning pekat. Hasil laboratorium menunjukan Hb 15,1 gr/dl, Ht 43 %  leukosit 10,6 rb/ul urem darah 23 mg/dl, kreatinin darah 0,6 mg/dl.

v  Kata kunci : kencing tak tertahankan / beser / inkontinensia urin

v  Masalah : beser/ inkontinensia urin pasca operasi prostat

v  Pertanyaan :

  1. Definisi beser/ inkontinensia urin
  2. Fungsi normal kandung kemih dan uretra
  3. Anatomi dan fisiologi vesika dan uretra
  4. Jenis inkontinensia urin
  5. Prevalensi usia dan jenis kelamin yang beresiko menderita inkontinensia
  6. Factor resiko inkontinensia urin
  7. Etiologi inkontinensia
  8. Patofisiologi inkontinensia urin
  9. Manifestasi klinis
  10. Pemeriksaan fisik inkontinensia
  11. Pemeriksaan diagnostic
  12. Komplikasi
  13. Penatalaksanaan inkontinensia
  14. Asuhan Keperawatan Inkontinensia urin

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Definisi

inkontinensia urine adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau social higine dan ekonomi

  1. 2.      Fungsi normal kandung kemih dan uretra

Pada orang dewasa sehat, kerja kandung kemih dapat dibagi dalam dua fase; fase pengisian, dengan kandung kemih berfungsi sebagai reservoar urine yang masuk secara berangsur-angsur dari ureter, dan fase miksi dengan kandung kemih befungsi sebagai pompa serta menuangkan urine melalui uretra dalam waktu relatif singkat.

Pada keadaan normal selama fase pengisian tidak terjadi kebocoran urine, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan intraabdomen meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat atau kencing dan peningkatan isi kandung kemih memperbesar keinginan ini. Pada keadaan normal, dalam hal demikian pun tidak terjadi kebocoran di luar kesadaran.

Pada fase pengosongan, isi seluruh kandung kemih dikosongkan sama sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau memperlambat miksi menurut kehendaknya secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa ingin kencing.

Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase pengisian otot kandung kemih tetap kendor sehingga meskipun volume kandung kemih meningkat, tekanan di dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang merupakan mekanisme penutupan selalu dalam keadaan tegang. Dengan demikian maka uretra tetap tertutup. Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih meningkat karena kontraksi aktif otot-ototnya, sementara terjadi pengendoran mekanisme penutup di dalam uretra. Uretra membuka dan urine memancar keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot kandung kemih dan uretra, baik semasa fase pengisian maupun sewaktu fase pengeluaran. Pada kedua fase itu urine tidak boleh mengalir balik ke dalam ureter (refluks).

  1. 3.      Anatomi dan fisiologi vesika dan uretra

Vesika dan uretra dapat dipandang sebagai suatu kesatuan dengan pertumbuhannya yang berasal dari jaringan sekitar sinus urogenitalis.  Oleh karena itu lapisan otot polos keduanya sama, lapisan dalam merupakan lapisan longitudinal dan lapisan luar membentuk anyaman sirkuler yang mengelilingi lubang urehra. Anyaman sirkuler ini yang berperan pada keadaan tekanan istirahat atau tekanan penutupan dalam uretra. Anyaman otot vesika ini menjadi satu lapisan dengan kelanjutan serabut-serabutnya ditemukan pula di dinding uretra sebagai otot-otot uretra, dikenal sebagai muskulus sfingter vesicae internus atau muskulus lisosfingter. Otot-otot tersebut terletak di bawah lapisan jaringan yang elastis dan tebal dan disebelah luar dilapisi jaringan ikat. Di dalam lapisan elastis yang tebal ditemukan lapisan mukosa dengan jaringan submukosa yang spongius.

Disamping muskulus sfingter vesikae internus dan lebih ke distal sepanjang 2 cm, uretra dilingkari oleh suatu lapisan otot tidak polos dikenal sebagai muskulus sfingter uretra ekstranus atau muskulus rabdosfingter eksternus. Otot ini dapat meningkatkan fungsi sfingter vesika dengan menarik uretra ke arah proksimal sehingga urethra lebih menyempit. Otot-otot polos vesika dan uretra berada dibawah pengaruh saraf para simpatis dan dengan demikian berfungsi serba otonom. Muskulus rabdosfingter merupakan sebagian dari otot-otot dasar panggul sehingga kekuatannya dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan dasar panggul tertentu. Muskulus bulbokaver-norsus dan ishiokavernosus juga dapat aktif ditutup bila vesika penuh dan ada perasaan ingin berkemih, sehingga tidak terjadi inkontinensia

Gambar 1 : A. uretra tertutup B. uretra terbuka

1. Jar. Spongius 2. M. lisosfingter 3. M. Rabdosfingter

(dikutip dari kepustakaan no. 2)

Terdapat 3 komponen anatomis dari mekanisme kontinensia, yaitu penyangga uretra, sfingter internus dan eksternus. Sfingter internus yang terletak setinggi leher vesika, bila terganggu menimbulkan inkontinensia stres walaupun penyangga normal, sedang sfingter eksternus mempunyai kemampuan untuk kontraksi volunteer.

Bila vesika berisi urine maka otot dinding vesika mulai direnggangkan dan perasaan ini disalurkan melalui saraf sensorik ke bagian sakral sumsum tulang belakang. Disini rangsangan disalurkan ke bagian motorik yang kemudian dapat menimbulkan kontraksi ringan pada otot dinding vesika atau muskulus detrusor.

Bila isi vesika hanya sedikit maka kontraksi ringan itu tidak menimbulkan pengeluaran kemih, akan tetapi bila vesika terus direnggangkan maka muskulus detrusor berkontraksi lebih kuat dan urine dikeluarkan dengan deras adalah antara 25-30 cmH2O. Pada keadaan patologik tekanan intravesika itu dapat naik sampai 150-250 cmH2O untuk mengatasi rintangan di sfingter vesikae dan sfingter urethra. Muskulus lisosfingter melingkari bagian atas urethra dan menentukan sudut antara urethra dan dasar vesika. Otot-otot dasar panggul seperti muskulus levator ani ikut menentukan posisi leher vesika. Bila dasar panggul mengendor maka uretra dan leher vesika akan bergeser ke belakang dan vesika dapat dikosongkan. Bila uretra ditarik ke depan maka mulut vesika ditutup.

Pada wanita dalam posisi berdiri, leher vesika terletak di atas lig. pubouretra. Ligamen ini merupakan jaringan fibrous diantara tulang pubis dan jaringan parauretra. Posisi uretra proksimal dan leher vesika adalah mobil dan dipengaruhi oleh muskulus dan relaksasinya pada waktu miksi menghilangkan sudut vesikouretra bagian posterior. Secara klinis hubungan uretra proksimal yang mobil dan dipengaruhi oleh levator ani dengan uretra distal yang terfiksasi terdapat pada separoh panjang uretra dan disebut “lutut uretra”. Daerah ini tempat masuk uretra ke dalam membran perinei dan terfiksasi pada struktur tersebut.

Mekanisme yang berperan dalam penyanggaan leher vesika dan uretra proksimal meliputi 3 struktur yaitu arkus tendineus fasia pelvis, otot levator ani dan fasia endopelvik yang mengelilingi uretra dan vagina.

Tekanan dalam uretra meningkat bila tekanan abdomen meningkat, misalnya pada waktu batuk. Fenomena ini disebut transmisi tekanan. Ini berarti uretra proksimal terletak di atas dasar pelvis. Disini peningkatan tekanan intraabdominal akan menyebabkan peingkatan secara simultan tekanan uretra, sedang di bawah dasar panggul peningkatan tekanan tidak berpengaruh pada uretra. Dengan demikian, inkotinensia stress akan terjadi bila leher vesika turun di bawah dasar pelvis. Pada pelvis bagian depan di dekat uretra, lapisan yang membatasi dinding vagina anterior membentuk fasia endopelvik. Stabilisasi lapisan ini yang menunjukkan dimana uretra dipengaruhi oleh tekanan intraabdominal. Uretra abdominal cenderung bergerak ke dorsal dan kaudal. Gerakan ini dibatasi oleh tahanan pada dinding vagina anterior dan fasia endopelvik.

Inkontinensia stres tidak hanya tergantung pada penyangga elemen fibrous saja, akan tetapi diduga otot lurik, yaitu bagian pubovaginal otot levator ani juga berperanan. Memang otot lurik tidak dapat secara refleks berkontraksi cukup cepat pada keadaan batuk, akan tetapi karena tekanan batuk diteruskan oleh kontraksi otot lurik thorakoabdominopelvik, kontraksi diagfragma pernafasan, interkostal dan otot dinding perut adalah mungkin.

Peningkatan tekanan intraabdominal bisa meningkatkan atau menurunkan aliran urine. Hal ini tergantung pada berkontraksi tidaknya otot levator ani. Posisi leher vesika akan berubah dengan kontraksi dan relaksasi levator ani. Terjadi penebalan jaringan ikat endopelvis yang terletak disekitar leher vesika, disebut ligamen pubovesikal, yang menunjukkan kombinasi muskulus pubovesikal dengan jaringan fibrous yang menyertainya.

Leher vesika dan uretra proksimal turun pada saat mulai miksi. Perubahan posisi ini menyebabkan lig. Pubovesikal menarik leher vesika ke arah lebih anterior, sehingga mempermudah pembukaan. Penutupan leher vesika dapat terjadi dengan kompresi leher vesika melawan lig. pubovesikal ketika posisi retropubik normal.

Pada sfingter interna terdapat beberapa struktur yang dapat mempengaruhi penutupannya. Cekungan bentuk U dari muskulus detrusor (the detrussor loop) mengelilingi bagian anterior leher vesika dan membantu terjadinya penutupan.

Di antara lapisan ini dan lumen uretra terdapat cincin otot polos dan elastis yang dikenal sebagai trigonal ring, yang berfungsi membantu mekanisme penutupan leher vesika.

Aktifitas sfingter eksterna berasal dari 3 elemen yang berbeda. Otot polos, otot lurik dan elemen vaskuler menyokong tekanan penutupan uretra pada keadaan istirahat. Lapisan luar urethra distal dibentuk oleh otot lurik sfingter urethrovaginal atau ke dalam daerah di atas membran perineal sebagai kompresor uretra. Otot ini memelihara tonus kontinensia.

Otot polos uretra terdiri dari lapisan longitudinal dan sirkuler dan terletak di dalam otot lurik sfingter urogenital, terdapat pada 4/5 bagian uretra proksimal. Konfigurasi otot ini berperan dalam konstriksi lumen. Di dalam uretra juga terdapat pleksus vaskuler, yang mempunyai beberapa AV anastomose. Hal ini membantu penutupan urethra.

Gambar 2 : 1. Uretra terbuka, 2. Uretra ditutup dalam posisi berdiri, 3. Uretra ditutup dalam posisi berbaring (dikutip dari kepustakaan no. 2)

Gambar 3 : 1. m. bulbokavernosus, 2. m. iskiokavernosus, keduanya memperkuat

m.rabdosfingter (dikutip dari kepustakaan no. 2)

  1. 4.      Jenis inkontinensia urin

Terdapat beberapa macam klasifikasi inkontinensia urine, di sini hanya dibahas beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu :

A. Inkontinensia stres (Stres Inkontinence)

B. Inkontinensia desakan (Urgency Inkontinence)

C. Inkontinensia luapan (Overflow Incontinence)

D. Fistula urine

  1. Inkontinensia Stres

 

Inkontinensia stres biasanya disebabkan oleh lemahnya mekanisme penutup. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki tangga atau melakukan gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk.

Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanan dalam abdomen dan karena itu juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan keluarlah urine. Kebanyakan keluhan ini progresif perlahan-lahan; kadang terjadi sesudah melahirkan. Akibatnya penderita harus sering menganti pakaian dalam dan bila perlu juga pembalut wanita. Frekuensi berganti pakaian, dan juga jumlah pembalut wanita yang diperlukan setiap hari, merupakan ukuran kegawatan keluhan inkontinensia ini.

Biasanya dalam pemeriksaan badan tidak dijumpai kelainan pada ginjal dan kandung kemih. Pada pemeriksaan vulva ternyata bahwa sewaktu mengejan dapat dilihat dinding depan vagina. Informasi yang penting bisa diperoleh dengan percobaan Marshall-Marchetti. Penderita diminta untuk berkemih di WC sampai habis. Dalam posisi ginekologis dimasukan kateter ke dalam kandung kemih. Ditentukan jumlah urine yang tersisa. Kemudian diikuti oleh pengisian kandung kemih dengan air sampai penderita merasa ingin berkemih. Dengan demikian ditentukan kapasitas kandung kemih. Normalnya seharusnya 400-450 ml. Kemudian dicoba menirukan stres yang mengakibatkan pengeluaran urine dengan meminta penderita batuk. Jika pada posisi berbaring tidak terjadi pengeluaran urine, maka percobaan diulang pada posisi berdiri dengan tungkai dijauhkan satu sama lain.

Pada inkontinensia stres sejati, harus terjadi pengeluaran urine pada saat ini. Kemudian dicoba dengan korentang atau dengan dua jari menekan dinding depan vagina kanan dan kiri sedemikian rupa ke arah kranial sehingga sisto-uretrokel hilang. Penderita diminta batuk lagi. Bila sekarang pengeluaran urine terhenti maka ini menunjukkan penderita akan dapat disembuhkan dengan operasi kelainan yang dideritanya. Pemeriksaan ini dapat ditambah dengan sistometri, sistoskopi serta kalibrasi pada uretra untuk menyingkirkan kemungkinan stenosis.

Pada foto rontgen lateral atas sistogram miksi bisa tampak sudut terbelakang vesikouretra membesar sampai 1800 atau lebih. Normalnya sudut ini sekitar 1200. Gambaran ini menegaskan adanya sistokel pada pemeriksaan badan.

Gambar 4 : Anatomi Sudut Vesikouretra

a. Normal : Sudut vesikouretra 1200

1. simfisi, 2. Uretra, 3. Vesika, 4. Sudut 1200

b. Patologik : Sudut vesikouretra 1800

1. simfisi, 2. Uretra, 3. Vesika, 4. Sudut 1800

Diagnosis dengan pengobatan inkontinensia pada wanita merupakan masalah interdisipliner antara urologi dan ginekologi. Di sini pengambilan keputusan yang tepat setidak-tidaknya sama penting seperti mutu pengobatan. Sering terdapat kelainan ginekologis yang juga harus diobati. Kebanyakan diagnostik yang tepat ditegakkan dari kerjasama yang baik antara urolog dan ginekolog.1Pada inkontinensia stres yang ringan, misalnya yang menghabiskan 3-4 pembalut sehari, penderita bisa memperoleh perbaikan dengan fisioterapi dan senam untuk otot-otot dasar panggul. Pada prinsipnya pengobatan inkontinensia stres bersifat operatif. Dikenal berbagai teknik bedah yang semuanya dapat memberikan perbaikan 80-90 kasus. Semua bentuk operasi ini berlandaskan pada prinsip yang sama yaitu menarik dinding vagina ke arah ventral untuk menghilangkan sistokel dan mengembalikan sudut vesiko-uretral menjadi 1200 seperti semula. Ini dapat terlaksana dengan menjahitkan dinding vagina pada periosteum tulang pubis (teknik Marshall-Marchetti); dengan mengikatkan dinding vagina lebih lateral pada lig. Pouparti (teknik Burch); atau dengan bedah ‘sling’, menarik uretra ke atas memakai selembar fasia atau bahan yang tidak dapat diresorpsi serta diikatkan pada fasia abdominalis.

Biasanya keluhan stres dan desakan bercampur aduk. Dalam keadaan seperti ini, sangat penting diagnostik yang cermat yang juga meliputi sistometri dan pengukuran aliran. Apabila inkontinensia desakan dengan atau tanpa pembentukan sisa urine diobati dengan salah satu bedah plastik suspensi di atas, maka pola keluhan semula dapat lebih mengikat.

Komplikasi terapi bedah inkontinensia stres terutama terdiri dari pembentukan sisa urine segera dalam fase pascabedah. Biasanya masalah ini bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kateterisasi intermiten, dengan karakter yang ditinggalkan atau lebih baik dengan drainase kandung kemih suprapubik. Hal ini memungkinkan pencarian pembentukan sisa urine tanpa kateterisasi. Komplikasi lain biasanya berasal dari indikasi yang salah. Perforasi kandung kemih dengan kebocoran urine, infeksi saluran kemih yang berkepanjangan dan osteitis pubis pada operasi Marshall-Marchetti-Krantz merupakan komplikasi yang jarang terjadi.

  1. Inkontinensia Desakan

Inkontinensia desakan adalah keluarnya urine secara involunter dihubungkan dengan keinginan yang kuat untuk mengosongkannya (urgensi).Biasanya terjadi akibat kandung kemih tak stabil. Sewaktu pengisian, otot detusor berkontraksi tanpa sadar secara spontan maupun karena dirangsang (misalnya batuk). Kandung kemih dengan keadaan semacam ini disebut kandung kemih tak stabil. Biasanya kontraksinya disertai dengan rasa ingin miksi. Gejala gangguan ini yaitu urgensi, frekuensi, nokturia dan nokturnal enuresis.

Penyebab kandung kemih tak stabil adalah idiopatik, diperkirakan didapatkan pada sekitar 10% wanita, akan tetapi hanya sebagian kecil yang menimbulkan inkontinensia karena mekanisme distal masih dapat memelihara inkontinensia pada keadaan kontraksi yang tidak stabil.

Rasa ingin miksi biasanya terjadi, bukan hanya karena detrusor (urgensi motorik), akan tetapi juga akibat fenomena sensorik (urgensi sensorik). Urgensi sensorik terjadi karena adanya faktor iritasi lokal, yang sering dihubungkan dengan gangguan meatus uretra, divertikula uretra, sistitis, uretritis dan infeksi pada vagina dan serviks.Burnett, menyebutkan penyebabnya adalah tumor pada susunan saraf pusat, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, gangguan pada sumsum tulang, tumor/batu pada kandung kemih, sistitis radiasi, sistitis interstisial. Pengobatan ditujukan pada penyebabnya. Sedang urgensi motorik lebih sering dihubungkan dengan terapi suportif, termasuk pemberian sedativa dan antikolinegrik.Pemeriksaan urodinamik yang diperlukan yaitu sistometrik.

  1. Inkontinensia Luapan

Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor.Terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes.

Penyebab kelainan ini berasal dari penyakit neurogen, seperti akibat cedera vertebra, sklerosis multipel, penyakit serebrovaskular, meningomyelokel, trauma kapitis, serta tumor otak dan medula spinalis.

Corak atau sifat gangguan fungsi kandung kemih neurogen dapat berbeda, tergantung pada tempat dan luasnya luka, koordinasi normal antara kandung kemih dan uretra berdasarkan refleks miksi, yang berjalan melalui pusat miksi pada segmen sakral medula spinalis. Baik otot kandung kemih maupun otot polos dan otot lurik pada uretra dihubungkan dengan pusat miksi.

Otot lurik periuretral di dasar panggul yang menjadi bagian penting mekanisme penutupan uretra juga dihubungkan dengan pusat miksi sakral. Dari pusat yang lebih atas di dalam otak diberikan koordinasi ke pusat miksi sakral. Di dalam pusat yang lebih atas ini, sekaligus masuk isyarat mengenai keadaan kandung kemih dan uretra, sehingga rasa ingin miksi disadari.

Refleks miksi juga dipengaruhi melalui pleksus pelvikus oleh persarafan simpatis dari ganglion yang termasuk L1, L2, L3. Pada lesi, dapat terjadi dua jenis gangguan pada fungsi kandung kemih yaitu :

 

  • Lesi Nuklear (tipe LMN)

Pada lesi di pusat sakral yang menyebabkan rusaknya lengkung refleks terjadi kelumpuhan flasid pada kandung kemih dan dasar panggul. Sehingga miksi sebenarnya lenyap.

  • Lesi Supranuklear (Tipe UMN)

Lesi terjadi di atas pusat sakral, dengan pusat miksi sakral dan lengkung refleks yang tetap utuh, maka hilangnya pengaruh pusat yang lebih atas terhadap pusat miksi. Miksi sakral menghilangkan kesadaran atas keadaan kandung kemih. Terjadi refleks kontraksi kandung kemih yang terarah kepada miksi yang otomatis tetapi tidak efisien karena tidak ada koordinasi dari pusat yang lebih atas. Sering kontraksi otot dasar panggul bersamaan waktunya dengan otot kandung kemih sehingga miksi yang baik terhalang. Juga kontraksi otot kandung kemih tidak lengkap sehingga kandung kemih benar-benar dapat dikosongkan.

Gambar 5 : Persarafan kd. Kemih, uretra dan otot-otot periuretral. Otot polos uretra digambar

bertitik ; Otot lurik dasar panggul dan uretra digambar lurik. (dikutip dari

kepustakaan no.2)

Terdapat beberapa macam tes untuk memeriksa aktifitas refleks pada segmen sakral medula spinalis. Bila ada aktifitas sakral, mungkin lesi jenis supranuklear.

- Refleks anus : kulit di dekat anus dirangsang dengan sebuah jarum. Kontraksi pada sfingter anus bagian luar membuktikan bahwa refleks ini ada. Jari yang dimasukan di dalam rektum merasakan bahwa sfinger anus menegang.

- Refleks bulbokavernosus : sewaktu klitoris dipijit pada pemeriksaan rektal terjadi kontraksi otot bulbo dan iskiokavernosus.

- Refleks ketok abdomen : ketokan pada dinding perut diatas simfisis menyebabkan tegangnya sfingter ani. Ini dapat diraba dengan jari didalam rektrum.

- Tes air es : kandung kemih dikosongkan dengan kateter, lalu diisi 60-90 ml air es. Jika dalam waktu satu menit kateter beserta air es tertekan keluar lagi, terbukti adanya gangguan fungi kandung kemih jenis supranuklear.

  1. Fistula urine

 

Fistula urine sebagian besar akibat persalinan, dapat terjadi langsung pada waktu tindakan operatif seperti seksio sesar, perforasi dan kranioklasi, dekapitasi, atau ekstraksi dengan cunam. Dapat juga timbul beberapa hari sesudah partus lama, yang disebabkan karena tekanan kepala janin terlalu lama pada jaringan jalan lahir di tulang pubis dan simfisis, sehingga menimbulkan iskemia dan kematian jaringan di jalan lahir.

Operasi ginekologis seperti histerektomi abdominal dan vaginal, operasi plastik pervaginam, operasi radikal untuk karsinoma serviks uteri, semuanya dapat menimbulkan fistula traumatik. Tes sederhana untuk membantu diagnosis ialah dengan memasukan metilen biru 30 ml kedalam rongga vesika. Akan tampak metilen biru keluar dari fistula ke dalam vagina.

Untuk memperbaiki fistula vesikovaginalis umumnya dilakukan operasi melalui vagina (transvaginal), karena lebih mudah dan komplikasi kecil. Bila ditemukan fistula yang terjadi pasca persalinan atau beberapa hari pascah bedah, maka penanganannya harus ditunda tiga bulan. Bila jaringan sekitar fistula sudah tenang dan normal kembali operasi baru dapat dilakukan.

 

  1. 5.      Prevalensi usia dan jenis kelamin yang beresiko menderita inkontinensia urin

Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar antara 15–30% usia lanjut di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan bertambah berat inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun. Masalah inkontinensia urin ini angka kejadiannya meningkat dua kali lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan (nulipara). Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik.

Tidak hanya diderita anak – anak, mengompol atau beser juga dialami orang dewasa. Istilah medisnya adalah inkontinensia urine, yang artinya adalah pengeluaran urine di saat yang tidak diinginkan. Data dari International Continence Society menyebutkan, sekitar 250 juta orang wanita dan 98 juta pria di seluruh dunia telah menderita gangguan ini. Prevalensi Inkontinensia urine pada wanita di dunia berkisar antara 10 – 58%, sedang di Eropa dan Amerika berkisar antara 29,4%. Menurut APCAB (Asia Pacific Continence Advisor Board) tahun 1998 menetapkan prevalensi Inkontinensia Urine 14,6% pada Wanita Asia, sedangkan Wanita Indonesia 5,8% (gambar 1). Prevalensi pada Pria Asia berdasar survei dari APCAB (Asia Pacific Continence Advisor Board) sekitar 6,8%,  sedangkan untuk Pria Indonesia 5% (gambar 2). Secara umum, prevalensi Inkontinensia Urine pada pria hanya separuh dari wanita, prevalensi di Asia relative rendah karena pandangan orang Asia bahwa Inkontinensia Urine merupakan hal yang memalukan, dianggap tabu oleh beberapa orang, sehingga tidak dikeluhkan pada dokter.  Prevalensi Inkontinensia Urine pada wanita manula 35-45%. Survei Inkontinensia Urine yang dilakukan oleh Departemen Urologi FK Unair-RSU Dr. Soetomo tahun 2008 terhadap 793 penderita, prevalensi Inkontinensia Urine pada Pria 3,02% sedangkan pada Wanita 6,79%. Di sini menunjukkan bahwa prevalensi Inkontinensia Urine pada wanita lebih tinggi daripada pria.

  1. 6.      Factor resiko inkontinensia

Faktor resiko terjadinya Inkontinensia Urine antara lain: jenis kelamin wanita, usia tua, paritas tinggi, menopause, pernah dilakukan histerektomi, menggunakan toilet duduk, gangguan neurologis, trauma pada pelvis,pernah dilakukan radiasi, difisit nutrisi, obesitas, perokok, minum alkohol, intake cairan berlebihan atau kurangnya aktifitas dan pasca operasi prostat.

Pada wanita mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena Inkontinensia Urine, bila dibandingkan pada pria.Pada penuaan berkaitan dengan banyak perubahan pada fisiologis seperti hilangnya kemampuan otot lurik pada daerah urethra serta berkurangnya kapasitas dalam kandung kemih yang mengarah terjadinya Inkontinensia Urine.

Kehamilan, melahirkan banyak anak, dan mengejan sewaktu melahirkan bersama-sama dengan laserasi dan episiotomi pada waktu melahirkan menyebabkan hipermobilitas urethra, trauma pada persarafan dan  disfungsi dasar panggul. Ini yang melatarbelakangi hubungan korelasi antara banyaknya melahirkan anak dengan resiko terjadinya Inkontinensia Urine pada wanita. 

Perubahan hormonal pada menopause sangat mempengaruhi kedap air pada lapisan submukosa urethra, dengan demikian wanita menopause lebih rentan terhadap Inkontinensia Urine bila dibandingkan wanita sebelum menopause.

Pada obesitas, juga merupakan salah satu faktor terjadinya Inkontinensia Urine karena beban kerja dasar panggul pada orang-orang kelebihan berat badan, lebih besar daripada orang yang kurus.

Pada orang – orang yang menggunakan toilet jongkok juga lebih rendah kemungkinan terjadinya Inkontinensia Urine daripada orang yang menggunakan toilet duduk. Hal ini mungkin bisa disebabkan karena adanya latihan pada dasar panggul, sehingga otot dasar panggul menjadi lebih kuat.

Kebanyakan pria mengalami pembesaran prostat seiring bertambahnya usia. Hal ini dapat memblokir uretra dan menyebabkan beser berupa kebocoran sejumlah kecil urine atau kesulitan buang air kecil.

Pengangkatan prostat akibat kanker juga dapat merusak atau melemahkan otot dasar panggul dan saraf di sekitar kandung kemih. Hal ini menyebabkan kebocoran segera setelah operasi pada setengah pria yang melakukan operasi kanker prostat. Satu dari lima orang pria mengalami masalah itu setahun kemudian atau lebih.

Inilah salah satu alasan dokter sering menyarankan untuk memperlambat pertumbuhan kanker prostat daripada melakukan operasi, kata Dr. Steers. Menunda operasi juga dapat membantu Anda menghindari disfungsi ereksi.

  1. 7.      Etiologi inkontinensia

Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.

Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya. Nah, obat-obatan ini bisa sebagai ‘biang keladi’ mengompol pada orang-orang tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat. Golongan obat yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein dan alcohol juga berperan dalam terjadinya mengompol. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

 

  1. 8.      Patofisiologi inkontinensia urin

Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih, kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia.

  1. 9.      Manifestasi klinis
  • Urgensi
  • Retensi
  • Kebocoran urine
  • Frekuensi
  1. 10.  Pemeriksaan fisik inkontinensia

 

Pemeriksaan fisik yang lengkap meliputi pemeriksaan abdomen, vaginal, pelvis, rektal dan penilaian neurologis. Pada pemeriksaan abdomen bisa didapatkan distensi kandung kemih, yang menunjukkan suatu inkontinensia luapan, dan dikonfirmasi dengan kateterisasi. Inspekulo bisa tampak prolaps genital, sistokel dan rektokel. Adanya urine dalam vagina terutama pasca histerektomi mungkin mengetahui adanya massa pelvis.

Test sederhana dapat dikerjakan setelah pemeriksaan fisik untuk membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya. Test Q-tip (‘the cotton swab test’), merupakan test sederhana untuk menunjukan adanya inkontinensia stres sejati. Penderita disuruh mengosongkan kandung kemihnya, urine ditampung. Kemudian spesimen urine diambil dengan kateterisasi. Jumlah urine dari kencing dan kateter merupakan volume kandung kemih. Volume residual menguatkan diagnosis inkontinensia luapan. Spesimen urine dikirim ke laboratorium. Test diagnostik lanjut yaitu sistourethroskopi dan diagnostik imaging. Sistourethroskopi dikerjakan dengan anestesi umum maupun tanpa anestesi, dapat dilihat keadaan patologi seperti fistula, ureter ektopik maupun divertikulum. Test urodinamik meliputi uroflowmetri dan sistometri. Sistometri merupakan test yang paling penting, karena dapat menunjukan keadaan kandung kemih yang hiperaktif, normal maupun hipoaktif. Diagnostik imaging meliputi USG, CT scan dan IVP yang digunakan untuk mengidentifikasi kelainan patologi (seperti fistel/tumor) dan kelainan anatomi (ureter ektopik). Test tambahan yang diperlukan untuk evaluasi diagnostik yaitu ‘Pessary Pad Test’. Penderita minum 500 ml air selama 15 menit untuk mengisi kandung kemih. Setelah ½ jam, penderita melakukan latihan selama 45 menit dengan cara : berdiri dari duduk (10 kali), batuk (10 kali), joging di tempat (11 kali), mengambil benda dari lantai (5 kali), dan mencuci tangan dari air mengalir selama 1 menit. Test positif bila berat Pad sama atau lebih besar dari 1g. Test ini dapat menunjukan adanya inkontinesia stres hanya bila tidak didapatkan kandung kemih yang tidak stabil.

  1. 11.  Pemeriksaan Diagnostik
  1. Pengkajian fungsi otot destrusor
    2.  Radiologi dan pemeriksaan fisik ( mengetahui tingkat keparahan / kelainan dasar panggul )
    3. Cystometrogram dan elektromyogram
  1. 12.  komplikasi

Berbagai komplikasi dapat menyertai Inkontinensia Urine seperti infeksi saluran kencing, infeksi kulit daerah kemaluan, gangguan tidur, masalah psiko sosial seperti depresi, mudah marah, dan rasa terisolasi, secara tidak langsung masalah tersebut dapat menyebabkan dehidrasi, karena umumnya pasien mengurangi minum, karena kawatir terjadi Inkontinensia Urine, pada pasien yang kurang aktifitas hanya berbaring di tempat tidur dapat menyebabkan ulkus dikubitus dan dapat meningkatkan resiko infeksi lokal termasuk osteomyelitis dan sepsis. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah Inkontinensia Urine, berupa medikamentosa, fisioterapi, maupun pembedahan, jika dapat diketahui dengan tepat jenis dan penyebab Inkontinensia Urine.

  1. 13.  Penatalaksanaan inkontinensia
  1. Penanganan konservatif

Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi. Akan tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif. Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling populer, selain itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan pemakaian alat mekanis.

Latihan Otot Dasar Pinggul (‘Pelvic Floor Exercises’)

Kontinensia dipengaruhi oleh aktifitas otot lurik urethra dan dasar pelvis. Fisioterapi meningkatkan efektifitas otot ini. Otot dasar panggul membantu penutupan urethra pada keadaan yang membutuhkan ketahanan urethra misalnya pada waktu batuk. Juga dapat mengangkat sambungan urethrovesikal kedalam daerah yang ditransmisi tekanan abdomen dan berkontraksi secara reflek dengan peningkatan tekanan intraabdominal, perubahan posisi dan pengisian kandug kemih.

Pada inkompeten sfingter uretra, terdapat hilangnya transmisi tekanan abdominal pada uretra proksimal. Fisio terapi membantu meningkatkan tonus dan kekuatan otot lurik uretra dan periuretra.

Pada kandung kemih neurogrik, latihan kandung kemih (‘bladder training) telah menunjukan hasil yang efektif.Latihan kandung kemih adalah upaya melatih kandung kemih dengan cara konservatif, sehingga secara fungsional kandung kemih tersebut kembali normal dari keadaannya yang abnormal.

Langkah-langkah LKK(Latihan kandung kecing) :

- Tentukan tipe kandung kemih neurogenik

- Tiap waktu miksi dimulai dengan stimulasi :

Tipe UMN : Menepuk paha dalam, menarik rambut daerah pubis,

masukkan jari pada rektum.

Tipe LMN : Metode Crade atau manuver valsava.

- Kateterisasi : kateter menetap atau berkala.

  1. Obat-obatan

a. Alfa Adrenergik Agonis

Otot leher vesika dan uretha proksimal megandung alfa adrenoseptor yang menghasilkan kontraksi otot polos dan peningkatan tekanan penutupan urethra obat aktif agonis alfa-reseptor bisa menghasilkan tipe stmulasi ini dengan efek samping relatif ringan..

b. Efedrin

Efek langsung merangsang alfa sebaik beta-adrenoseptor dan juga melepaskan noradrenalin dari saraf terminal obat ini juga dilaporkan efektif pada inkotinensia stres.Efek samping menigkatkan tekanan darah, kecemasan dan insomnia oleh karena stimulasi SSP

c. Phenylpropanololamine

PPA (Phenylpropanololamine) efek stimulasi perifer sebanding dengan efedrin, akan tetapi dengan efek CNS yang terkecil. PPA adalah komponen utama obat influensa dalam kombinasi dengan antihistamin dan anthikholinergik. Dosis 50 mg dua kali sehari. Efek samping minimal. Didapatkan 59 % penderita inkontinensia stres mengalami perbaikan.

d. Estrogen

Penggunaannya masih kontroversi. Beberapa penelitian menunjukkan efek meningkatkan transmisi tekanan intra abdominal pada uretra dengan estrogen dosis tinggi oral dan intravaginal. Estrogen biasanya diberikan setelah tindakan bedah pada inkontinensia dengan tujuan untuk memperbaiki vaskularisasi dan penyembuhan jaringan urogential, walaupun belum ada data yang akurat.

  1. Stimulasi Elektrik

 

Metode ini paling sedikit diterima dalam terapi walaupun sudah rutin digunakan selama 2 dekade. Prinsip stimulasi elektrik adalah menghasilkan kontraksi otot lurik uretra dan parauretra dengan memakai implant/non-implant (anal atau vaginal) elektrode untuk meningkatkan tekanan uretra. Aplikasi stimulasi dengan kekuatan rendah selama beberapa jam per hari selama beberapa bulan. Terdapat 64 % perbaikan penderita dengan cara implant, tapi metode ini tidak populer karena sering terjadi efek mekanis dan morbiditas karena infeksi. Sedang stimulasi non-implant terdiri dari generator mini yang digerakkan dengan baterai dan dapat dibawa dalam pakaian penderita dan dihubungkan dengan elektrode anal/vaginal. Bentuk elektrode vaginal : ring, Hodge pessary, silindris.

 

 

 

 

  1. Alat Mekanis (‘Mechanical Devices’)

Tampon : Tampon dapat membantu pada inkontinensia stres terutama bila kebocoran hanya terjadi intermitten misal pada waktu latihan. Penggunaan terus menerus dapat menyebabkan vagina kering/luka.

Edward Spring : Dipasang intravagina. Terdapat 70 % perbaikan pada penderita dg inkontinensia stres dengan pengobatan 5 bulan. Kerugian terjadi ulserasi vagina.

Bonnas’s Device: Terbuat dari bahan lateks yang dapat ditiup. Bila ditiup dapat mengangkat sambungan urethrovesikal dan urethra proksimal.

  1. Penanganan Operatif

Penatalaksanaan stres inkontinensia urine secara operatif dapat dilakukan dengan beberapa cara meliputi :

1. Kolporafi anterior

2. Uretropeksi retropubik

3. Prosedur jarum

4. Prosedur sling pubovaginal

5. Periuretral bulking agent 6. Tension vaginal tape (TVT)

ASUHAN KEPERAWATAN INKONTINENSIA URIN

Inkontinensia urine merupakan pelepasan urine secara tidak terkontrol dalam jumlah yang cukup banyak, Sehingga dapat dianggap merupakan masalah bagi seseorang.

Bentuk-bentuk inkontinensia urine :

1. Inkontinensia urine fungsional :

Keadaan ketika individu mengalami inkontinensia karena kesulitan dalam mencapai atau ketidakmampuan untuk mencapai toilet sebelum berkemih.

Batasan karakteristik :

• Data mayor(harus terdapat)

Inkontinensia sebelum atau selama usaha mencapai toilet.

2. Inkontinensia urine reflex :

Keadaan ketika individu mengalami pengeluaran urine involunter yang dapat diprediksi tanpa sensasi dorongan, berkemih, atau kandung kemih penuh.

Batasan karakteristik :

  • • Data mayor(harus terdapat, satu atau lebih)
    • Kontraksi kandung kemih tidak terlambat
    • Reflek involunter menghasilkan kandung kemih spontan
    • Kehilangan sensasi penuh kandung kemih atau desakan berkemih sebagian atau komplet.

3. Inkontinensia urine stress :

Keadaan ketika individu mengalami pengeluaran urine involunter segera pada peningkatan tekanan intraabdominal.

Batasan karakteristik :

• Data mayor(harus terdapat)

Individu melaporkan penurunan urine(biasanya kurang dari 50 cc) yang terjadi karena peningkatan tekanan abdominal akibat berdiri, bersin, batuk, berlari, atau mengangkat beban berat.

  1. Inkontinensia urine total :

Keadaan ketika individu mengalami urine terus menerus yang tidak dapat di perkirakan, tanpa distensi atau tidak menyadari kandung kemih penuh.
Batasan karakteristik :

  • • Data mayor(harus terdapat)
    • Aliran konstan dari urine tanpa distensi
    • Nokturia lebih dari 2 kali selama tidur
    • Refraktori inkontinensia pada tindakan lain

• Data minor(mungkin terdapat)
Tidak menyadari isyarat kadung kemihuntuk berkemih
Tidak menyadari inkontinensia

5. Inkontinensia urine dorongan :
Keadaan ketika individu mengalami pengeluaran urine involunter yang dihubungkan dengan keinginan kuat dan tiba-tiba untuk berkemih.
Batasan karakteristik :
• Data mayor(harus terdapat)
Dorongan diikuti inkontinensia.

  1. PENGKAJIAN

a. Identitas klien

inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia (usia ke atas 65 tahun), dengan jenis kelamin perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan lansia laki-laki juga beresiko mengalaminya.

b. Riwayat kesehatan

Ø Riwayat kesehatan sekarang

Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini. Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia (stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi. Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelum terjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.

Ø Riwayat kesehatan klien

Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan apakah dirawat dirumah sakit.

Ø Riwayat kesehatan keluarga

Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit ginjal bawaan/bukan bawaan.

c. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum

Klien tampak lemas dan tanda tanda vital terjadi peningkatan karena respon dari terjadinya inkontinensia

Pemeriksaan Sistem :

a. B1 (breathing)

Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis karena suplai oksigen menurun. kaji ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi.

b. B2 (blood)

Peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah

c. B3 (brain)

Kesadaran biasanya sadar penuh

d. B4 (bladder)

Inspeksi :periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluarnya darah apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi pada meatus uretra,banyak kencing dan nyeri saat berkemih menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter sebelumnya.

Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa terbakar di urera luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing.

e. B5 (bowel)

Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya nyeri tekan abdomen, adanya ketidaknormalan perkusi, adanya ketidaknormalan palpasi pada ginjal.

f. B6 (bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian.
d. Data penunjang
a. Urinalisis
o Hematuria.
o Poliuria
o Bakteriuria.
b. Pemeriksaan Radiografi
o IVP (intravenous pyelographi), memprediksi lokasi ginjal dan ureter.
o VCUG (Voiding Cystoufetherogram), mengkaji ukuran, bentuk, dan fungsi VU, melihat adanya obstruksi (terutama obstruksi prostat), mengkaji PVR (Post Voiding Residual).
c. Kultur Urine
o Steril.
o Pertumbuhan tak bermakna ( 100.000 koloni / ml).
o Organisme.

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien inkontinensia adalah sebagai berikut :

1. Inkonteninsia stress berhubungan dengan kelemahan otot pelvis dan struktur dasar penyokongnya.
2. Inkontinensia Urine : Refleks yang berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih
3. Inkontinensia Urine : Dorongan yang berhubungan dengan gangguan implus eferen inhibitor sekunder akibat disfungsi otak atau medulla spinalis

4. Resiko disrefleksia yang berhubungan dengan stimulasi reflex dari system saraf simpatis sekunder akibat kehilangan control autonomic

  1. Resiko Kerusakan Integitas kulit yang berhubungan dengan irigasi konstan oleh urine
    7. Resiko Isolasi Sosial berhubungan dengan keadaan yang memalukan akibat mengompol di depan orang lain atau takut bau urine

8. Resiko ketidakefektifan penatalaksaan program terapeutik yang berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tenttang penyebab inkontinen, penatalaksaan, progam latihan pemulihan kandung kemih, tanda dan gejala komplikasi, serta sumbe komonitas.

  1. INTERVENSI

1. Diagnosa I

Inkonteninsia berhubungan dengan kelemahan otot pelvis

Tujuan :

• Klien akan bisa melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkonteninsia
• Klien dapat menjelaskan penyebab inkonteninsia dan rasional penatalaksanaan.

Intervensi :

o Kaji kebiasaan pola berkemih dan dan gunakan catatan berkemih sehari,
o Pertahankan catatan harian untuk mengkaji efektifitas program yang direncanakan.
o Obserpasi meatus perkemihan untuk memeriksa kebocoran saat kandung kemih.
o Intruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran, ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak ada kebocoranyang lebih dulu.

o Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi.

o Ajarkan klien untuk mengidentifikasi otot dinding pelvis dan kekuatannya dengan latihan
o Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi inkonteninsia.

2. Diagnosa 2

Resiko infeksi b.d inkontinensia, imobilitas dalam waktu yang lama.
Tujuan :

Berkemih dengan urine jernih tanpa ketidaknyamanan, urinalisis dalam batas normal, kultur urine menunjukkan tidak adanya bakteri.

Intervensi :

a. Berikan perawatan perineal dengan air sabun setiap shift. Jika pasien inkontinensia, cuci daerah perineal sesegera mungkin.

R: Untuk mencegah kontaminasi uretra.

b. Jika di pasang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2x sehari (merupakan bagian dari waktu mandi pagi dan pada waktu akan tidur) dan setelah buang air besar.

R: Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan.

c. Ikuti kewaspadaan umum (cuci tangan sebelum dan sesudah kontak langsung, pemakaian sarung tangan), bila kontak dengan cairan tubuh atau darah yang terjadi (memberikan perawatan perianal, pengososngan kantung drainse urine, penampungan spesimen urine). Pertahankan teknik asepsis bila melakukan kateterisasi, bila mengambil contoh urine dari kateter indwelling.

R: Untuk mencegah kontaminasi silang.

d. Kecuali dikontraindikasikan, ubah posisi pasien setiap 2jam dan anjurkan masukan sekurang-kurangnya 2400 ml / hari. Bantu melakukan ambulasi sesuai dengan kebutuhan.

R: Untuk mencegah stasis urine.

e. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine.

§ Tingkatkan masukan sari buah berri.

§ Berikan obat-obat, untuk meningkatkan asam urine.

R: Asam urine menghalangi tumbuhnya kuman. Karena jumlah sari buah berri diperlukan untuk mencapai dan memelihara keasaman urine. Peningkatan masukan cairan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan infeksi saluran kemih.

3. Diagnosa 3

Resiko Kerusakan Integitas kulit yang berhubungan dengan irigasi konstan oleh urine
Tujuan :
§ Jumlah bakteri < 100.000 / ml.
§ Kulit periostomal tetap utuh.
§ Suhu 37° C.
§ Urine jernih dengan sedimen minimal.

Intervensi :

a. Pantau penampilan kulit periostomal setiap 8jam.

R: Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
b. Ganti wafer stomehesif setiap minggu atau bila bocor terdeteksi. Yakinkan kulit bersih dan kering sebelum memasang wafer yang baru. Potong lubang wafer kira-kira setengah inci lebih besar dar diameter stoma untuk menjamin ketepatan ukuran kantung yang benar-benar menutupi kulit periostomal. Kosongkan kantung urostomi bila telah seperempat sampai setengah penuh.

R: Peningkatan berat urine dapat merusak segel periostomal, memungkinkan kebocoran urine. Pemajanan menetap pada kulit periostomal terhadap asam urine dapat menyebabkan kerusakan kulit dan peningkatan resiko infeksi.

  1. Diagnosa 4

Resiko Isolasi Sosial berhubungan dengan keadaan yang memalukan akibat mengompol di depan orang lain atau takut bau urine

Intervensi :

a. Yakinkan apakah konseling dilakukan dan atau perlu diversi urinaria, diskusikan pada saat pertama.

R: Memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan pasien / orang terdekat tentang situasi individu dan Pasien menerimanya(contoh; inkontinensia tak sembuh, infeksi)

b. Dorong pasien / orang terdekat untuk mengatakan perasaan. Akui kenormalan perasaan marah, depresi, dan kedudukan karena kehilangan. Diskusikan “peningkatan dan penurunan” tiap hari yang dapat terjadi setelah pulang.

R: Memberikan kesempatan menerima isu / salah konsep. Membantu pasien / orang terdekat menyadari bahwa perasaan yang dialami tidak biasa dan bahwa perasaan bersalah pada mereka

tidak perlu / membantu. Pasien perlu mengenali perasaan sebelum mereka dapat menerimanya secara efektif.

c. Perhatikan perilaku menarik diri, peningkatan ketergantungan, manipulasi atau tidak terlibat pada asuhan.

R: Dugaan masalah pada penyesuaian yang memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih efektif. Dapat menunjukkan respon kedukaan terhadap kehilangan bagian / fungsi tubuh dan kawatir terhadap penerimaan orang lain, juga rasa takut akan ketidakmampuan yang akan datang / kehilangan selanjutnya pada hidup karena kanker.

d. Berikan kesempatan untuk pasien / orang terdekat untuk memandang dan menyentuh stoma, gunakan kesempatan untuk memberikan tanda positif penyembuhan, penampilan, normal, dsb.

R: Meskipun integrasi stoma ke dalam citra tubuh memerlukan waktu berbulan-bulan / tahunan, melihat stoma dan mendengar komentar (dibuat dengan cara normal, nyata) dapat membantu pasien dalam penerimaan ini. Menyentuh stoma meyakinkan klien / orang terdekat bahwa stoma tidak rapuh dan sedikit gerakan stoma secara nyata menunjukkan peristaltic normal.

e. Berikan kesempatan pada klien untuk menerima keadaannya melalui partisipasi dalam perawatan diri.

R: Kemandirian dalam perawatan memperbaiki harga diri.

f. Pertahankan pendekatan positif, selama aktivitas perawatan, menghindari ekspresi menghina atau reaksi mendadak. Jangan menerima ekspresi kemarahan pasien secara pribadi.

R: Membantu pasien / orang terdekat menerima perubahan tubuh dan menerima akan diri sendiri. Marah paling sering ditunjukkan pada situasi dan kurang kontrol terhadap apa yang terjadi (tidak terduga), bukan pada pemberi asuhan.

g. Rencanakan / jadwalkan aktivitas asuhan dengan orang lain.

R: Meningkatkan rasa kontrol dan memberikan pesan bahwa pasien dapat mengatasinya, meningkatkan harga diri.

h. Diskusikan fungsi seksual dan implan penis, bila ada dan alternatif cara pemuasan seksual.
R: Pasien mengalami ansietas diantisipasi, takut gagal dalam hubungan seksual setelah pembedahan, biasanya karena pengabaian, kurang pengetahuan. Pembedahan yang mengangkat kandung kemih dan prostat (diangkat dengan kandung kemih) dapat mengganggu syaraf parasimpatis yang mengontrol ereksi pria, meskipun teknik terbaru ada yang digunakan pada kasus individu untuk mempertahankan syaraf ini.

5. Diagnosa 5

Resiko ketidakefektifan penatalaksaan program terapeutik yang berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan tenttang penyebab inkontinen, penatalaksaan, progam latihan pemulihan kandung kemih, tanda dan gejala komplikasi, serta sumbe komonitas
Tujuan :

§ Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, dan macam terapeutik.
§ Keluhan berkurang tentang cemas atau gugup.

§ Ekspresi wajah rileks.

Intervensi :

a. Berikan kesempatan kepada klien dan orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan dan harapannya. Perbaiki konsep yang salah.

R: Kemapuan pemecahan masalah pasien ditingkatkan bila lingkungan nyaman dan mendukung diberikan.

b. Berikan informasi tentang:

§ Sifat penyakit.

§ Deskripsi singkat tentang tidur.

§ Pemeriksaan setelah perawatan.

Bila informasi harus diberikan selama episode nyeri, pertahankan intruksi dan penjelasan singkat dan sederhana. Berikan informasi lebih detail bila nyeri terkontrol. R: Pengetahuan apa yang akan dirasakan membantu mengurangi ansietas, nyeri mempengaruhi proses belajar.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan kencing. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik, dengan beberapa prosedur diagnostik yang diperlukan mempunyai hasil yang baik untuk menegakkan diagnosis gangguan ini. Jenis inkontinensia urine yang utama yaitu inkontinensia stres, desakan, luapan dan fistula urine. Penatalaksanaan konservatif dilakukan pada kasus inkompetem sfingter uretra sebelum terapi bedah. Bila dasar inkontinensia neurogen atau mental maka pengobatan disesuaikan dengan faktor penyebab.

Daftar Pustaka

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal

alhamdulillah akhirnya bisa merampungkan ASKEP trauma ginjal juga……..susah n kewalahan banget nyari bahannya yang minim di internet……….belajar dari situ nis nda pengen teman-teman juga rasain seperti itu, jadi begitu kelar langsung niat dalam hati harus di masukin k blog ku biar membantu teman – teman yang juga sama2 menempuh kuliah di jurusan keperawatan….semoga tulisan ini dapat menambah referensi kita :)

Mata kuliah : Keperawatan Medikal Bedah

Semester      : VI( Enam )

Dosen          : Nurseha Djafar,S.Kep.Ns

ASUHAN KEPERAWATAN

TRAUMA GINJAL

OLEH

Kelompok III

v Niswan Iskandar Alam

v Mustikawati R. Kasiru

v Lispitasari Andiani

v Windra Oktaviani Ibrahim

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH

MANADO 2012

Kata Pengantar

Assalammualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah…..

Tiada kata yang paling indah selain puji dan puja syukur kehadirat Allah swt,yang mana dengan limpahan rahmat dan karunia Nya lah sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabiyaullah Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah rela mempetaruhkan harta,jiwa dan raganya untuk membawa umat manusia dari dunia kegelapan menuju dunia yang terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Saya sadari peyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan maka berpegang dari itu semua saya sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca pada umumnya dan dosen bidang studi pada khususnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat menambah referensi kita semua….

“ tak ada gading yang tak retak,tak ada manusia yang sempurna ˝

 

Billahifii sabililhaq fastabiqulkhairat

Wassalammualaikum Wr.Wb

 

Penyusun

Kelompok III

Daftar Isi

Kata pengantar                                                                                                                i

Daftar Isi                                                                                                                         ii

BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………………………………………. 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………. 1
  2. Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………………… 2
  3. Metode Penulisan………………………………………………………………………………….. 2

BAB II. KAJIAN TEORI

  1. Definisi…………………………………………………………………………………………… 3
  2. Anatomi Ginjal………………………………………………………………………………… 3
  3. Fisiologi Ginjal………………………………………………………………………………… 4
  4. Etiologi…………………………………………………………………………………………… 6
  5. Patofisiologi…………………………………………………………………………………….. 8
  6. Manifestasi Klinis…………………………………………………………………………….. 9
  7. Penatalaksanaan……………………………………………………………………………… 10
  8. Asuhan Keperawatan……………………………………………………………………….. 10
    1. Pengkajian………………………………………………………………………………… 10
    2. 11 Pola Gordon…………………………………………………………………………. 11
    3. Pemeriksaan Fisik……………………………………………………………………………. 12
    4. Pemeriksaan Penunjang……………………………………………………………………. 14
    5. Pengelompokkan Data……………………………………………………………………… 17
    6. Analisa Data…………………………………………………………………………………… 18
    7. Penyimpangan KDM ( Patoflow )………………………………………………………. 19
    8. Diagnosa………………………………………………………………………………………… 20
    9. Perencanaan…………………………………………………………………………………… 20

BAB III. PENUTUP

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………………. 23

Daftar Pustaka                                                                                                                iii

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Walaupun sering di anggap hanya sebagai suatu organ yang diperlukan untuk mengeluarkan sisa – sisa metabolisme, ginjal sebenarnya memiliki fungsi yang jauh lebih banyak. Ginjal penting untuk mempertahankan keseimbangan air, garam dan elektrolit dan merupakan suatu kelenjar endokrin yang mengeluarkan paling sedikit 3 hormon.ginjal membantu mengontrol tekanan darah dan sangat rentan mengalami kerusakan apabila tekanan darah terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Secara anatomis organ urogenital terletak sebagian besar di rongga ekstraperitoneal kecuali genitalia eksterna, dan terlindung oleh otot-otot dan organ-organ disekitarnya. Sehingga apabila didapatkan cedera pada organ-organ urogenital perlu diperhatikan juga kemungkinan cedera organ-organ disekitanya. Saluran urogenital (termasuk ginjal, ureter, kandung kemih, uretra) dapat mengalami trauma karena luka tembus, trauma tumpul, penyinaran maupun cedera Latrogenic akibat tindakan dokter pada saat operasi atau petugas medik lain.

Gejala yang paling banyak ditemukan adalah adanya darah pada urin (hematuria), berkurangnya proses berkemih dan nyeri. Karena cedera atau trauma, limbah metabolic yang seharusnya dapat dibuang lewat saluran kemih akan terganggu dan dapat berakibat fatal. Diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat mengurangi atau meminimalkan kerusakan menetap pada saluran kemih.

  1. Tujuan penulisan
  1.  Tujuan umum

Untuk mengetahui factor resiko terjadinya trauma ginjal

  1. Tujuan khusus
  1. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi trauma ginjal
  2. Mahasiswa dapat mengetahui jenis – jenis trauma ginjal
  3. Mahasiswa dapat mengetahui penyimpangan KDM yang di timbulkan akibat trauma ginjal
  4. Mahasiswa dapat mengetahui penegakkan diagnose keperawatan yang actual maupun resiko
  1. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode :

1. Research library yaitu pengambilan sumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan atau studi pustaka.

2. Web search yaitu ialah pengambilan sumber dari internet yang ada hubunganya dengan materi pemeriksaan diagnostic system renal.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. 1.                  Definisi

Definisi   Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai macam rudapaksa baik tumpul maupun tajam.

  1. 2.                  Anatomi Ginjal

a) Makroskopis

Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium, didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor). Ginjal pada orang dewasa penjangnya sampai 13 cm, lebarnya 6 cm dan berat kedua ginjal kurang dari 1% berat seluruh tubuh atau ginjal beratnya antara 120-150 gram. Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada 2 buah yaitu kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Potongan longitudinal ginjal memperlihatkan dua daerah yang berbeda yaitu korteks dan medulla. Medulla terbagi menjadi baji segitiga yang disebut piramid. Piramid-piramid tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan tersusun dari segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papila atau apeks dari tiap piramid membentuk duktus papilaris bellini yang terbentuk dari kesatuan bagian terminal dari banyak duktus pengumpul (Price,1995 : 773).

b) Mikroskopis

Tiap tubulus ginjal dan glumerulusnya membentuk satu kesatuan (nefron). Nefron adalah unit fungsional ginjal. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar satu juta nefron. Setiap nefron terdiri dari kapsula bowman, tumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus proksimal, lengkung henle dan tubulus kontortus distal, yang mengosongkan diri keduktus pengumpul. (Price, 1995)

c) Vaskularisasi ginjal

Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra lumbalis II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam vena kavainferior yang terletak disebelah kanan garis tengah. Saat arteri renalis masuk kedalam hilus, arteri tersebut bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara piramid selanjutnya membentuk arteri arkuata kemudian membentuk arteriola interlobularis yang tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini kemudian membentuk arteriola aferen pada glomerulus (Price, 1995). Glomeruli bersatu membentuk arteriola aferen yang kemudian bercabang membentuk sistem portal kapiler yang mengelilingi tubulus dan disebut kapiler peritubular. Darah yang mengalir melalui sistem portal ini akan dialirkan kedalam jalinan vena selanjutnya menuju vena interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan vena renalis untuk akhirnya mencapai vena cava inferior. Ginjal dilalui oleh sekitar 1200 ml darah permenit suatu volume yang sama dengan 20-25% curah jantung (5000 ml/menit) lebih dari 90% darah yang masuk keginjal berada pada korteks sedangkan sisanya dialirkan ke medulla. Sifat khusus aliran darah ginjal adalah otoregulasi aliran darah melalui ginjal arteiol afferen mempunyai kapasitas intrinsik yang dapat merubah resistensinya sebagai respon terhadap perubahan tekanan darah arteri dengan demikian mempertahankan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus tetap konstan ( Price, 1995).

d) Persarafan pada ginjal

Menurut Price (1995) “Ginjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor), saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk kedalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal”.

  1. 3.      Fisiologi Ginjal

Menurut Syaifuddin (1995) “Fungsi ginjal yaitu mengeluarkan zat-zat toksik atau racun; mempertahankan keseimbangan cairan; mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh; mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh; mengeluarkan sisa metabolisme hasil akhir sari protein ureum, kreatinin dan amoniak”. Tiga tahap pembentukan urine :

  1. Filtrasi glomerular

Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula bowman’s disebut filtrat. Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula bowman’s, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler.

  1. Reabsorpsi

Zat-zat yang difilltrasi ginjal dibagi dalam 3 bagian yaitu : non elektrolit, elektrolit dan air. Setelah filtrasi langkah kedua adalah reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat yang sudah difiltrasi.

  1. Sekresi

Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi yang disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin). Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion-ion hidrogen. Pada tubulus distalis, transfor aktif natrium sistem carier yang juga telibat dalam sekresi hidrogen dan ion-ion kalium tubular. Dalam hubungan ini, tiap kali carier membawa natrium keluar dari cairan tubular, cariernya bisa hidrogen atau ion kalium kedalam cairan tubular “perjalanannya kembali” jadi, untuk setiap ion natrium yang diabsorpsi, hidrogen atau kalium harus disekresi dan sebaliknya. Pilihan kation yang akan disekresi tergantung pada konsentrasi cairan ekstratubular (CES) dari ion-ion ini (hidrogen dan kalium). Pengetahuan tentang pertukaran kation dalam tubulus distalis ini membantu kita memahami beberapa hubungan yang dimiliki elektrolit dengan lainnya. Sebagai contoh, kita dapat mengerti mengapa bloker aldosteron dapat menyebabkan hiperkalemia atau mengapa pada awalnya dapat terjadi penurunan kalium plasma ketika asidosis berat dikoreksi secara theurapeutik.

  1. 4.      Etiologi

Ada 3 penyebab utama dari trauma ginjal , yaitu

a. Trauma tajam

b. Trauma latrogenic

c. Trauma tumpul

Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman pada abdomen bagian atas atau pinggang merupakan 10 – 20 % penyebab trauma pada ginjal di Indonesia.  Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan operasi atau radiologi intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde pyelography, percutaneous nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Dengan semakin meningkatnya popularitas dari teknik teknik di atas, insidens trauma iatrogenik semakin meningkat , tetapi kemudian menurun setelah diperkenalkan ESWL. Biopsi ginjal juga dapat menyebabkan trauma ginjal .  Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang menimbulkan trombosis.  Ada beberapa faktor yang turut menyebebkan terjadinya trauma ginjal. Ginjal yang relatif mobile dapat bergerak mengenai costae atau corpus vertebrae, baik karena trauma langsung ataupun tidak langsung akibat deselerasi. Kedua, trauma yang demikian dapat menyebabkan peningkatan tekanan subcortical dan intracaliceal yang cepat sehingga mengakibatkan terjadinya ruptur. Yang ketiga adalah keadaan patologis dari ginjal itu sendiri. Sebagai tambahan, jika base line dari tekanan intrapelvis meningkat maka kenaikan sedikit saja dari tekanan tersebut sudah dapat menyebabkan terjadinya trauma ginjal. Hal ini menjelaskan mengapa pada pasien yang yang memiliki kelainan pada ginjalnya mudah terjadi trauma ginjal.  Klasifikasi  Tujuan pengklasifikasian trauma ginjal adalah untuk memberikan pegangan dalam terapi dan prognosis.

American Association for Surgery of  Trauma, membagi trauma ginjal menjadi lima gradasi yaitu:

Gradasi

Lesi meliputi

                      Grade I Kontusio ginjal/hematoma perirenal, terdapat perdarahan di ginjal tanpa ada kerusakan

jaringan, kematian jaringan maupun kerusakan kaliks. Hematuria dapat mikrokospik

atau makroskopik. Pencitraan normal.                      Grade IILaserasi Ginjal terbatas pada korteks, tanpa ada kelainan parenkim.                       Grade IIILaserasi ginjal sampai pada medulla ginjal, mungkin terdapat thrombosis arteri

segmentalis, laserasi ginjal tidak melebihi 1cm, tidak mengenai pelviokaliks, dan

tidak terjadi ekstravasasi.                      Grade IVLaserasi sampai mengenai system kalises ginjal, laserasi lebih dari 1 cm, laserasi yang

mengenai korteks, medulla dan pelviokaliks.                      Grade Vcedera pembuluh darah utama, avulse pembuluh darah yang mengakibatkan gangguan

pembuluh darah ginjal, laserasi luas pada beberapa tempat/ginjal terbelah.

  1. 5.      Patofisiologi

Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olahraga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang menimbulkan trombosis. Ginjal yang terletak pada rongga retroperitoneal bagian atas hanya terfiksasi oleh pedikel pembuluh darah serta ureter, sementara masa ginjal melayang bebas dalam bantalan lemak yang berada dalam fascia Gerota. Fascia Gerota sendiri yang efektif dalam mengatasi sejumlah kecil hematom , tidak sempurna dalam perkembangannnya. Kantong fascia ini meluas kebawah sepanjang ureter ,meskipun menyatu pada dinding anterior aorta serta vena cava inferior, namun mudah untuk sobek oleh adanya perdarahan hebat sehingga perdarahan melewati garis tengah dan mengisi rongga retroperitoneal.(Guerriero, 1984). Karena miskinnya fiksasi, ginjal mudah mengalami dislokasi oleh adanya akselerasi maupun deselerasi mendadak, yang bisa menyebabkan trauma seperti avulsi collecting system atau sobekan pada intima arteri renalis sehingga terjadi oklusi parsial maupun komplet pembuluh darah. Sejumlah darah besar dapat terperangkap didalam rongga retroperitoneal sebelum dilakukan stabilisasi. Keadaan ekstrem ini sering terjadi pada pasien yang datang di ruang gawat darurat dengan kondisi stabil sementara terdapat perdarahan retroperitoneal. Korteks ginjal ditutupi kapsul tipis yang cukup kuat. Trauma yang menyebabkan robekan kapsul sehingga menimbulkan perdarahan pada kantong gerota perlu lebih mendapat perhatian dibanding trauma yang tidak menyebabkan robekan pada kapsul. Vena renalis kiri terletak ventral aorta sehingga luka penetrans didaerah ini bisa menyebabkan trauma pada kedua struktur. Karena letaknya yang berdekatan antara pankreas dan pole atas ginjal kiri serta duodenum dengan tepi medial ginjal kanan bisa menyebabkan trauma kombinasi pada pankreas, duodenum dan ginjal.. Anatomi ginjal yang mengalami kelainan seperti hidronefrosis atau tumor maligna lebih mudah mengalami ruptur hanya oleh adanya trauma ringan.(McAninch,2000).

  1. 6.      Manifestasi Klinis
  1.              1.    Nyeri
  2.              2.    Hematuria
  3.              3.    Mual dan muntah
  4.              4.    Distensi abdomen
  5.              5.    Syok akibat trauma multisistem
  6.              6.    Nyeri pada bagian punggung
  7.              7.    Hematoma di daerah pinggang yang semakin hari semakin besar
  8.              8.    Massa di rongga panggul
  9.              9.    Ekimosis

10. Laserasi atau luka pada abdomen lateral dan rongga panggul

  1. 7.      Penatalaksanaan

a.Konservatif

Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor, karena hampir 90% trauma tumpul ginjal berupa cedera minor seperti kontusio ginjal dan laserasi parenkim ginjal yang tidak memerlukan tindakan bedah. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital,kemungkinan adanya penambahan massa di pinggang, adanya pembesaran lingkaran perut,penurunan kadar hemoglobin, dan perubahan warna urin pada pemeriksaan serial. Tindakan  konservatif itu sendiri meliputi istirahat di tempat tidur, analgesic untuk hilangkan nyeri dan observasi status ginjal.

Observasi  Tanda vital suhu tubuh,Massa di pinggang ,Hemoglobin,Urine lebih pekat merupakan tanda-tanda perdarahan hebat, kebocoran urin,segera eksplorasi drainase urine, segera hentikan perdarahan.

b.Operasi

Operasi ditujukan pada trauma ginjal mayor dengan tujuan untuk segera menghentikan  perdarahan. Tindakan bedah dilakukan jika ada perdarahan dengan syok yang tidak dapat diatasi atau syok berulang. Selanjutnya diperlukan debridement, reparasi ginjal (renorafi atau penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan nefroktomi parsial bahkan total karena kerusakan ginjal yang berat.

  1. 8.      Asuhan Keperawatan

 

  1. Pengkajian
  1. Pengumpulan Data
  1. Identitas klien

Identitas klien terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status, alamat, tanggal masuk, no regeister, dan diagnosis medis.

  1. Identitas keluarga klien (yg bertanggung jawab pada klien)

Identitas keluarga klien terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, hubungan dengan klien.

  1. Riwayat Kesehatan
  1. Keluhan utama

Kjlien mengeluh Nyeri pada  daerah abdomen kurang lebih 1 hari yang lalu.

  1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien mengeluh nyeri pada abdomen sejak 1 hari yang lalu dan kencing di sertai darah,.

  1. Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien mengalami kecelakaan lalu lintas 1 hari yang lalu dan sakit pada abdomen.

  1. Riwayat Kesehatn Keluarga

Dalam keluarga klien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit seperti yang di alami klien, keluarga klien juga tidak mengalami penyakit hipertensi, jantung, ginjal, DM dan penyakit menular atau penyakit menurun lainnya.

B. 11 Pola Gordon

1.Pola persepsi kesehatan

Biasanya klien dengan trauma akan langsung memeriksakan keadaannya ke dokter berhubungan dengan keadaan yang di rasakan setelah trauma.

2. Pola Nutrisi Metabolik

Biasanya klien mengalami kurang napsu makan, BB menurun.

3. Pola eliminasi

Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.

4. Pola sensori dan kognitif

Pada pola sensori klien tidak mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Pada pola kognitif daya ingat klien masih baik.

5. Pola aktivitas dan latihan

Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, dan nyeri.

6.Pola tidur dan istirahat

Klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/ nyeri otot

7. Pola persepsi dan konsep diri

Klien merasa tidak berdaya,dan merasa bersalah pada keluarga karena merasa merepotkan keluarganya

8. Pola hubungan dan peran

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk beraktivitas

  1. Pola Intoleransi dan Stres

Klien merasa cemasa dan khawatir dengan kondisi klien saat ini.

10.Pola kesehatan reproduksi

Adanya perubahan libido dalam melakukan aktivitas seksual.

11.Pola tata nilai dan kepercayaan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/ kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. ( Marilyn E. Doenges, 2000 ).

  1. 10.  Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik yang diperiksa mencakup :

a. Keadaan umum : ditemukan jejas dan nyeri pada abdomen  bagian atas, nyeri pinggang, nyeri bervariasi

b. Suara bicara : tidak mengalami gangguan

c. Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi

d. Pemeriksaan integumen

§ Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan jelek.

§ Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

§ Rambut : umumnya tidak ada kelainan

e. Pemeriksaan kepala dan leher

§ Kepala : bentuk normal

§ Muka : simetris

§ Mata : simetris, konjungtiva : anemis, sclera : ikteris (-), pupil : isokor

§ Leher : tidak ada pembesaran kelenjar karotis

f. Pemeriksaan dada

pernafasan normal tidak terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan.

g.  Pemeriksaan abdomen

distensi abdomen, adanya penimbunan cairan/darah pada abdomen

h. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine

i. Pemeriksaan ekstremitas

Sering didapatkan kelemahan anggota gerak

  1. 11.   Pemeriksaan penunjang

-          Pemeriksaan Diagnostik

» Laboratorium

Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah urinalisis. Pada pemeriksaan ini diperhatikan kekeruhan, warna, pH urin, protein, glukosa dan sel-sel. Pemeriksaan ini juga menyediakan secara langsung informasi mengenai pasien yang mengalami laserasi, meskipun data yang didapatkan harus dipandang secara rasional. Jika hematuria tidak ada, maka dapat disarankan pemeriksaan mikroskopik. Meskipun secara umum terdapat derajat hematuria yang dihubungkan dengan trauma traktus urinarius, tetapi telah dilaporkan juga kalau pada trauma (ruptur) ginjal dapat juga tidak disertai hematuria. Akan tetapi harus diingat kalau kepercayaan dari pemeriksaan urinalisis sebagai modalitas untuk mendiagnosis trauma ginjal masih didapatkan kesulitan.

» Radiologi

Cara-cara pemeriksaan traktus urinarius dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: foto polos abdomen, pielografi intravena, urografi retrograde, arteriografi translumbal, angiografi renal, tomografi, sistografi, computed tomography (CT-Scan), dan nuclear Magnetic resonance (NMR)

» Intravenous Pyelography (IVP)

Tujuan pemeriksaan IVP adalah

(1) untuk mendapatkan perkiraan fungsional dan anatomi kedua ginjal dan ureter,

(2) menentukan ada tidaknya fungsi kedua ginjal, dan

(3) sangat dibutuhkan pada bagian emergensi atau ruangan operasi.

Sedangkan kerugian dari pemeriksaan ini adalah

(1) pemeriksaan ini memerlukan gambar multiple untuk mendapatkan informasi maksimal, meskipun tekhnik satu kali foto dapat digunakan;

(2) dosis radiasi relative tinggi (0,007-0,0548 Gy);

(3) gambar yang dihasilkan tidak begitu memuaskan.

» Computed Tomography (CT)

Computed Tomography (CT)  merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menilai traktus urinarius. Pemeriksaan ini dapat menampakan keadaan anatomi traktus urinarius secara detail. Pemeriksaan ini menggunakan scanning dinamik kontras.

Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah memeriksa keadaan anatomi dan fungsional ginjal dan traktus urinarius, membantu menentukan ada atau tidaknya gangguan fungsi ginjal dan membantu diagnosis trauma yang menyertai.

Kerugian dari pemeriksaan ini adalah pemeriksaan ini memerlukan kontas untuk mendapatkan informasi yang maksimal mengenai fungsi, hematoma, dan perdarahan; pasien harus dalam keadaan stabil untuk melakukan pemeriksaan scanner; dan memerlukan waktu yang tepat untuk melakukan scanning untuk melihat bladder dan ureter.

» Ultrasonografi (USG) Renal

Keuntungan pemeriksaan ini adalah non-invasif, dapat dilakukan bersamaan dengan resusitasi, dan dapat membantu mengetahui keadaan anatomi setelah trauma.

Kerugian dari pemeriksaan ini adalah memerlukan pengalaman sonografer  yang terlatih, pada pemeriksaan yang cepat sulit untuk melihat mendeskripsikan anatomi ginjal, dimana kenyataannya yang terlihat hanyalah cairan bebas, trauma bladder kemungkinan akan tidak dapat digambarkan.

» Angiography

Keuntungan pemeriksaan ini adalah (1) memiliki kapasitas untuk menolong dalam diagnosis dan penanganan trauma ginjal, dan (2) lebih jauh dapat memberikan gambaran trauma dengan abnormalitas IV atau dengan trauma vaskuler.

Kerugian dari pemeriksaan ini adalah (1) pemeriksaan ini invasif, (2) pemeriksaan ini memerlukan sumber-sumber mobilisasi untuk melakukan pemeriksaan, seperti waktu; (4) pasien harus melakukan perjalanan menuju ke ruang pemeriksaan.

» Magnetic Resonannce Imaging (MRI)

MRI digunakan untuk membantu penanganan trauma ginjal ketika terdapat kontraindikasi untuk penggunaan kontras iodinated atau ketika pemeriksaan CT-Scan tidak tersedia. Seperti pada pemeriksaan CT, MRI menggunakan kontas Gadolinium intravena yang dapat membantu penanganan ekstravasasi sistem urinarius. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksan terbaik dengan sistem lapangan pandang yang luas.

-          Pemeriksaan lab pada perdarahan

Untuk skrinning test ada 5 :

- AT (hitung trombosit) : untuk mengetahui defect kuantitas

- BT (bleeding time) : untuk mengecek kuantitas dan kualitas trombosit.    Apakah ada gangguan agregasi dan adhesi

- CT (clotting time) : waktu yang dibutuhkan untuk membentuk sumbat yang sempurna.

- PPT (plasma protrombin time) : untuk melihat defect jalur koagulasi ekstrinsik dan memonitor antikoagulan oral warfarin.

- APTT (activated partial tromboplastin time) : untuk  cek jalur intrinsic dan memonitor antikoagular heparin.

Tambahan:

- TAT (tes agregasi trombisit) : dengan menggunakan sampel plasma trombosit. Trombosit dipapar dengan aggregator untuk memicu agregasi. Kemudian disinari dengan spektofotometer. Jika makin banyak agregasi, sinar yang dihantarkan akan makin banyak. Sehingga bisa menilai kemampuan agregasi.

- Fibrinogen : tes utk cek proses fibrinolisis. Jika fibrinolisis teraktivasi, FDP akan meningkat.

  1. Pengelompokan data

DS  :- klien mengatakan nyeri pada daerah abdomen

- Klien mengatakan merasa kesulitan saat bergerak untuk miring kiri miring kanan

- Klien mengatakan merasa takut dan cemas dengan kondisi saat ini

- klien mengatakan BAK campur darah

DO  :   – Klien tampak meringis menahan sakit,

- ekspresi wajah tampak tegang

-Klien tanpak gelisah

- Semua aktivitas klien di bantu keluarga

- Konjungtiva anemis

- pada urine bag, urin tampak bercampur darah

- Tampak terpasang kateter

TTV : TD : 110 / 80 mmHg,  SB : 380C,  N : 86 x / menit,  R: 22 x / menit

  1. Analisa data

No

Data

Etiologi

Masalah

DS : – Ps mengatakan nyeri pada bagian abdomen

-          Klien mengatakan kesulitan saat bergerak untuk miring ke kiri dan ke kanan

DO : – Klien tampak meringis menahan sakit

-          ekspresi wajah tampak tegangTrauma tumpulNyeri DS : – Klien mengatakan merasa kesulitan saat bergerak untuk miring kiri miring kanan

DO : – Semua aktivitas klien di bantu keluarga Ketakutan bergerak/ traumaIntoleransi aktifitas DS : – klien mengatakan nyeri pada daerah abdomen

- pada urine bag, urin tampak bercampur darahPerdarahan pada rongga peritoniumResiko infeksi

  1. patoflow

Trauma tumpul

Deselarasi (gerakan ginjal secara tiba-tiba)

Didalam rongga retroperitonium

Regangan predikal ginjal

Robekan tunika intima arteri renalis

Memacu pembentukan bekuan-bekuan darah

Menimbulkan trombosis renalis dan cabangnya

nyeri abdomen

Perdarahan didalam retroperitonium

Resiko infeksi

distensi abdomen      distensi ileus          Ketakutan bergerak

intoleransi aktifitas

Nausea

ansietas

                                                                                                                                                        Anoreksia

 Perubahan nutrisi <kebutuhan

15. diagnosa

1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan trauma

3.  resiko infeksi berhubungan dengan di dalam retroperitonium

4. perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksi

5. ansietas berhubungan dengan ketakutan bergerak

16. perencanaan

no

diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

intervensi

rasional

1 Nyeri akut berhubungan dengan trauma

.Setelah di berikan tindakan keperawatan selama 3 hari di harapkan nyeri dapat berkurang atau hilang. Dengan criteria hasil :

- Nyeri berkurang atau hilang.

- Klien tampak tenang.Mandiri

  1. Bedrest atau atur posisi yg nyaman bagi pasien.
  1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga.
  2. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri
  1. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
  1. Observasi tanda-tanda vital.

Kolaborasi :

  1. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik.

- posisi yang  nyaman dapat membantu meminimalkan nyeri

- hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif.

-tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri.

- memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.

-untuk mengetahui perkembangan klien.

- merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.2Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketakutan bergerak/ trauma.Setelah di berikan tindakan keperawatan selama 3 hari di harapkan  pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Dengan criteria hasil :

– perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.a.  Rencanakan periode istirahat yang cukup.

  1. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
  1. c.  Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.

d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.- mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secara optimal.

- tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

-mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.

-menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.3Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan di dalam retroperitoneumSetelah di berikan tindakan keperawatan selama 4 hari diharapkan infeksi tidak terjadi / terkontrol dengan kritri hasil :

- tidak ada tanda-tanda infeksi/ radang

- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi..Mandiri

  1.  Pantau tanda-tanda vital.

b.Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.

d.Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.

e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.- mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.

-untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.

-penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.

- antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Ginjal sangat terlindungi oleh organ-organ disekitarnya sehingga diperlukan kekuatan yang cukup yang bisa menimbulkan cedera ginjal. Namun pada kondisi patologis seperti hidronefrosis atau malignansiginjal maka ginjal mudah ruptur oleh hanya trauma ringan. Mobilitas ginjal sendiri membawa konsekuensi terjadinya cedera parenkim ataupun vaskuler. Sebagian besar trauma ginjal adalah trauma tumpul dan sebagian besar trauma tumpul menimbulkan cedera minor pada ginjal yang hanya membutuhkan bed rest.

Diagnosis  trauma ginjal ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Pada pemeriksaan fisik digali mekanisme trauma serta kemungkinan gaya yang menimpa ginjal maupun organ lain disekitarnya. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menilai ABC nya trauma, lokal ginjal maupun organ lain yang terlibat. Pada pasien mungkin ditemukan hematuria gross ataupun mikroskopis atau mungkin tanpa hematuria. Bila kondisi tidak stabil walau dengan resusitasi maka tidak ada pilihan kecuali eksplorasi segera .Pada pemeriksaan penunjang plain photo bisa ditemukan patah tulang iga bawah, prosesus transversus vertebra lumbal yang menunjukkan kecurigaan kita terhadap trauma ginjal. Pada pemeriksaan IVU akurasinya 90% namun pada pasien hipotensi tidak bisa diharapkan hasilnya. IVU juga tidak bisa menilai daerah retroperitoneal serta sangat sulit melakukan grading. Pada kondisi tak stabil, maka hanya dilakukan one shotIVU yang bisa menilai ginjal kontralateral. Pemeriksaan dengan CT scan merupakan gold standard karena dengan alat ini bisa melakukan grading dengan baik. Bagian-bagian infark ginjal terlihat, serta seluruh organ abdomen serta retroperitoneum juga jelas. Pemeriksaan angiografi sangat baik dilakukan pada kecurigaan cedera vaskuler. Dilakukan arteriografi apabila CT scan tidak tersedia. Kerugiannya pemeriksaan ini invasif.

Prinsip penanganan trauma ginjal adalah meminimalisasi morbiditas dan mortalitas serta sedapat mungkin mempertahankan fungsi ginjal. Hanya pasien dengan indikasi jelas dilakukan nefrektomi. Keselamatan jiwa pasien tentunya lebih penting dari pada usaha peyelamatan ginjal namun jiwa melayang.  Teknik operasi saat ini memegang peranan penting dalam penyelamatan ginjal. Dengan kontrol pembuluh darah ginjal maka terjadi penurunan angka nefrektomi. Kontrol pembuluh darah dilakukan diluar fasia Gerota sebelum masuk zona trauma. Tanpa isolasi arteri dan vena , dekompresi hematom ginjal yang dilakukan durante operasi meningkatkan insidensi nefrektomi.

Daftar pustaka

-          Rencana asuhan keperawatan Marlin E Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Gleissler

-          http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/anatomi-ginjal-dan-saluran-kemih/

-          http://samire-samire.blogspot.com/2011/04/askep-trauma-ginjal.html

-          http://www.alenatore.com/tag/askep-trauma-renal

-          http://soimcakep.blogspot.com/2009/07/trauma-ginjal.html

-          http://www.scribd.com/doc/7524912/Laporan-Kasus-Trauma-Ginjal

-          http://soimcakep.blogspot.com/2009/07/trauma-ginjal.html

DEMAM BERDARAH DENGUE ( DBD )

 

Mata kuliah : I. Sosial & Masalah Kesehatan

Semester      : I ( satu )

Dosen          : Agust Laya, SKM, M.Kes

DEMAM BERDARAH DENGUE

 ( DBD )

O

L

E

H

Niswan Iskandar Alam

0901049

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH

MANADO 2009

Kata Pengantar

Assalammualaikum Wr.Wb

 

Alhamdulillah…..

Tiada kata yang paling indah selain puji dan puja syukur kehadirat Allah swt,yang mana dengan limpahan rahmat dan karunia Nya lah sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabiyaullah Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah rela mempetaruhkan harta,jiwa dan raganya untuk membawa umat manusia dari dunia kegelapan menuju dunia yang terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Saya sadari peyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan maka berpegang dari itu semua saya sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca pada umumnya dan dosen bidang studi pada khususnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat menambah referensi kita semua….

“ tak ada gading yang tak retak,tak ada manusia yang sempurna ˝

 

Billahifii sabililhaq fastabiqulkhairat

Wassalammualaikum Wr.Wb

 

Penyusun

Niswan Iskandar Alam

0901049

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Kata pengantar………………………………………………………………i

Daftar isi……………………………………………………………………ii

BabI.Pendahuluan…………………………………………………………1

Bab II. Pembahasan

  1. Definisi Demam Berdarah Dengue……………………………………..3
  2. Mengenal nyamuk Ae.Aegypti…………………………………………3
  3. Siklus hidup Ae.Aegypti………………………………………………….5
  4. Masa inkubasi dan gejala DBD………………………………………..6
  5. Diagnosis……………….……………………………………………….6
  6. Penularan……………………………………………………….……………………..7
  7. Penyebaran…………………………………………………………………………………7
  8. Pengobatan ………………………………………………………………………………..8
  9. Epidemiologi………………………………………………………………………………8
  10. Pencegahan ……………………………………………………………………………….9
  11. Dengue dan Permasalahannya…………………………………………………….11

Bab III. Penutup

  1. Kesimpulan……………………………………………………….13
  2. Saran………………………………………………………………13

Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I.

PENDAHULUAN

 

Pada zaman sekarang ini berbagai macam penyakit terus di temukan dan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman,baik pola penularan,pengobatan, pencegahan serta penyebabnya pun berbeda – beda mulai dari penyakit yang ringan sampai yang sulit di sembuhkan.

Demam berdarah dengue atau yang biasa di singkat DBD adalah salah satu penyakit yang sulit di sembuhkan hal ini di sebabkan karena Sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk penanggulangan DBD ini.

Demam berdarah dengue banyak terjangkit di daerah tropis dan subtropis. Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita demam berdarah dengue tiap tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena curah hujan di Asia yang sangat tinggi terutama di Asia timur dan selatan ditambah dengan sanitasi lingkungan yang tidak bagus.

Penyakit DBD pertama kali di indonesia di temukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru di dapat pada tahun 1972. sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor – Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali di temukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun.

KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate ( IR ) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10.17%, namun tahun – tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15.99 ( tahun 2000); 21.66 ( tahun 2001 ); 19.42 ( tahun 2002 ) dan 23,87 ( tahun 2003 ).

Hampir setiap tahun, di bulan-bulan tertentu, selalu saja ada berita tentang kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Penyakit ini tiap tahun telah membawa banyak korban jiwa, bahkan jumlah kasus serta korban jiwa meningkat tiap tahunnya.DBD terjadi berulang-ulang setiap tahun. DBD merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia dan memerlukan penanganan yang menyeluruh dan integral, agar penyakit ini tidak lagi menimbulkan banyak korban jiwa.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bandung, jumlah penderita DBD pada Januari 2009 mencapai 783 kasus. Jumlah itu lebih besar dibandingkan dengan Januari 2008 yaitu sebanyak 545 kasus. Sementara itu, total jumlah penderita DBD di tahun 2008 sebanyak 4.432 kasus. Kecenderungannya menurun jika dibandingkan dengan tahun 2007 yang mencapai 4.717 kasus. Berdasarkan data tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandung, puncak penyebaran virus DBD selalu terjadi pada caturwulan pertama setiap tahun, antara Februari-April.

BAB II

PAMBAHASAN

 

  1. A.    Definisi Demam Berdarah Dengue ( DBD )

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dengan genusnya adalah favivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang di kenal dengan DEN- 1, DEN- 2, DEN- 3, dan DEN- 4, yang di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan – perdarahan.

  1. B.     Mengenal nyamuk Ae.Aegypti

Mengenali nyamum Ae. aegypti sangat mudah. Beberapa ciri khusus untuk mengenali nyamuk ini antara lain dari pola hitam putih di tubuhnya, sepeti di kaki dan diperutnya. Perhatikan gambar di bawah ini.
Tetapi perlu hati-hati, tidak semua nyamuk yang belang-belang adalah nyamuk Ae. aegypti. Masih ada beberapa ciri khusus lagi yang membedakkannya dengan nyamuk jenis lain. Perhatikan pola di punggungnya. Ae. aegypti memiliki dua garis putih di tengah dan di sisinya ada dua garis melengkung. Perhatikan baik-baik di bagian punggung nyamuk ini.
Kalau gambar skemanya seperti gambar di bawah ini. Perhatikan kembali di bagian kepalanya.

Cara nunggingnya pun bisa digunakan untuk membedakan nyamuk ini dengan jenis nyamuk yang lain. Perhatikan kembali gambar skema di bawah ini.
Gambar skema nyamuk Ae. aegypti tampak atas dan tampak samping.
Kalau diperhatikan lebih jauh lagi ada perbedaan penting pada bentuk larva Ae. aegypti. Larva nyamuk, kita sering menyebutnya jentik nyamuk, memiliki bentuk khusus pada sipon-nya. Sipon adalah alat pernafasan larva yang letaknya di bagian ekor. Perhatikan gambar di bawah ini. Sipon jentik Ae. aegypti berukuran sedang dibandingkan dengan sipon jenis lain.
Pupa larva ini juga sangat khas. Pupa Ae. aegypti berbeda dengan pupa serangga lain. Kalau kupu-kupu biasanya bertapa ketika menjadi pupa, nyamuk justru aktif ke sana ke mari ketika berbentuk pupa. Punya nyamuk seperti gambar di bawah ini.

  1. C.    Siklus hidup Ae.Aegypti

Sedangkan siklus hidup nyamuk ini seperti gambar di bawah ini. Nyamuk Ae. aegypti bertelur di air. Pertama nyamuk bertelur, telur menetas menjadi larva instar ke-1, instar ke-2, instar ke-3, instar ke-4, pupa, dan akhirnya menjelma menjadi nyamuk dewasa.

  1. Masa inkubasi dan Gejala Penyakit Demam Berdarah Dengue

Masa tunas / inkubasi selama 3 – 15 hari sejak seseorang terserang virus dengue, Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah sebagai berikut :

  1. Demam tinggi yang mendadak 2 – 7 hari ( 38 – 40 derajat Celsius ).
  2. Pada pemeriksaan uji tourniquet, tampak adanya jentik (puspura) perdarahan.
  3. Terjadi pembesaran hati ( Hepatomegali ).
  4. Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
  5. Terjadi penurunan trombosit di bawah 100.000 / mm3 (Trombositopeni)
  6. timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual,muntah penurunan nafsu makan ( anoreksia ),sakit perut diare,menggigil kejang, sakit kepala, mimisan ( epitaksis ) pada hidung dan gusi, feces berlendir dan campur darah ( malena ).
  7. Demam yang di rasakan penderita menyebabkan pegal / sakit pada persendian.
  8. Munculnya bintik – bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah
  9. Pada kasus berat gejala klinis di tambah dengan terjadinya akumulasi cairan pada rongga tubuh
  1. E.     Diagnosis

Diagnosis demam berdarah biasa dilakukan secara klinis. Biasanya yang terjadi adalah demam tanpa adanya sumber infeksi, ruam petekial dengan trombositopenia dan leukopenia relatif. Serologi dan reaksi berantai polimerase tersedia untuk memastikan diagnosa demam berdarah jika terindikasi secara klinis. Mendiagnosis demam berdarah secara dini dapat mengurangi risiko kematian dari pada menunggu akut.

  1. F.     Penularan

Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif, terutama Aedes aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari, dengan peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Aedes aegypti maupun Aedes albopictus ditemukan di daerah perkotaan; kedua species nyamuk ini ditemukan juga di AS. Aedes Albopictus, sangat banyak ditemukan di Asia, tidak begitu antropofilik dibandingkan dengan Aedes Aegypti sehingga merupakan vector yang kurang efisien. Di Polinesia, salah satu jenis dari Aedes Aegypti Scutellaris spp, bertindak sebagai vector. Di Malaysia, vectornya adalah kompleks Aedes Aegypti Niveus dan di Afrika Barat adalah kompleks nyamuk Aedes Aegypti furcifer-taylori berperan sebagai vector penularan nyamuk-monyet.

  1. G.    Penyebaran

Kasus penyait ini pertama kali di temukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. kasus pertama kali di laporakan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanya 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus sbagai berikut :

-          Tahun 1996 : jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah ematian sebanya 1.234

-          Tahun 1998 : jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 1.414 orang ( terjadi ledakan ).

-          Tahun 1999 : jumlah kasus 21.134 orang

-          Tahun 2000 : jumlah kasus 33.443 orang

-          Tahun 2001 : jumlah kasus 45.904 orang

-          Tahun 2002 : jumlah kasus 40.377 orang

-          Tahun 2003 : jumlah kasus 50.131 orang

-          Tahun 2004 : jumlah kasus 26.015 orang dengan jumlah ematian sebanyak 389 orang.

  1. H.    Pengobatan

Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).

Penambahan cairan tubuh melalui infuse ( intravena ) mungkin di perlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan.transfusi platelet di lakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Selanjutnya adalah pemberian obat – obatan terhadap keluhan yang timbul,misalnya :

Paracetamol membantu menurunkan demam

Garam elektrolit ( oralit )jika di sertai diare

Antibiotic berguna untuk mencegah infeksi sekunder

Lakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok. Bahkan beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol. Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji bangkok, namun khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medik, akan tetapi jambu biji kenyataannya dapat mengembalikan cairan intravena dan peningkatan nilai trombosit darah.

  1. I.       Epidemiologi

Wabah pertama terjadi pada tahun 1780-an secara bersamaan di Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Penyakit ini kemudian dikenali dan dinamai pada 1779. Wabah besar global dimulai di Asia Tenggara pada 1950-an dan hingga 1975 demam berdarah ini telah menjadi penyebab kematian utama di antaranya yang terjadi pada anak-anak di daerah tersebut.

  1. J.      Pencegahan ( Pengendalian Nyamuk Ae. Aegypti )

DBD disebabkan oleh virus dan penyebarannya melalui vektor nyamuk. Dari sekian banyak jenis nyamuk, hanya satu nyamuk yang menjadi vektor DBD, yaitu Aedes aegypti. Oleh karena itu untuk mengendalikan penyebaran DBD dilakukan dengan mengendalikan vektor nyamuk ini yaitu dengan beberapa metode sebagai berikut :

  1. lingkungan

Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk ( PSN ),pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembang biakan nyamuk dan perbaikan desain rumah sebagai contoh : menguras bak mandi atau penampungan air sekurang – kurangnya sekali seminggu,mengganti dan menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali menutu dengan raat tempat penampungan air,mengubur kaleng – kaleng bekas,aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah.tumpah atau bcornya air dari pipa distribusi,katup air, meteran air dapat menyebabkan air menggenang dan menjadi habitat yang penting untuk larva Ae.Aegypti jika tindakan pencegahan tidak dilakukan.

  1. Biologis

Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik ( kan adu / ikan cupang ), dan bakteri ( Bt.H – 14 ). Peran pemangsa yang di mainkan oleh copepod crustacea ( sejenis udang – udangan ) telah di dokumnetasikan pada tahun 1930 – 1950 sebagai predator yang efektif terhadap Ae.Aegypti ( Kay BH, 1996 ).selain itu juga di gunakan perangkap telur autosidal ( perangkap telur pembunuhan ) yang saat ini sedang dikembangkan di singapura.

  1. Kimia

Cara pengendalian ini antara lain dengan pengasapan ( fogging / dengan menggunakan malathion dan fenthinol ),berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu memberikan bubuk abate ( temephos ) pada tempat – tempat penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam dan lain – lain. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara – cara di atas, yang di sebutkan dengan 3M plus,yaitu menutup,menguras dan mengubur barang – barang yang bisa di jadikan sarang nyamuk.selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik,menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida,menggunakan repellent,memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik berkala sesuai dengan kondisi setempat ( Deubel V et al, 2001 ).pemerintah juga memberdayakan masyarakat dengan mengaktifkan kembali ( revitalisasi ) pokjanal DBD di Desa / Kelurahan maupun kecamatan dengan pemberian penyuluhan kesehatan lingkungan dan pemeriksaan jentik berkala.perekrutan warga masyarakat sebagai juru pemantau jentik ( jumantik ) dengan fungsi utama melaksanakan kegiatan pemantauan jentik,pemberantasan sarang nyamuk secara periodik dan penyuluhan kesehatan.peran media massa dalam penanggulangan KLB DBD dan sebagai peringatan dini kepada masyarakat juga di tingkatkan dengan adanya sistem pelaporan dan pemberitahuan kepada khalyak yang cepat di harapkan masyarakat dan departemen terkait lebih waspada.intensifikasi pengamatan ( surveilans ) penyakit DBD dan vektor  dengan dukungan laboratorium  yang memadai di tingkat PusKesMas Kecamatan / Kabupaten juga perlu dibenahi.

  1. K.    Dengue dan Permasalahannya

sampai saat ini belum di temukannya obat atau vaksin untuk penanggulangan DBD ini. Beberapa usaha yang berhubungan dengan pengembangan obat telah dan tengah di lakukan . dala satu penelitian di katakan bahwa  interferon , ribavirin, 6 – azauridine, and glycyrrhizin  menghambat perkembangabiaan flavivirus termasuk virus dengue secara in vitro ( Crance et al, 2003 ), tetapi belum di buktikan secara invivo. Begitu juga dengan usaha pengembangan antivirus dengan penemuan inhibitor enzim yang di perlukan untu perkembangabiakan virus seperti protease,helikase, RNA polimerase, dan lain – lain. Semua percobaan baru pada tahap pengujian ativitas secara in vitro, yang masih jauh dari pengembangan menjadi obat yang biasa di gunakan untuk pasien.

Demikian juga halnya dengan pengembangan vaksin. Ada beberapa kesulitan untuk pengembangan vaksin dengue ini. Di antaranya adalah kompleksnya virus dengue ini. Di antaranya terdiri dari 4 serotipe ( DEN – 1, DEN – 2, DEN – 3, dan DEN – 4 ), sehingga vaksin yang di kembangkan harus mengandung antigen dari ke empat serotipe tersebut.

Kesulitan yang kedua adalah infeksi virus dengue ini tidak mengindus antibodi yang bisa menahan tubuh dari serangan. Pada kebanyakan virus, infeksi akan mengindus antibodi yang bisa menahan tubuh terhadap serangan virus berikutnya. Tapi hal ini berbeda dengan virus dengue. Infeksi pertama (primary infection) malah mempermudah tubuh untuk mendapat serangan berikutnya (secondary infection). Begitu juga gejala yang diakibatkannya. Serangan berikutnya menimbulkan gejala yang lebih berat dan fatal. Jika pada serangan pertama hanya menyebabkan panas (dengue fever/DF), serangan berkutnya bisa menyebabkan panas beserta perdarahan ( Dengue Hemmoragic Fiver / DHF ) atau bahakan di sertai shock ( Dengue Shock Sindrome / DSS ).

Karena itu, pengembangan vaksin harus disertai dengan pertimbangan kemungkinan ini. Artinya, kita harus menemukan kondisi yang optimal agar pemberian vaksin tidak membuat tubuh lebih sensitif terhadap serangan virus dengue. Di antara kondisi yang harus dipertimbangkan bisa berupa jumlah dosis, jumlah vaksin itu sendiri, komposisi masing – masing serotipe, dan lain – lain.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Demam berdarah dengue ( DBD ) merupakan  penyakit yang  di sebabkan oleh nyamuk Ae.Aegypti yang berkembang dan hidup di daerah  tropis maupun subtropis.Indonesiamerupakan salah satu Negara dengan rating ( tingkat ) kasus DBD yang cukup tinggi .

Demam berdarah dengue ( DBD ) merupakan salah satu penyakit yang sampai pada saat ini belum di temukan obat atau vaksinnya,namun dapat di cegah dengan memperhatikan kebersihan rumah,lingkungan sekitar rumah dan perbiasakan pola hidup sehat yaitu mencuci tangan sebelum makan,makan makanan yang sehat dan bergizi,istirahat yang cukup  atau lakukan tidakan promotif dan preventif

  1. B.     Saran

v  Lakukanlah gerakan 3M untuk mengendalikan perkembangbiakan nyamuk Ae.Aegypti karena tindakan preventif lebih baik dari tindakan kuratif.

v  Kenalilah gejala DBD sedini mungkin agar dapat mengurangi jumlah penderita DBD

v  Biasakan pola hidup sehat

v  Gunakanlah kelambu anti nyamuk atau lotion anti nyamuk

v  Lakukanlah tindakan promotif kepada masyarakat sedini mungkin agar masyarakat tahu dan pahami bahaya DBD dan pentingnya penanganan terhadap kasusu DBD

v   Segeralah membawa pasien ke rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat ( PusKesMas)terdekat,apabila terdapat tanda – tanda atau gejala DBD.

Daftar Pustaka

-          Pedoman pengobatan dasar di PusKesMas berdasarkan gejala,Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2001

-          http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefoxa&channel=s&rls=org.mozilla%3Aid%3Aofficial&hs=Wny&q=demam+berdarah+dengue&btnG=Telusuri&meta=

-          http://medisiana.com/viewtopic.php?p=433#433

-          http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=200402260145405

-

ASUHAN KEPERAWATAN KEPADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI

Mata kuliah : Proses Keperawatan & Pendokumentasian

Semester      : IV ( empat )

Dosen          : Silvia Dewi Mayasari Riu S.Kep,Ns

ASUHAN KEPERAWATAN KEPADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI

OLEH

Kelompok II

Niswan Iskandar Alam

Lispitasari Andiani

Julyet Abdul Haris

Jufri Yanto La Mane

Srilelita Manangin

Muamar Fadli Adam

Gledis  W . Muleru

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH

MANADO 2011

Kata Pengantar

Assalammualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah…..

Tiada kata yang paling indah selain puji dan puja syukur kehadirat Allah swt,yang mana dengan limpahan rahmat dan karunia Nya lah sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabiyaullah Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah rela mempetaruhkan harta,jiwa dan raganya untuk membawa umat manusia dari dunia kegelapan menuju dunia yang terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Saya sadari peyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan maka berpegang dari itu semua saya sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca pada umumnya dan dosen bidang studi pada khususnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat menambah referensi kita semua….

“ tak ada gading yang tak retak,tak ada manusia yang sempurna ˝

Billahifii sabililhaq fastabiqulkhairat

Wassalammualaikum Wr.Wb

 

Penyusun

Kelompok II

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi    ………………………………………………………………………………………………….

  1. Laporan pendahuluan
    1. Pengertian       ……………………………………………………………………………..
    2. Etiologi           ……………………………………………………………………………..
    3. Patofisiologi    ……………………………………………………………………………..
    4. Tanda dan gejala…………………………………………………………………………..
    5. Komplikasi      ……………………………………………………………………………..
    6. Penatalaksanaan    ………………………………………………………………………..
    7. Askep Teori     ……………………………………………………………………………..
    8. Tinjauan Kasus
      1. Penyimpangan KDM  …………………………………………………………………..
      2. Diagnosa Keperawatan yang Muncul ……………………………………………..
      3. Perenanaan Secara Teori   ……………………………………………………………..

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………………..

  1. LAPORAN PENDAHULUAN
  1. 1.      Pengertian

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang abnormal dan di ukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis hipertensi harus bersifat spesifik usia. Join National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure yang ke tujuh telah mempublikasikan revisi panduan nilai tekanan darah sistolik dan diastolic yang optimal dan hipertensif. Pada umumnya, tekanan yang dianggap optimal adalah kurang dari 120 mmHg untuk tekanan sistolik dan 80 mmHg untuk tekanan diastolic, sementara tekanan yang dianggap yang dianggap hipertensif adalah lebih dari 140 mmHg untuk sistolik dan lebih dari  90 mmHg untuk diastolic. Istilah “prahipertensi” adalah tekanan darah antara 120 dan 139 mmHg untuk sistolik dan 80 dan 89 mmHg untuk diastolic.  Untuk individu terutama yang memiliki factor resiko kardiovaskular bermakna, termasuk riwayat yang kuat dalam keluarga untuk infark miokard atau stoke, atau riwayat diabetes pada individu, bahkan pada nilai prahipertensif dianggap terlalu tinggi.

  1. 2.      Etiologi

Karena tekanan darah bergantung pada kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, dan TPR, peningkatan salah satu dari ketiga variable yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi.

Peningkatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan saraf simpatis atau hormonal yang abnormal pada nodus SA. Peningkatan denyut jantung yang kronis seringkali menyertai kondisi hipertiroidisme. Akan tetapi, peningkatan denyut jantung biasanya dikompensasi dengan penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak mengakibatkan hipertensi.

Peningkatan volume sekuncup yang kronis dapat terjadi jika volume plasma meningkat dalam waktu lama, karena peningkatan volume plasma direflesikan dengan peningkatan volume diastolik akhir sehingga volume sekuncup dan tekanan darah meningkat. Peningkatan volume diastolic akhir dihubungkan dengan peningkatan preload jantung. preload biasanya berhubungan dengan peningkatan hasil pengukuran tekanan darah sistolik.

Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Penelitian epidemiologis, migrasi, dan genetic pada manusia dan hewan memperlihatkan bukti yang kuat hubungan antara  asupan tinggi garam dan peningkatan tekanan darah. Dari prespektif evolusi, manusia beradaptasi dengan ingesti dan ekskresi kurang dari 1 gram garam per hari yang setidaknya kurang dari sepuluh kali dari rata – rata konsumsi garam di Negara – Negara industry.

Selain peningkatam asupan diet garam, peningkatan abnormal kadar renin dan aldosterone atau penurunan aliran darah ke ginjal juga dapat mengganggu pengendalian garam dan air.

Peningkatan TPR yang kronis dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf simpatis atau hormone pada arteriol, atau responsivitas yang berlebihan dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan TPR, jantung harus memompa lebih kuat, dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk mendorong darah melintasi pembuluh-pembuluh yang menyempit. Hal ini di sebut peningkatan pada afterload jantung,dan biasanya berkaitan dsengan tekanan diastolic. Apabila peningkatan afterload berlangsung lama, ventrikel kiri mungkin mengalami hipertrofi (pembesaran). Dengan hipertrofi, kebutuhan oksigen ventrikel semakin meningkat seshingga ventrikel harus memompa darah lebih keras lagiuntuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Setiap kemungkinan penyebab hipertensi yang di sebutkan di atas dapat terjadi akibat peningkatan aktivitas susunan saraf simpatis. Bagi banyak individu, peningkatan ramgsangan saraf simpatis, atau mungkin responsivitas yang berlebihan dari tubuhterhadap rangsangan simpatis normal, dapat ikut berperan menyebabkan hipertensi. Hal ini dapat terjadi akibat respon stress yang berkepanjangan , yang di ketahui melibatkan pengaktifan system simpatik, atau mungkin akibat kelebihan kenetik reseptor Norepinefrin di jantung atau otot polos vascular. Pengaruh genetic lain mungkin di pengaruhi oleh ras. Ssebagai contoh, terdapat bukti bahwa individu Afro-Amerika, yang umumnya di laporkan menderita hipertensilebih seringdan lebih parah, menunjukan gangguan pemompaan natrium –kalsium sehingga kalsium berakumulasi di sel-sel otot polos akibatnya  meningkatkan kontraksi dan tahanan otot.

  1. 3.      Patofisiologi hipertensi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi.

Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, Bare, 2002).

  1. Tanda dan gejala hipertensi

Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema pada diskus optikus).

Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahun-tahun. Gejala bila ada menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azetoma [peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin]. Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan (Smeltzer, Bore, 2002).
Crowin (2000: 359) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa :

  • Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranial,
  • Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi,
  • Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
  • Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
  • Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler

Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal dan lain-lain (Novianti, 2006).

Faktor resiko hipertensi meliputi :

  1. Usia ; Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur (Tambayong, 2000).
  1. Jenis kelamin ; Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi daripada wanita, namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita akan meningkat, sehingga pada usia diatas 65 tahun, insiden pada wanita lebih tinggi (Tambayong, 2000)
  2. Obesitas ; adalah ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dengan kebutuhan energi yang disimpan dalam bentuk lemak (jaringan sub kutan tirai usus, organ vital jantung, paru dan hati) yang menyebabkan jaringan lemak in aktif sehingga beban kerja jantung meningkat. Obesitas juga didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih dari berat badan ideal. Obesitas adalah penumpukan jaringan lemak tubuh yang berlebihan dengan perhitungan IMT > 27.0. pada orang yang menderita obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat, oleh sebab itu pada waktunya lebih cepat gerah dan capai. Akibat dari obesitas, para penderita cenderung menderita penyakit kardiovaskuler, hipertensi dan diabetes mellitus (Notoatmodjo: 2003).
  3. Riwayat keluarga ; yang menunjukkan adanya tekanan darah yang meninggi merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi seseorang untuk mengidap hipertensi dimasa yang akan datang. Tekanan darah kerabat dewasa tingkat pertama (orang tua saudara kandung) yang dikoreksi terhadap umur dan jenis kelamin tampak ada pada semua tingkat tekanan darah (Padmawinata, 2001).
  4. Merokok ; Departemen of Healt and Human Services, USA (1989) menyatakan bahwa setiap batang rokok terdapat kurang lebih 4000 unsur kimia, diantaranya tar, nikotin, gas CO, N2, amonia dan asetaldehida serta unsur-unsur karsinogen. Nikotin, penyebab ketagihan merokok akan merangsang jantung, saraf, otak dan bagian tubuh lainnya bekerja tidak normal. Nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin sehingga meningkatkan tekanan darah, denyut nadi, dan tekanan kontraksi otot jantung. Selain itu, meningkatkan kebutuhan oksigen jantung dan dapat menyababkan gangguan irama jantung (aritmia) serta berbagai kerusakan lainnya (Wijayakusuma, 2003).
  5. Olah raga ; lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi karena olah raga isotonik dengan teratur akan menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi kurang melakukan olah raga akan menaikan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi (Tjokronegoro, 2001).

Klasifikasi hipertensi menurut WHO berdasarkan tekanan diastolik, yaitu:

  • Hipertensi derajat I, yaitu jika tekanan diastoliknya 95-109 mmHg.
  • Hipertensi derajat II, yaitu jika tekanan diastoliknya 110-119 mmHg.
  • Hipertensi derajat III, yaitu jika tekanan diastoliknya lebih dari 120 mmHg.

Jenis hipertensi

Hipertensi sering di klasifikasikan menjadi hipertensi primer atau sekunder, berdasarkan ada tidaknya penyebab yang dapat di identifikasi. Kebanyakan besar kasus hipertensi tidak di ketahui penyebabnya dan di sebut hipertensi primer atau esensial apabila penyebab hipertensi dapat di ketahui dengan jelas, di sebut hipertensi sekunder.

Hipertensi sekunder

Salah satu contoh hipertensi sekunder adalah hipertensi vascular renal, yang terjadi akibat stenosis arteri renalis. Kelainan ini dapat bersifat kongenital atau akibat arterosklerosis .stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke ginjal sehingga terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasan renin , dan pembentukan angiotensin II. Angiontensi II secara langsung meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan TPR, dan secara tidak langsung dengan meningkatkan sintesis andosteron dan reapsorpsi natrium. Apabila dapat di lakukan perbaikan pada stenosis, atau apabila ginjal yang terkana di angkat, tekanan darah akan kembali ke normal.

Penyebab lain dari hipertensi sekunder antara lain adalah feokromositoma, yaitu tomor penghasil epinefrin di kelenjar adrenal, yang menyebabkan peningkatan kecepatan denyut jantung dan volume sekucup, dan penyakit Cusing,yang menyebabka peningkatan volume sekuncup akibat retensi garam dan peningkatan CTR karena hipersensivitas system saraf simpatis aldosteronisme primer ( penigkatan aldosterone tanpa diketahui penyebabnya) dan hipertensi yang berkaitan dengan kontrasepsi oral juga dianggap sebagai kontrasepsi sekunder.

 

Hipertensi pada kehamilan

Hipertensi pada wanita hamil berisiko untuk ibu dan janinnya. Empat kategori hipertensi pada kehamilan telah di identifikasi oleh National Institutes Of Health Working Group On High Blood Pressure in Pregnancy: Hipertensi gestasional,hipertensi kronis, preeklams-eklamasi, dan preeclampsia superimposed pada hipertensi kronis.

Hipertensi gestasional adalah jenis sekunder Karena, berdasarkan definisi, peningkatan tekanan darah (≥140 mmHg pada sistolik; >90 mmHg pada diastolic) terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita non hipertensi, dan membaik dalam 12 minggu pasca partum. Hipertensi gestasional tampaknya terjadi akibat kombinasi dan peningkatan curah jantung dan peningkatan TPR. Jika hipertensi terjadi setelah 12 minggu pasca partum, atau telah ada sebelum kehamilan 20 minggu, masuk ke dalam kategori hipertensi kronik.

Pada preeklamasi, tekanan darah tinggi disertai dengan proteinuria (dari dalam urine setidaknya 0,3 protein dalam 24 jam). Preeklamasi biasanya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan dihubungkan dengan penurunan aliran darah plasenta dan pelepasan mediator kimiawi yang dapat menyebabkan disfungsi sel endotel vascular di seluruh tubuh. Kondisi ini merupakan gangguan yang sangat serius, seperti halnya preeclampsia superimposed pada hipertensi kronis.

Gambaran Klinis Hipertensi

 

Sebagianbesar manifestasi klinis terjadi setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun, dan berupa :

  • Sakit kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranium.
  • Penglihatan kabur akibat kerusakan hipersensitif pada retina.
  • Cara berjalan yang tidak tampak karena kerusakan susunan saraf pusat.
  • Nokturia yang disebabkan peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus.
  • Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

Perangkat Diagnostik

  • Pengukuran diagnostic pada tekanan darah menggunakan spignomanometer akan memperlihatkan peningkatan tekanan sistolik dan diastolic jauh sebelum adanya gejala penyakit.
  • Dijumpai proteinuria pada wanita preeklamasi.

Komplikasi

  • Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan darah tinggi di otak, atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang diperdarahi berkurang. Arteri otak yag mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.
  • Infar miokard dapat terjadi apabila arteri coroner yang arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk thrombus yang menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Pada hipertensi kronis dan hi[ertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga, hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia, hipoksi jantung , dan peningkatan risiki pembentukan bekuan.
  • Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke unit fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membrane glomerulus, protein akan keluar melalui urine sehingga tekanan osmotic koloid plasma berkurang dan menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi kronis.
  • Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke ruang interstisial di sleuruh susunan saraf pusat. Neoron-neoron disekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.
  • Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamasi. Bayi yang lahir mungkin memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi plasenta yang tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan.

Penatalaksanaan

untuk mengobati hipertensi, dapat dilakukan dengan menurunkan kecepatan denyut jantung, atau TPR. Intervensi farmakologis dan nonfarmakologis dapat membantu individu mengurangi tekanan darahnya.

  • Pada sebagian orang, penurunan berat badan mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi beban kerja jantung dan volume sekuncup juga berkurang.
  • Olahraga, terutama bila disertai penurunan berat, menurunkan tekanan darah dengan menurunkan kecepatan denyut jantung istirahat dan mungkin TPR. Olahraga meningkatkan kadar HDL, yang dapat mengurangi terbentuknya arterosklerosis akibat hipertensi.
  • Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan TPR dengan cara menghambat respon stress saraf simpatis.
  •  Berhenti merokok penting untuk mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung.
  • Diuretic bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dengan mendorong ginjal menigkatkan ekskresi garam dan airnya. Sebagai diuretic (tiazid) juga dapat menurunkan TPR.
  • Penyekat saluran kalsium menurunkan kontraksi otot polos jantung atau arteri dengan menginterfensi influx kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. Sebagian penyekat saluran kalsium bersifat lebih spesifik untuk saluran lambat kalsium otot jantung; sebagian yang lain lebih spesifik untuk saluran kalsium otot polos vascular. Dengan demikian, berbagai penyekat kalsium memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam  menurunkan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, dan TPR.
  • Penghambat enzim mengubah angiotensin 2 atau inhibitor ACE berfungsi untuk menurunkan angiotensin 2 dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angiotensin 1 menjadi angiotensin 2. Kondisi ini menurunkan darah secara langsung dengan menurunkan TPR, dan secara tidak langsung dengan menurunkan sekresi aldosterone, yang akhirnya meningkatkan pengeluaran natrium pada urine kemudian menurunkan volume plasma dan curah jantung. Inhibitor ACE juga menurunkan tekanan darah dengan efek bradikinin yang memanjang, yang normalnya memecah enzim. Inhibitor ACE dikontraindikasi untuk kehamilan.
  • Antagonis (penyekat) respetor beta (β-blocker), terutama penyekat selektif, bekerja pada reseptor beta di jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah jantung.
  • Antagonis reseptor alfa (α-blocker) menghambat reseptor alfa di otot polos vascular yang secara normal berespon terhadap rangsangan saraf simpatis dengan vasokonstriksi. Hal ini akan menurunkan TPR.
  • Vasodilator arterior langsung dapat digunakan untuk menurunkan TPR.
  • Pada beberapa individu dapat mungkin mendapat jaringan diet pembatasan-natrium.
  • Hipertensi gestasional dan preeklamasi-eklamasi membaik setelah bayi lahir.

Askep teori yang di butuhan pasien

Askep teori yang di butuhan pasien

a. Aktivitas/ Istirahat.

Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.

Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.

b. Sirkulasi

Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup

dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.

Tanda :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,

radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,

kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian

kapiler mungkin lambat/ bertunda.

c. Integritas Ego.

Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple

(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.

Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,

tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola

bicara.

d. Eliminasi

Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat

penyakit ginjal pada masa yang lalu.)

e. Makanan/cairan

Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak

serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini

(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic

Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.

f. Neurosensori

Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,

subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan

setelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,

epistakis).

Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,

efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.

g. Nyeri/ ketidaknyaman

Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakit

kepala.

h. Pernafasan

Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,

ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.

Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi

nafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.

i. Keamanan

Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

j. Pembelajaran/Penyuluhan

Gejala: Faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosporosis, penyakit

jantung, DM.

Faktor faktor etnik seperti: orang Afrika-amerika, Asia Tenggara,

penggunaan pil KB atau hormone lain, penggunaan alcohol/obat.

Rencana pemulangan : bantuan dengan pemantau diri TD/perubahan dalam

terapi obat.

  1. TINJAUAN KASUS

pathoflow

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagnose keperawatan dan Perencanaan secara teori

 

  1. Diagnosa keperawatan : nyeri sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular serebral.

Perencanaan

Tujuan dan criteria hasil

Intervensi

rasional

Mandiri

  1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut
  1. Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang,redupkan lampu kamar, teknik relaksasi ( panduan imajinasi, distraksi ) dan aktivitas waktu senggang.
  1. Hilangkan atau minimalkan aktivitas vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. Batuk panjang, membungkuk.
  1. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
  1. Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan perdarahan.

Kolaborasi

Berikan sesuai indikasi :

Analgesic;

antiansietas, misalnya lorezepam ( ativan ), diazepam ( valium )

Meminimalkam stimulasi / meningkatkan relaksasi

Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler dan yang memperlambat/memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya

Aktivitas yang meningkatkan vasokonstriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vascular serebral.

Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural.

Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan napas dengan mulut, menimbulkan stegnasi sekresi oral dan mengeringkan membran mukosa.

Menurunkan atau mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan system saraf simpatis

Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang di perberat oleh stress.

  1. Diagnosa keperawatan: Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Tujuan dan criteria hasil Intervensi rasional
  Mandiri

 

  1. Kaji respons pasien terhadap aktifitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat; peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktifitas (tekanan sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan diastolic meningkat 20 mmHg); dispenea atau nyri dada; keletihan dan kelemahan yang berlebihan; diaforosis; pusing atau pingsan.
  1. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy, mis, menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau penyikat gigi, melakukan aktifitas dengan perlahan.
  1. Berikan dorongan untuk melakukan aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi, berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi terhadap stress sktifitas dan, bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktifitas.

Teknik menghadap energi mengurangi penggunaan energy, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandiriaan dalam melakukan aktifitas.

  1. Diagnosa keperawatan : Penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokonstriksi.

Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi

Rasiaonal

Mandiri

  1. Pantau TD. Ukur pada kedua tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.
  1. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
  1. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.
  1. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisiaan kapiler.
  1. Catat edema umum/tertentu.
  1. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi, aktivitas/keributan lingkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
  1. Pertahankan pembatasan aktivitas, spt., istirahat di tempat tidur/kursi; jadwal periode istirahat tampa gangguan; bantu pasien melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
  1. Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman, spt., pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.
  1. Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas penglihatan.
  1. Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol TD

kolaborasi

  1. Berikan obat-obat sesuai indikasi, contoh :

Diuretic tiazid, mis., klorotiazid (diuril); hidroklorotiazid (Esidrix/HidroDIURIL); bendroflumentiazid (Naturetin);

  1. Vasodilator, mis, minoksidil (Loniten); hidralazin (Apresoline); bloker saluran kalsium, mis., nivedipin (Procarida); verapamil (Calan);
Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular. Hepertensi berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan diastolic sampai 130; hasil pengukuran diastolik di atas 130 dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama, kemudian maligna. Hipertensi sistolik juga merupakan factor resiko yang ditentukan untuk penyakit serebrovaskular dan penyakit iskemi jatung bila tekanan diastolic 90-115.

Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati/terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokuntriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena.

S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertrofi atrium (peningkatan volume/tekanan atrium). Perkembangan S3 menunjukan hipertrofi ventrikel dan kerusakan fungsi. Adanya krakles, mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik.

Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisiaan kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokonstriksi atau mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung.

Dapat mengendikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vascular.

Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis; meningkatkan relaksasi.

Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi.

Mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.

Dapat menurunkan rancangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurun TD.

Respons terhadap terapi obat “stepped” (yang terdiri atas diuretic, inhibitor simpatis, dan vasodilator) tergantung pada individu dan efek sinergis obat. Karena efek samping tersebut, maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah paling sedikit dan dosis paling rendah.

Tiazid mungkin digunakan sendiri atau dicampur dengan obat lain untuk menurunkan TD pada pasien dengan fungsi ginjal yang relative normal. Diuretic ini memperkuat agent-agent anti hipertensif lain dengan membatasi retensi cairan.

Mungkin dipergunakan untuk mengobati hipertensi berat bila kombinasi diuretic dan inhibitor simpatis tidak berhasil mengontrol TD. Vasodilatasi vaskuler jantung sehat dan meningkatkan aliran darah coroner keuntungan sekunder dan terapi vasodilator.

Daftar Pustaka

-          RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien edisi 3,Marlynn E. Doenges, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler,

-          Buku Saku Patofisiologi Edisi 3 Revisi,Elizabeth J Corwin

sanitasi air

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari  4-5 hari tanpa minum air. Selain itu, air juga di pergunakan untuk memeasak, mencuci, mandi dan memersihkan kotoran yang ada di sekitar rumah. Air juga di pergunakan untuk keperluan industry, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi dan lain-lain. Penyakit-penyakit yang menyerang manusia dapat juga di tularkan dan di sebarkan melalui air. Kondisi tersebut tentu dapat menimbulkan wabah penyakit di mana-mana.

Volume air dalam tubuh manusia rata-rata 65%dari total berat badannya, dan volume tersebut sangat bervariasi pada masing-masing orang, bahkan juga bervariasi antara bagian-bagian tubuh seseorang. Bebrapa orang tubuh manusia yang mengandung banyak air, antara lain, otak 74,5%, tulang 22%, ginjal 82,7, otot 75,6%, dan darah 83%.

Setiap hari kurang lebih 2.272 liter darah di bersihkan oleh ginjal sekitar 2,3 liter di produksi menjadi urine. Selebihnya di serap kembali masuk ke aliran darah. Dalam kehidupan sehari-hari, air di pergunakan antara lain unutk kererluan minum, mandi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, melarut obat dan pembawah bahan ruangan industry.

Di tinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persedian air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit masyarakat. Volume rata-rata kebutuahn  air individu perhari berkisar antara 150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan dan kebiasaan masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

Ø  GOLONGAN AIR

Air secara bakteriologis dapat di bagi menjadi beberapaa golongan berdasakan jumlah Bakteri koliform yang terkandung dala 100 cc sampel air/MPN.

Golongan – golongan air tersebut antara lain :

1.      Air tanpa pengotoran:mata air (artesis) bebas dari kontaminasi baktri koliform dan pathogen atau zat kimia beracun.

2.      Air yang sudah mengalami proses dinfeksi:MPN <50/100cc

3.      Air dengan penjernihan lengkap:Minasi kuman atau bibit penyakit MPN <5000/100cc

4.      Air dengan penjernihan tidak lengkap; MPN >5000/100 cc

5.      Air dengan penjernihan khusus (water purification);MPN >250.000/100 cc

MPN di sini mewakili most probable number (jumlah terkaan terdekat dari bakteri koliform Dalam 100 cc air ).

Ø  SUMBER AIR BERSIH DAN AMAN

Air yang di peruntukan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan Aman. Batasan-batasan sumberr air yang bersih dan aman tersebut,antara lain:

1.      Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit.

2.      Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun.

3.      Tidak berasa dan tidak berbau.

4.      Dapat di pergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestic dan rumah tangga.

5.      Memenuhi standar inimal yang di tentukan oleh WHO atau Depatemen kesehatan RI.

Air yang dinyatakan tercema bila menandung bibit penyakit,parasit,bahanbahan kimia yang berbahaya,dan sampah atau limbah industri .

Ø AIR DAN PENYAKIT

Penyakit yang menyerang manusia dapt di tularkan dan menyebar secara Langsung Maupun tidak langsung melalui air. Penyakit tersebut sebagai waterborne disease atau water-related disease. Terjadinya suatu penyakit tertentu memerlukan adanya agens dan terkadang vector. Berikut beberapa contoh penyakit yang dapat di tularkan melalui air berdasarkan tipe agens penyebabnya.

1.      Penyakit viral, misalnya ,hepatitis viral ,poliomyelitis

2.      Penyakit bacterial, misalnya, kolera,disentri,tifoid, diare

3.      Penyakit protozoa , misalnnya amebiasis,giardiasis

4.      Penyakit hilmentik, misalnya askariasis, whip worm,hydatid disease.

5.      Leptospiral, misalnya weil`s disease.

Beberapa penyakit yang di terkadang membutuhkan hospes, biasa di sebut sebagai aquatic host.hospes akuatik tersebut berdasarkan sifat mulyiplikasinya dalam air terbagi menjadi dua, yaitu :

1.      Water multiplied :Contoh penyakit dari hospes semacam ini adalah skistosomiasis (vector keong ).

2.      Not multiplied : contoh agens penyakit dari hospes semacam ini adalah cacing guinea dan fish tape worm (vector cyclop ).

Sementara itu, penyakit-penyakit yang berhubngan dngan air dapat di bagi dalam kelompok-kelompok bedsarkan cara penularanya. Mekanisme penularan penyakit sendiri terbagi menjadi 4,yaitu :

1.      Waterborrne mechanism

Di dalam mekanisme ini, kuman pathogen dalam air yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia ditularkan kepada manusia melalui mulut atau sistem. Contoh penyakit yang dtularkan melalui mekanisme ini antara lain kolera, tifoid, hepatitis viral, disentri basiler, dan poliomyelitis.

2.      Waterwashed mechanism

Mekanisme penularan semacam ini berkaitan dengan kebersihan umum dan perseorangan. Pada mekanisme ini terdapat tiga cara penularan,yaitu:

a.       Infeksi melalui alat pencernaan, seperti diare pada anak-anak.

b.      Infeksi pada kulit dan mata, seperti scabies dan trachoma.

c.       Penularan melalui binatang pengerat seperti pada penyakit leptospirosis.

3.      Water-based mechanism

Penyakit yang ditulakan dengan mekanisme ini memiliki agens penyebab yang menjalani sebagian siklus hidupnya di dalam tubuh vector atau sebagai intermediate host yang hidup di dalam air. Contohnya skistosomiasis dan penyakit akibat dracunculus medinensis.

4.      Water-related insect vector mechanism

Agens penyakit ditularkan melalui gigitan serangga yang berkembang biak di dalam air. Contoh penyakit dengan mekanisme penularan semacam ini adalah filariasis, dengue, malaria, dan yellow fever.

Ø  SUMBER AIR

Air yang berada di permukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan letak sumbernya, air dapat dibagi menjadi air angkasa (hujan), air permukaan, dan air tanah.

Ø  AIR ANGKASA (HUJAN)

Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi. Walau pada saat presipitasi merupakan air yang paling bersih,air tersebut cenderung mengalami pencemaran ketika berada di atmosfer itu dapat disebabkan oleh partikel debu, mikroorganisme, dan gas, misalnya, karbon dioksida, nitrogen, dan amonia.

Ø  AIR PERMUKAAN

Air permukaan yang meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, telaga, waduk, rawa, terjun, dan sumber permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Air hujan tersebut kemudian akan mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah, maupun lainnya.

Ø  AIR TANAH

Air tanah (ground water) berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian mengalami perkolasi atau penyerapan kedalam tanah dan mengalami proses filtrasi secara alamiah. Proses-proses yang telah di alami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya kebawah tanah, membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingkan air permukaan.

Air tanah memiliki beberapa kelebihan disbanding sumber air lain. Pertama,air tanah biasanya bebas dari kuman penyakit dan tidak perlu mengalami proses purifikasi atau penyernihan. Persediaan air tanah juga cukup tersedia sepanjang tahun, saat musim kemarau sekalipun. Sementara itu, air tanah juga memiliki beberapa kerugian atau kelemahan disbanding sumer air lainnya . air tanah mengandung zat-zat mineral semacam magnesium, kalsium, dan logam berat seperti besi dapat menyebabkan kesadahan air. Selain itu, untuk mengisap dan mengalirkan air ke atas permukaan, diperlukan pompa.

Ø  SIKLUS HIDROLOGI

Siklus hidrologi merupakan suatu fenomena alam. Hidrologi sendiri merupakan suatu ilmu yang mempelajari siklus air pada semua tahapan yang dilaluinya, mulai dari proses evaporasi, kondensasi uap air, presipitasi, penyerapan air di permukaan bumi, penyerapan air ke dalam tanah, sampai berlangsungnya proses daur ulang. Secara umum, pergerakan air dialam terdiri dari berbagai peristiwa, yaitu ;

Ø    Penguapan (evaporasi)

Ø    Pembentukan awan (kondensasi)

Ø    Peristiwa jatuhnya air ke bumi/hujan (presitipasi)

Ø    Aliran air pada permukaan bumi dan didalm tanah.

Ø    Air Tawar

Air tawar terdiri dari 3 bagian, yaitu :

a.       Air Hujan

Air hujan merupakan jenis air yang paling murni. Namum perjalannya turun ke bumi, air hujan akan melarutkan partikel-partikel debu dan gas yang terdapat dalam udara, misalnya gas CO­­­­­­­­2, gas N2O3, dan gas S2O3 sehingga beberapa reaksi kima berikut dapt terjadi dalam udara.

v  Gas CO2 + air hujan         asam kabonat

v  Gas S2O3 + air hujan        asam sulfat

v  Gas N2O3 + air hujan        asam nitrit

Dengan demikian, air hujan yang sampaidi permukaan bumi sudah tidak murni dan reaksi di atsa dapat mengakibatkan keasaman pada air hujan sehingga akan terbentuk hujan asam (acid rain).

 

 

b.      Air Permukaan

Air pemukaan merupakan salaha satu sumber penting bahan baku air bersih. Faktor-faktor yang harus di perhatikan, antara lain :

v  Mutu atau kualitas baku

v  Jumlah atau kuantitas

v  Kontinuitasnya

Di bandingkan dengan sumber air lain, air permukaan merupakan sumber air yang paling tercemar akibat kegiatan manusi, fauna, flora, dan zat-zat lain.

Sumber-sumber air permukaan, antara lain sungai, selokan, rawa, parit, bendungan, danau, laut, dan air terjun. Air terjun dapat di pakai untuk sumber air di kota-kota besar karena air tersebut sebelumnya sudah di bendung oleh alam dan jatuh secara gravitasi. Air ini tdak tercemar sehingga tidak membutuhkan purifikasi bakterial.

Sumber air permukaan yang bersal dari sungai, selokan, dan parit mempunyai persamaan, yaitu airnya mengalir dan dapat menghanyutkan bahan yang tercemar. Sumber air permukaan yang berasal dari rawa, bendungan dan danau memiliki air yang tidak mengalir, tersimpan dalam waktu yang lama, dan mngandung sisa-sisa pembungkusan tumbuh-tumbuha, ganggang, fungi, dan lain-lain. Air permukaan yang berasal dari air laut mengandung kadar garam yang tinggi sehingga jika akan di gunkan untuk air minum, air tersebut harus menjalani proses ion-exchange

c.       Air Tanah

Air tanah merupakan sebaigan air hujan yang mencapai permukaan bumi dan menyerap kedalam lapisan tanah dan menjadi air tanah. Sebelum mencapai lapisan air tanah, air hujan akan menembus beberapa lapisan tanah dan menyebabkan terjadinya kesadahan pada air (hardness of water). Kesadahan pada air menyebabkan air mengandung zat-zat mineral dalam konsentrasi. Zat-zat mineral tersebut antara lain kalsium, magnesium, dan logam berat seperti Fe dan Mn. Akibtnya, apabila kita menggunkan air sadah untuk mencuci, sabun yang kita gunkan tidak akan berbusa dan bila di endapkan akan terbentuk endapan semacam kerak.

 

Ø    Sumur

Sumur merupakan sumber utama persediaan air bersih bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan maupun di perkotaan Indonesia. Secara teknis sumur dapat dibagi manjadi 2 jenis:

a.       Sumur dangkal (shallow well)

Sumur semacam ini memiliki sumber air yang berasal dari resapan air hujan da atas permukaan bumi terutama di daerah dataran rendah. Jenis sumur ini banyak terdapat di Indonesia dan mudah sekali terkontaminasi air kotor yang berasal dari kegiatan mandi-cuci-kakus (MCK) sehingga persyaratan sanitasi yang ada perlu sekali di perhatikan.

b.      Sumur dalam (deep well)

Sumur ini memiliki sumber air yang berasal dari proses purifikasi alami air hujanoleh lapisan kulit bumi manjadi air tanah. Sumber airnya tidak terkontaminasi dan memenuhi persyaratan sanitasi.

 

Perbedaan antara sumur dangkal dan sumur dalam.

  Sumur dangkal Sumur dalam
Sumber air Air permukaan Air tanah
Kualitas air Kurang baik Baik
Kualitas bakteriologi Kontaminasi Tidak terkontaminasi
persediaan Kering pada musim kemarau Tetap ada sepanjang tahun

 

Ø Sumur Sanitasis

Sumur sanitasi adalah jenis sumur yang telah memenuhi persyaratan sanitasi dan terlindungi dari kontaminasi air kotor. Untuk membuat sumur sanitasi, persyaratan berikut ini harus dipenuhi:

a.       Lokasi

Langkah pertama adalah menentukan tempat yang tepat untuk membangun sumur. Sumur harus berjarak minimal 15 meter dan terletak lebih tinggi dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah, dan sebagainya.

b.      Dinding sumur

Dinding sumur harus di lapisi dengan batu yang di semen. Pelapisan dinding tersebut paling tidak sedalam 6 meter dari permukaan tanah.

c.       Dinding parapet

Dinding parapet merupakan dinding yang membatasi mulut sumur dan harus di buat setinggi 70-75 cm dari permukaan tanah. Dinding ini merupakan satu kesatuan dengan dinding sumur.

 

d.      Lantai kaki lima

Lantai kaki lima harus terbuat dari semen dan lebarnya lebih kurang 1 meter keseluruh  jurusan melingkar sumur dengan kemiringan sekitar 10 derajat kearah tempat pembuangan air (drainase).

e.       Drainase

Drainase atau saluran pembuangan air harus di buat menyambung dengan parit agar tidak terjadi genangan air di sekitar smur.

f.       Tutup sumur

Sumur sebaiknya di tutup dengan penutup yang terbuat dari batu terutama pada sumur umum. Tutup semacam itu dapat mencengah kontaminasi langsung pada sumur.

 

 

g.      Pompa tangan/listrik

Sumur harus di lengkapi dengan pompa tangan/listrik. Pemakaian timba dapat memperbesar terjadinya kontaminasi.

h.      Tanggung jawab pemakai

Sumur harus di jaga kebersihannya bersama-sama oleh masyarakat karena kontaminasi dapat terjadi setiap saat.

i.        Kualitas

Kualitas air perlu di jaga terus melalui pelaksanaan pemeriksaan fisik, kimia maupun pemeriksaan bakteriologi secara teratur, terutama pada saat terjadinya wabah muntaber atau penyakit saluran pencernaan lainnya.

 

Ø  Kesadahan Air

Sifat sedahan sering kali di temukan pada air yang menjadi sumber baku air bersih yang berasal dari tanah atau daerah yang tanahnya mangandung deposit garam mineral dan kapur. Air semacam ini memerlukan penanganan khusus sehingga biaya furifikasi tentunya menjadi tinggi.

Kesadahan pada air ini dapat terjadi karena air mengandung :

a.       Persenyaan dari kalsium dan magnesium dengan bikarbonat

b.      Persenyawaan dari kalsium dan magnesium dengan sulfat, nitrat, dan klorida

c.       Garam-garam besi, zink, dan silika.

Kesadahan pad air ini dapat berlangsung sementara (temporary) maupun menetap (permanent). Kesadahan air yang bersifat sementara disebabkan oleh adanya persenyawaan dari kalsium dan magnesium dengan bikarbonat, sedangkan yang bersifat permanen terjadi bila terdapat persenyawaan dari kasium dan magnesium dengan sulfat, nitrat, dan klorida.

Air untuk keperluan minum dan masak hanya di perbolehkan dengan batasan kesadahan antara 1-3 Eq/1 (50-150 ppm). Konsumsi air yang batas kesadahannya lebih dari 3 mEq/1 (150 ppm) akan menimbulkan kerugian-kerugian sebagai berikut.

Kesadahan pada air dapat di hilangkan. Metode yang dapat di gunakan untuk menghilangkan kesadahan tersebut, antra lain:

1)      Pemasakan

Pemasakan air menyebabkan terlepas atau di keluarkannya CO2 dari dalam air dan terbentuknya endapan CaCO3 yang tidak terlarut.

Ca (HCO)          CaCO3 + H2O + CO2

Cara ini sangat mahal jika di pergunakan untuk skala yang besar.

Metode untuk menghilakan kesadahan pada air

 

 

 

Kesadahan sementara                               kesadahan menetap

1.      Pemasakan                                          1. Penambahan natrium karbonat

2.      Penambahan kapur                              2. Poses pertukaran basa

3.      Penambahan natrium karbonat

4.      Proses permutit

 

2)      Penambahan kapur (Metode Clark)

Penambahan kapur pada air yang sifat kesadahannya sementara dapat mengabsorsi CO2 dan mengendapkan CaCO yang tidak terlarut. Caranya, kapur (quick lime) seberat 1 ons di masukkan ke dalam setiap 700 galon air untuk setiap derajat kesadahan air (14,25 ppm).

Ca(OH)2 + Ca(HCO3)2 2CaCO3 + 2H2O

3)                  Penambahan natrium karbonat dapat menghilangkan kesadahan sementara atau menetap

Reaksi berikut berlangsung di dalam penambahan natrium karbonat.

Na2CO3 + Ca (HCO3)2 2NaHCO3 + CaCO3

CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 +  Na2SO4

4)                 Proses pertukaran basa

Dalam melakukan pelunakan terhadap persediaan air ukuran besar. Digunakan proses Permutit.natrium permutit merupakan persenyawaan kompleks dari natrium, alimunium, dan silika (Na2Al,SiO,xH2O).

Pada proses permutit akan terjadi pertukaran kation Na dengan ion Ca dan Mg di dalam air. Semua ion Na dan Mg akan di lepas melalui reaksi pertukaran basa (base axchange) dan natrium permutit akhirnya akan menjadi kalsium dan magnesium permutit. Dengan demikian, air dapat di lunakan sampai zero hardness (tingak kesadahan nol).

Air dengan tingkat kesadahan nol  akan bersifat korosif. Dengan demikian harus di perhatikan bahwa proses perlunkan air ini perlu di lakukan sampai batas agak keras 1-3 mEq/l.

A.

B.

C.

D.

Ø  Purifikasi Air

Purifikasi air merupakan salah satu cara untuk menjernikan atau memurnikan sumber air baku guna mendapatkan air bersih. Proses ini dapat dilakukan dalam skala besar maupun skala kecil disesuaikan dengan kebutuhannya.

A.    Purifikasi air skala besar

Purifikasi air dalam skala besar dilakuakan di daerah perkotaan. Proses semacam ini biasa dilakukan di instalasi penjernihan air bersih (PAM)  melalui tahap berikut;

a)      Penyimpanan (storage)

b)      Penyaringan (filtration)

c)      Klorinasi (chlorination)

Penyimpanan (storage)

Air baku diisap atau di alirkan dari sumber seperti sungai, kali, dan sebagainya, kedalam bak penampungan alami atau bak buatan yang sudah di lindungi dari pencemaran. Air yang di simpan dalam wadah penampungan tersebut akan mengalami proses purifikasi secara alami berikut ini.

v  Proses fisik

Setelah melalui proses fisik ini, kualitas air sudah dapat di perbaiki sampai sekitar 90%. Benda-benda yang terlarut dalam air akan mengendap dalam waktu 24 jam dan air akan bertambah jerni. Proses filtarsi selanjutnya akan semakin mudah di lakukan.

v  Proses kimiawi

Selama masa penampungan juga berlangsung proses kimiawi. Dalam proses ini, bakteri aerobik akan mengoksidasi bahan-bahan organik yang tepat terdapat dalam air dengan bantuan oksigen bebas. Akibatnya, konsentrasi amonia bebas akan berkurang sementara konsentrasi nitrat justru meningkat.

v  Proses biologis

Organisme patogen berangsur-anngsur akan mati. Kesadahan semacam ini dapat terlihat jika air di simpan selama 5-7 hari. Dalam kondisi tersebut, jumlah bakteri dalam air akan berkurang sampai 90%.

Batas waktu yang optimum unutk penampungan berkisar antara 10-14 hari. Bial lebih lama akan berkembang tumbuh-tumbuhan air seperti alga yang dapat menimbulkan rasa dan bau tidak enak dan perubahan warna pada air.

Penyaringan (filtration)

Proses penyaringan atau filtrasi merupakan tahap kedua dari proses purifikasi air. Proses ini sangat penting karena mengurangi jumlah bakteri sampai sekitar 98-99% dalam air yang di hasilkan. Proses filtrasi dapat di lakuakan melalui slow sand filter (filter biologis) dan rapid sand filter (filter mekanis). Metode-metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sampai saat ini, kedua metode tersebut masi di gunakan sebagai metode standar dalam proses purifikasi air.

slow sand filter dipakai untuk proses purifikasi air dalam skala kecil, sedangkan rapid sand filter di pakai untuk proses purifikasi air dalam skala besar terutama untuk memenuhi kebutuhan penduduk di kota besar.

Slow sand ( biological ) fiter

Pada tahun 1804, scotland dan london di inggris, merupakan kota yang pertama kali mempergunakan metode slow sand filter untuk melakukan proses purifikasi pada air. Pada abad ke 19, metode tersebut telah di pergunakan secara luas di seluruh penjuru dunia dan saat ini masi di pergunakan sebagai metode standar untuk proses purifikasi air.

Komponen-komponen di dalam metode slow snad filter, antara lain :

1.      Supernatant water

Supernatant air adalah air baku yang di tampung di atas lapisan pasir dengan ketinggian bervariasi anatar 1 sampai 1,5 m. ketinggian permukaan air ini harus di pertahankan tetap dalam keadaan konstan agar :

v  Tekanan yang ada dapat membuat  air resap di sela-sela lapisan pasir.

v  Air yang akan di olah tetap tinggal selama 3 sampai 12 jam untuk menjalani proses purifikasi parisal berupa sedimentasi dan oksidasi sehingga pertikel-partikel padat dalam air akan mengendap dan berkumpul menjadi satu.

2.      Sand bed

Sand bed adalah bagian ter4penting dari proses purifikasi dan berfungsi sebagai filter. Proses purifikasi yang terjadi berupa penyaringan mekanis, sedimentasi, absorsi, oksidasi, dan bacterial action. Pada sand bed yang bar di pakai hanya terjadi proses filtrasi secara mekanis dan belum terjadi proses secara biologis setelah permukaan atas lapisan pasir suatu lapisan tipis yang di sebut lapisan schmut zcke atau zoogleal. Lapisan tipis dan bersifat gelatious ini terjadi atas anyaman alga dan beberapa mikroorganisme seperti palankton, diatoms, dan bakteri. Lapisan tersebut merupakan lapisan vital sand bed dan proses pembentukan lapisan vital yang berlangsung dengan semprna di sebut sebagai proses pematangan filter. Lapisan vital ini merupakan jantung netode slow sand filter yang berguna untuk meningkatkan bahan-bahan organik dan bakteri serta untuk mengooksidasi amonium menjadi nitrat.

 

3.      Under drainage system

Di bagian bawah dari filter box terdapat Under drainage system yang terdiri atas pipa-pipa lubang yang berfungsi sebagai saluran keluar ( outlets ) air yang telah menjalani proses filtrasi.

4.      Sistem kontrol katub filter

Outlet di lengakapi dengan katub pengatur yang berfunsi sebagai alat pengatur yang berfungsi sebagai alat pengatur dan ntuk mempertahankan kecepatan filtrasi. Resistensi dalam filter box di ukur dengan venturimeter. Jika resintensi meningkat, katub mengatur secara perlahan akan memebuka sehingga kecepatan filtrasi dapat dipertahankan antara 0,1-0.4 m­­­­­­­­­­­­­­­­­3/m2/jam.

Contoh sederhana slow sand filter dapat dilihat dalam gambar 3.3 yang menyajikan sebuah drum bekas dengan kapasitas 200 liter.

 

Dalam keadaan normal, slow sand filter dapat di pakai terus selama beberpa minggu bahkan samapai berbulan-bilan tanpa perlu di bersihkan. Pada kondisi saat resistensi filter box terus meningkat sementara kecepatan filtrasi menurun walau katup pengatur telah di buka sepenuhnya, bagian atas dari lapisan sand filter perlu di bersihkan dan di keruk smapai 1-2cm pembersihan itu dilakukan dengan cara membuang airnya terlebih dahulu dan kemudian mengganti pasir yang lama dengan yang baru

Dalam pembersihan slow sandfilter yang telah diopersikan sampai beberapa tahun atau lebih, pengukuran yang dilakukan akan mengurangi ketebalan pada lapsan sand bed sekitar 0,5-0,8 m. dengan demikian, lapisan pasir yang ada perlu di ganti dengan yang baru.

Adapun keuntungan yang diperoleh dari penggunaan metode slow sand filter, anatar lain :

1)      Mudah dibua dan dioperasikan

2)      Biaya pembuatanya lebih murah di bandingkan biaya pembuatan rapid sand filter.

3)      Proses filtrasi baik fisik, kimiawi, maupun biologis yang terjadi cukup tinggi. Pengurangan jumlah bakteri setelah proses filtrasi mencapai 99,9-99,999%, khusus E. coli mencapai 99-99,9%.

Rapid sand filter

Amerika serikat pada tahun 1885 merupakan negara pertama yang menggunkan matode rapid sand filter untuk proses purifikasi air. Saat ini terdapat 2 tipe rapid sand filter:

1) Garvity type (paterson’s filter)

2) Perssure type (candy’s filter)

Berikut tahapan di dalam proses purifikasi aiar yang menggunkan metode rapid sand filter.

1)      Koagulasi (coagulation)

Dalam proses koagulasi in, air sungai yang telah tersedot di beri zat koagulasi kimia, misalnya alum (Al2[SO4]3), denga sulfat dosis bervariasi anatara 5-40 mg/l bergantung pada turbiditas, warna, suhu, dan pH airnya.

2)      Pencampuran (mixing)

Air yang telah di beri alum dimasukan dalam bak pencampuran dan diputar sedemikian rupa selama beberapa menit sehingga terjadi diseminasi alum di dalam air.

3)      Flokulasi (flocculation)

Didalam bak flokulasi, air yang telah tercampur dengan alum di putar pela-pelan selama 30 menit untuk mengendapkan aluminium hidroksida yang terbentuk benda berwarna putih dalam air.

4)      Sedimentasi (sedimentation)

Sedimentasi adalah pengendapan flokulat bersama zat yang terlarut dalam ar beserta bakteri. Waktu yang diperlukan berkisar 2-6 jam dan paling tidak 95% flokulat itu harus telah diendapkan sebelum air dilairkan kedalam bak rapid sand filter.

Setiap unit bak penyaringan (filter bed) memiliki permukaan seluas 80-90 m2 (900 kaki2). Ukuran efektif butir pasir yang digunkan berkisar antara 0,6-2,0 mm. tinggi bak penyaringan adalam 1 m dan dibawah lapisan pasir terdapat batu-batu koral berdiamater 30-40 cm yang berfungsi sebagai penyanggah lapisan pasir diatasnya. Dibagian dasar bak penyaringan terdapat saluran pipa outlet yang berlubang-lubang. Ketinggian air di atas lapisan pasir berkisar antara 0,1-1,5 m dan keepatan filtrasi antara 5 sampai 15 m3/m2/jam. Proses filtarsi yang berlangsung cukup tinggi dan dapat mengurangi jumah bakteri sampai 98-99%.

 

5)      Filtrasi (filtration)

Sisa-sisa flok alum yang tidak mengendap pada proses sedimentasi alan menutupi permukaan lapisan pasir menyerupai lapisan zoogleal yang terbentuk pada metode slow sand filter. Lapisan berfungsi untuk mengikat bakteri yang ada dalam air. Oksidasi zat ammonia akan terjadi pada saat air melalui filter.

 

 

Back washing

Back washing merupakan metode pemberihan filter dengan cara mengalirkan air kembali melalui lapisan sand bed. Proses ini memerlukan waktu yang relatif singkat, kurang lebih 15 menit. Pada beberpa tipe rapid sand filter, misalnya Candy’s filter, bak penyaring perlu diberi tekanan udara agar proses back washing dapt dilaksanakan.

Klorinasi

Klorinasi (chlorination) adalah proses pemberian klorin kedalam air yang telah menjalani proses filtarsi dan merupakan langkah yang maju dalam proses purifikasi air. Klorin ini banyak digunakan dalam pengolahan limbah industry, air kolam renang, dan air minum di Negara-negara sedang berkembang karena sebagai desinfektan, biayanya relative murah, mudah, dan efekti. Senyawa-senyawa klor yang umum digunkan dalam proses klorinasi, antara lain, gas klorin, senyawa hipoklorit, klor dioksida, bromine klorida, dihidroisosianurate dan kloramin.

Tabel 3.2 perbandingan antara slow sand filter dan rapid sand filter.

Spesifikasi Slow sand filter Rapid sand filter
1.      Ruangan

2.      Kecepatan filtrasi

3.      Butir pasir efektif

4.      Prelimanary treatment

5.      Pemebersihan filter

6.      Operasi

7.      Efek turbiditas

8.      Menghilangkan warna

9.      Menghilangkan bakteri

Perlu ruangan besar

0,1-0,4  m3/m2/jam

0,15-0,35 mm

Plain coagulation

Pengerukan lapisan atas

Sederhana

Baik

Sedang

 

99,9-99,99%

Perlu ruangan kecil

5-15 m3/m2/jam

0,6-2,0 mm

Koagulasi kimia

Back washing

Perlu tenaga terdidik

Baik

Baik

 

98-99,9%

Berikut beberapa kegunaan klorin:

a)      Memiliki sifat bakterisidal dan germisidal

b)      Dapat mengoksidasi zat besi, mangan, dan hydrogen sulfide.

c)      Dapat menghilankan bau dan rasa tidak enak pada air.

d)     Dapat mengontrol perkembangan alga dan ornagisme pembentuk lumut yang dapat mengubah baud an rasa pada air.

e)      Dapat membantu proses koagulasi.

Cara kerja klorin

Klorin dalam air akan berubah menjadi asam klorida. Zat ini kemudian di netralisasi oleh sifat basa dan air sehingga akan terurai menjadi ion hydrogen dan ion hipoklorit. Perhatikan reaksi kimia berikut

H2O + Cl2 HCl +HOCl

HCOl              H+ + OCl-

Klorin sebagai disenfektan terutama bekrja dalam bentuk asam hipoklorit (HOCl) dan sebagian kecil dalam bentuk ion hipoklorit (OCl-). Klorin dapat bekerja dengan efektif sehingga desinfektan jika berada dalam air dengan pH sekitar 7. Jika nilai pH air lebih dari 8,5, maka 90% dari asam hippokorit itu akan mengalami ionisasi menjadi ion hipoklorit. Dengan demikian, khasiat desinfektan yang memiliki klorin menjadi lemah atau berkurang.

Prinsip-prinsip pemberian klorin

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan ketika melakukan proses klorinasasi, antara lain:

1.      Air harus jerni dan tidak keruh karena kekeruhanpada air akan menghambat proses klorinasi.

2.      Kebutuhan klorin harus diperhitungkansecara cermatagar dapat dengan efektif mengoksidasi bahan-bahan organik dan dapat membunuh kuman pathogen dan meninggalkan sisa klorin bebas dalam air.

3.      Tujuan klorinasi pada air adalah unutk mempertahankan sisa klorin bebas sebesar 0,2 mg/l did lam air. Nilai tersebut merupakan margin of safety (nilai batas keamanan) pada air untuk membunuh kuman pathogen yang mengantominasi pada saat penyimpanan dan pendistribusian air.

4.      Dosis klorin yang tepat adalah jumlah klorin dalam air yang dapat di pakai untuk mebunuh kuman pathogen serta untuk mengoksidasi bahan organik dan untuk mniggalkan sisa klorin bebas sebesar 0,2 mg/l dalam air.

Metode klorinasi

Pemberian klorin pada disenfeksi pada air dapat diakaukan melalui beberapa cara yaitu dengan pemberian :

a)      Gas klorin.

b)      Kloramin.

c)      Perkloron

Gas klorin merupakan pilihan utama karena harganya murah, kerjanya cepat, efisien, dan mudah digunakan. Gas klorin harus digunakan secara hati-hati karena ini beracun dan dapat menimbulkan iritasi pada mata. Alat klorinasi berbahan gas klorin ini disebut sebagai chloronome equipments. Alat yang sering dipakai adalah paterson’s chloronome yang berfungsi untuk mengukur dan mengatur gas klorin pada persedian air.

Kloramin dapat juga dipakai dan merupakan prsenyawaan lemah dari klorindan anaomia. Zat ini kurang memberikan rasa klorin pada air dan sisa klorin bebas di dalam air lebih persisten walau kerjanya lambat dan tidak ssuai untuk klorinasi dalam skala besar.

Perkloron sering juga disebut sebagai high test hypochlorite. Zat ini merupakan persenyawaan antara kalsium dan 65-75% klorin yang diepaskan didalam air.

Pemeriksaan konsentrasi klorin

Titk batas (break point) konsentrasi korin bebas dalam air kurang lebih 0,2 mg/l. konsentrasi korin bebas tersebut diukur melalui pemeriksaan orthotolidine arsenite (OTA test). Berikut beberapa pemeriksaan yang berkaitan dengan pemastian ada tidaknya klorin daam air.

 

1. Orthotolidine arsenite test

Orthotolidine arsenite test pertama kali dilakukan pada tahun 1918 untuk mengetahui adanya klorin bebas di dalam air. Reagennya berupa bahan Analytical Grade Ortholidine yang dilarutkan dalam 10% asam hipoklorit.

Cara pemeriksaannya adalah bahwa sebanyak 0,1 ml larutan OT dimasukan kedalam 1 ml sampel air dan diperhatikan reaksi yang terjadi. Jika mengandung klorin, sampel air itu akan berubah warna menjadi kuning. Perubahan warna itu kemudian di bandingkan dengan warna standar yang tersedia. Kelamahan uji ini adalah bahwa warna kuning dapat dihasilkan baik oleh sisa klorin bebas maupun oleh klorin yang terikat (combined chlorine) sehingga pemeriksaan lebih lanjut perlu di lakukan.

2. Orthotolidine arsenite Test (OTA Test)

Pemeriksaan merupakan modifikasi dari OT Test diatas. Uji ini dpat memisahkan dan bereaksi dengan klorin bebas. Hal yang paling penting adalah bahwa uji ini dapat menentukan konsentrasi atau kadar klorin yang bebas I dalam air.

 

 

 

Dampak klorinasi air

Proses klorinasi yang dilakukan pada air yang mengandung bahan-bahan organic dengan konsentrasi tinggi akan membentuk senyawa halogen organik yang mudah menguap (volatile halogenated organics), biasadi singkat dengan VHO. Senyawa-senyawa VHO tersebut sebagian besar di temukan dalam bentuk trihalomethane (THM).

Ttrihalomethane (THM) dapat di temukan pada jenis air yang berikut.

1.      Air minum

Pada hasil pmeriksaan terhadap air minum yang mengalami proses klorinasi, baik dngan gas klorin, natrium hipoklorin (NaClO), maupun dengan klodioksida (ClO2), ditemukannya adanya senyawa TMH. Padahal, sebelum menjalani proses klorinasi, kandungan bahan organik air tersebut telah dihilangkan dan hasil analisis sebelumnya menujukan ketiadaan THM. Kadar THM maksimum yang trdeteksi adalah 41,8 ug/l.

2.      Air kolam renang

Pada pemeriksaan terhadap air kolam renang yang telah menjalani desinfeksi, juga didapat senyawa THM dengan kadar yang ternyata lebih tinggi dari pada kadar THm dalam air minum. Kondisi tersebut akibat lebih besarnya kandungak bahan organic juga didapat dari keringat dan urine yang berenang.

3.      Air permkaan dan air tanah

Air tanah di beberapa wilayah mengandung baha organic dalm konsentrasi yang tinggi yang dapat membahayakan kesehatan. Dalam tubuh manusia lebih dari 50,6% THM akan tumbuh menjadi CO2, tetapi kondisi ini tergantung pada kepekaan individu. Damapak yang paling cepat pada kesehatan adalahhilangnya kesadaran, yang dapat diikuti dengan keadaan koma dan kematian. Kadar total THM 30 ug/l dalam air minum telah direkomendasikan dengan konsumsi rata-rata 2 liter/hari.

Seperti dikatakan diatas, oses klorinasi pada air yang mengandung bahan organic dapat mengakibatkan terbentuknya Ttrihalomethane (THM) yang berbahaya bagi kesehatan. Untuk menurunkan konsentrasi THM dalam air yang akan menjalani klorinasi harus dihilangkan dulu penyebabnya, yaitu zat-zat organic. Selain itu dapat juga dilakukan penggantian desinfektan yang tidak menyebabkan terbentuknya THM.

Berikut beberapa alternative yang dapat dilakukan ntuk menghilangkan penyebab terbentuknya THM.

1.      Memindahkan proses klorinasi kebagian paling akhir agar kandungan bahan organic dalam air sudah hilang sebelum roses klorinasi.

2.      Jika klorinasi dilakukan setelah proses koagasi dan pengendapan atau setelah pross pelunakan dan pengendapan, proses-proses tersebut perlu di perbaiki untuk mengoptimalkan penghilangan bahan –bahan organic.

3.      Optimalisasi proses-prose pendahulan sebelum proses klorinasi untuk menghilangkan bahan-bahan organik.

4.      Penggunaan abdorsen (karbon aktif) untuk menghilangkan bahan-bahan organik sebelum proses klorinasi.

5.      Memperbaiki kualitas air baku atau memilih sunber alternative yang tidak mengandung bahan organik dalam konsentrasi tinggi.

6.      Penggunaan kombinasi cara-cara tersebut dan cara mereduksi dosis klorin, jika dapat, sebaiknya dilakukan tanpa mempengaruhi efek desinfeksi.

Bergantian dengan jenis desinfektan, beberapa desinfektan laternatif berikut dapat menghasilkan THM dalam konsentrasi yang sangat kecil atau bahakan tidak ada sama sekali.

1.      Klorin bebas, korin dioksida

2.      Kloramin

3.      Ozon

Dalam keadaan darurat, untuk mengatasi masalah sumber air minum yang terkonsentarsi THM, air tersebut harus direbus dahulu sebelum dipakai sebagai air minum. THM akan hilang bila air direbus sampai mendidih selama 3-5 menit.

Ozon

Penggunaan ozom unutk proses purifikasi air telah dilakuakn oleh beberapa Negara. Ozom memiliki kemampuan yang besar untuk mengoksidasi asam organik dalam skala yang luas selain juga kemampuan untuk memecahkan dinding sel mikroorganisme. Kemampuannya yang terakhir tentu menyebabkan penggunaan ozon sangat efektif untuk membunuh mikroorganisme dalam air. Kemampuannya itu menyebabkan ozon banyak di manfaatkan dalam instalasi pengolahan air.

Berikut beberapa keuntungan di dalam penggunaan ozon.

1.      Sebagai disinfektan berspektrum luas

2.      Menghilangkan bau, warna, dan rasa

3.      Menambah kandungan oksigen dalam air

4.      Proses desinfeksi cepat

5.      Dalam konsentrasi rendah masih bisa berfungsi

6.      Tidak membentuk senyawa beracun dalam air

7.      Tidak menimbulkan masalah yang berhubungan dengan pengangkutan bahan bakunya

Adapun kerugian di dalam penggunaan ozon, antara lain :

1.      Biaya tinggi, terutama pada penyediaan alatnya

2.      Harus memiliki pembangkit ozon dengan sumber energy listrik yang besar

3.      Perawatan dan operasional cukup rumit

4.      Sisa ozon tidak dapat di pertahankan pada air untuk waktu lama

5.      Lebih mahal di bandingkan dengan klorin

 

Purifikasi Air Skala Kecil

Uraian di bawah ini berkaitan dengan beberapa contoh yang lazim kita temukan dalam purifikasi air skala kecil.

Purifikasi air di rumah

Ada tiga metode yang sering di pakai untuk melakukan purifikasi air di rumah ketiganya dapat di gunakan seara sendiri atau kombinasi sebagai berikut.

1.      Pemasakan

Memasaka air merupakan cara yang paling baik untuk melakukan proses purifikasi air di rumah . agar lebih efektif, air di biarkan tetap mendidih antara 5 – 10 menit. Dalam kisaran waktu tersebut, proses pendidihan di harapkan telah mematikan semua kuman, spora, kista, atau telur sel lain menjadikan air bersifat steril. Di samping itu, proses pendidihan juga dapat mengurangi kesadahan sementara ( temporary Hardness ) air karena penguapan CO2 dan pengendapan CaCO3 .

2.      Desinfeksi kimia

a.       Bubuk pemutih ( kaporit, CaOCl2 )

Bubuk pemutih ( bleaching powder ) merupakan bubuk berwarna putih dengan bau seperti klorin dan harus di simpan di tempat gelap,kering, dan tertutup rapat . wadahnya terbuat dari bahan anti karat. Pada air yang mengelami tingkat pencemaran cukup parah dan berwarna keruh, pemberian klorin scara langsung kurang baik dan tidak efektif

b.      Larutan klorin

Larutan klorin dapat di buat dari bubuk pemutih denagancra sebagai berikut.sebanyak 4 kg bubuk kaporit yang mengandung 25% klorin di campur dengan 20 L air , yang berarti terdapat 5 % klorin dalam larutan ini.seperti halnya bubk kaporit, larutan klorin ini juga mudah rusak jika terkena sinar matahari dan tidak dapat di simpan lama.

c.       High test hypochlorite ( HTH )

High test hypochlorite juga di sebut sebagai perkloron yang merupakan persenyawaan kalsium dengan kadar klorin 60 – 70%. zat ini lebih stabil dibandingkan dengan bubuk kaporit dan mudah di simpan.

d.      Tablet klorin

Tablet klorin dapat berupa tablet halazone, chlor de chlor, hydrochlonazone yang banyak di jual di pasaran.tablet klorin cukup baik jika di pakai sebagai desinfektan air dalam skala kecil.sebanyak 100mg klorin dapat di pakai untuk mendesinfeksi 2 galon air yang memiliki turbiditas 500 ppm dan residua chlorine bebas dalam iar 2mg / L.

e.       Iodine

Iodine merupakan desinfektan yang paling baik terutama utuk proses desinfeksi air dalam skala kecil, tetapi harganya cukup mahal jika akan digunakan sebagai desinfektan air dalam skala besar. Sebanyak 2 tetes 2%dalam larutan ethanol sudah cukup untuk mendesinfektan yang efektif, perlu waktu sekitar 20-30 menit.

f.       Kalium permanganat ( KMNO4)

Kalium permanganat adalah zat oksidan yang kuat tetapi tidak tetap jika dipakai  untuk mendesinfeksi air. Walau efektif terhadap vibrio cholarea, zat ini kurang efektif terhadap mikrooragnisme lain disamping dapat menimbulkan perubahan waran, rasa, dan bau pada air sehingga kurang di sukai untuk desinfeksi air.

3.      Filtrasi

Air dalam skala kecil dapat di filtrasi dengan menggunkan ceramic filter semacam Pasteur chamberland filter, dan katadyn filter. Chamberland filter memiliki suatu bagian berbentuk lilin dan terbuat dari proselein, sementara berkefeld filter mamiliki suatu bagain yang terbuat dari kieselgurf atau infusorial earth, sedangakn katadyn filter dilapisi dengan silver catalyst. Filter-filter tersebut hanya dapat menyaring bakteri tetapi tidak dapat menyaring virus.

 

 

 

Desinfeksi air sumur

Metode yang paling efektif dan murah untuk melakukan proses desinfeksi pada air sumur adalaha dengan menggunakan bubuk pemutih (bleaching poedwr). Langka-langkan dalam mendesinfeksi air sumur, antara lain :

1.      Menetukan/ mengukur volume air yang terdapat di dalam sumur dengan :

a.       Mengukur dalamnya permukaan air (h) meter

b.       Mengukur penampangan sumur (d) meter

c.       Substitusi hdan d dalam rumus :

Volume )liter) = 3,14 x d2 x h

2.      Menetukan kadar kaporid yang di perlukan untuk mendesinfeksi sumur. Umumnya di perlukan sekitar 2,5 g kaporit unutk mendesinfeksi 1000 liter air atau 0,7 mg klorin per liter air.

3.      Melarutkan kaporit di dalam air.

Sebanyak 100 g kaporit dimasukan ke dalam ember yang berisi air secukupnya dan dibuat menjadi pasta tipis. Ke dalam campuran itu di tambahnkan air 3/4 ember dan di aduk perlahan sampai rata. Biarkan selama 5-20 menit untuk mengendapkan zat kalsium yang trdapat dalam kaporit. Air yang terdapat di atas endapan di pindahkan ke ember lain, endapan kalsium yang ada bila di masukan ke dalam air sumur akan menimbulkan kesadahan pada air.

4.      Memasukkan larutan klorin ke dalam sumur.

Ember yang berisi larutan klorin di derek ke bawah sumur sampai berada jauh di bawah permukaan air. Air sumur di aduk dengan menggerakan ember kearah vertikal dan lateral beberapa kalai sampai larutan klorin bercampur rata dengan air sumur.

5.      Periode kontak

Air sumur yang sudah  menjalani proses klorinasi di biarkan sampai 30 menit atau lebih sebelum air dapat di timba untuk dikonsumsi.

6.      Orthotolidine arsenite test

Setelah 30 menit dari periode kontak, residual chlorine yang bebas dalam air dapat diperiksa dengan menggunkan OTA test. Jika ternyata kadar klorin bebas kurang dari 2 mg/l, proses klorinasi perlu diulang kebali sebelum sumber air di pergunakan. Pada saat terjadi epidemik kolera, sumur yang ada perlu di desinfeksi setiap hari.

Desinfeksi air sumur juga dapat dilakukan dengan metode double pot. Metode oubelpot merupakan suatu cara desinfeksi yang sederhana dan efektif yang di pakai saat keadaan darurat ketika diperlukan adanya dosis klorin yang mantap dalam air sumur untuk beberapa waktu 2-3 minggu. Metode ini banyak dipakai dan sukses di beberapa negara.

 

Berikut prosedur desinfeksi yang menggunkan metode double pot.

1.      Buat campuran 1 kg kaporit dan 2 kg pasir kasar dengan penampangan efektif 2mm.

2.      Masukan campuran itu kedalam pot kecil sampai pada batas 3 cm di bawah lubang, kemudian masukan pot itu kedalam pot besar.

3.      Tutup mult pot besar itu dengan polietilen foil dan hubungkan dengan tali.

4.      Celupkan double pot itu kedalam air dengan kedalaman kurang dari 1 meter di bawah permukaan air. Jaga agar pot tetap pada posisi tersebut dengan mengikat tali yang tersambung padanya.

Metode ini terbukti sangat efektif selama 2-3 minggu unutk sumur keluarga kecil yang mengandung air 4.500 liter dengan jumlah pemakaina antara 360-450 liter/hari.

Pemeriksaan air dan kriteria kesehatan persediaan air

Untuk kepentingan masyarakat sehari-hari, persediaan air harus memenuhi standar air minum dan tidak membahayakan kesehatan manusia. Menurut WHO, standar-standar air minum yang harus dipenuhi agar suatu persediaan air dapat dinyatakan layak sebagai air minum :

1.      Memenuhi persyaratan fisik

2.      Memenuhi persyaratan biologis

3.      Mengadung zat-zat kimia

4.      Mangandung radioaktif.

Negara maju lebih menekankan standar kimia, sedangkan negara berkembang lebih menekankan standar biologis.

Berikut standar-standar unutk kelayakan air minum yang berlaku di indonesia, menurut Permenkes RI No.01/birhubmas/I/1975.

1.      Standar fisik : suhu, warna, rasa, bau, kekeruhan

2.      Standar biologis : kuman parasit, patogen, bakteri golongan koli ( sebagai patokan adanya pencermaran tinja )

3.      Standar kimia : pH, jumlah zat padat, dan bahan kimia lain

4.      Standar radioaktif : radioaktif yang mungkin ada dalam air.

Pemeriksaan air yang lengkap unutk memenuhi standar air minum yang sehat terdiri atas:

1.      Survei saniter (sanitaty survey)

2.      Pngambilan sampel (sampling)

a.       Fisik

b.      Kimia

c.       Bakteriologis

d.      Virologi

e.       Biologis

f.       Radiologis

Survei saniter

Srvei saniter (sanitary survey) merupakan pengumpulan data dari tempat dan sumber persediaan air. Data yang di kumpulakan, antara lain, sumber pencemaran, cara distribusi air, dan informasi lain yang ada kaitnya dengan kepentingan sanitasi.

Survei harus dilakukan oleh orang terlatih dan memiliki keahlian di bidang sanitasi. Hasil-hasil pemeriksaan laboratorium harus di konfirmasi dengan data-dat dari hasil survei sebelumnya sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sumber air yang telah di periksa memang aman dan tidak berbahay bagi masyarakat.

Pengambilan sampel

Penagmbilan sampel (sempling)yang baik merupakan kegiatan yang penting. Sampel yang di ambil harus refresentatif atau mewakili dari sumber air yang akan di periksa dan bebas dari kontaminasi. Tehnik pengambilan sampel bergantung pada tujuan pemeriksaan, apakah untuk pemriksaan bakteriologis atau kimia.

Pemeriksaan laboratorium

Seperti telah disebutkan, ada beberapa tip pemriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan fisik, kimia, bakteriologis, virologis, biologis, dan pemeriksaan radiologis.

Pemeriksaan fisik

Karakteristikfisik dari air minum dinyatakan dalam satuan yang absolut dan respon yang subjektif. variabel-variabel yang di periksa di dalam pemeriksaan fisik ini, antara lain :

a.       Turbiditas (kekeruhan)

Air minum harus bebas dan kekeruhan. Turbiditas dapat di ukur dengan alat yang di sebut turbidimeter. Salah satu turbidimeter standar adalah Jackson Candle Turbidimeter. Sementara batasan turbiditas yang di perbolehkan adalah kurang dari 5 nit.

b.      Warna

Air yang bersih harus jernih atau tidak boleh berwarna,. Pemeriksaan warna dapat dilakukan dengan kalorimeter. Batas yang di perbolehkanuntuk air minum adalah kurang dari 15 unit.

c.       Bau dan rasa

Air minum harus bebas dari bau dan rasa. Bau (odor) diukur secara subjektif terhadap air yang telah menjalani pengenceran serial. Pemeriksaan juga dilakukan pada larutan yang paling encer, yang masi terdeteksi baunya, jumlah pengenceran merupakan odor number dari air yang di periksa.

Rasa dalah subjektivitas yang sulit dispesifikasikan. Respon terhadap rasa dan bau bersifat subjektif dan becampur sehingga sulit dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif. Nilai amabang bau (threshold odor number) adalah 3.

Periksaan kimia

Karakteristikkimia air minum di tentukan berdasrkan kandungan bahn-bahan kimia di dalamnya. International standard of drinking water dan WHO membagi komponen bahan kimia dalam air menjadi 4 kelompok, yaitu:

1.      Bahan toksin

Batas maksimal (NAB) yang di perbolehkan (dalam satuan mg/l)

  • Arsenik 0,05
  • Kadium 0,005
  • Sianida 0,05
  • Timbal 0.05
  • Merkuri 0,001
  • Selenium 0,01

Adanya substansi yang di sebut di atas ini dengan konsentrasi melampaui batasan maksimal yang diperbolehkan pada air minum tidak di perkenankan unutk di pergunkana oleh masyarakat. Contohnya: penyakit minamata akibat keracunan Mercury di Jepang.

2.      Substansi yang dapat menimbulkan bahaya unutk kesehatan.

a.       Flourida

Dari zat-zat kimia yang mungki terkandung di dalam air minum, flurida (F) merupakan zat kimia yang sifatnya unik karena memiliki dua konsentarsi batas (konsentarsi atas dan konsentarsi bawah) yang dapat menimbulkan efek yang merugikan dan menguntungkan terhadap gigi dan tulang. Konsentarsi flourida yang berlebihan dalam air minum untuk masa waktu yang lama dapat menimbulkan flourosis komulatif endemik, berupa kerusakn tulang rangka pada anak dan orang dewasa. Bila konsentrasi flourida dalam air minum kurang dari 0,5 mg/l, dapat penigkatan insidensi penyakit karies gigi pada anka-anak. Batasan yang aman untuk flourida adalah 0,5-0,8 mg/l.

b.      Nitrat

Nitrat dalam konsentarsi .45mg/l dapat membahayakan anak-anak dan menimbulkan metahemoglobinemia infantile.

c.       Plynuclear aromatic hydrocarbon

Zat ini dapat bersifat karsinogenik. Konsentarinya dalam air minum ,0,2 ug/l.

3.      Bahan-bahan yang mempengaruhi potabilitas air

WHO membuat suatu criteria bahan-bahan yang dapat mempengaruhi potabilitas air, yaitu, batasan maksimal yang diperolehkan:

a.       Perubahan warna 5 unit

b.      Perubahan bau (unojctionable)

c.       Perubahan rasa (unobjectionable)

d.      pH 7,0-8,5

e.       total solid 500 mg/l

f.       total hardness 2 mEq/l

g.      besi 0,1 mg/l

h.      mangaan 0,05 mg/l

i.        tembaga 0,05 mg/l

j.        zink 5,0 mg/l

k.      kalsium 75 mg/l

l.        magnesium 30 mg/l

m.    sulfat (SO4) 200 g/l

n.      klorida 200 mg/l

o.      substansi phenolic 0,001 mg/l

4.      bahan kimia sebagi indicator pencemaran

a.       klorida

semua sember air yang ada, termaksud air hujan, mangandung zat klorida.kadar klorida bervariaswi antar-tempat sementara di daerah dekat laut, kadar klorida cenderung tinggi. Zak klorida dapat di gunakan sebagai indikator adanya pencemaran, yaitu dengan mengukur terlebih dahulu kadar klorida pada sumber air yang diperkirakan tidak mengalami pencemaran di sekitar lokasi sumber air yang akan di periksa. Jika hasil pemeriksaan menunjukan kadar klorida yang lebih tinggi di bandingkan kadar klorida pada sumber air yang terdapat di sekitarnya, dapat di pastikan bahwa sumber tersebut telah mengalami pencemran.

b.      Anomia bebas (free and saline ammonia)

Ammonia bebas merupakan hasil proses dekomposisi benda-benda organik. Keberadaan anomia bebas dalam sumber air menunjukan adanya pencemaran oleh kotoran binatang  atau manusia. Batas anomia bebas yang di pereolehkan <0,5 mg/l di dalam air minum.

c.       Amonia albuminoid

Ammonia albuminoid merupakan bagian dari proses dekomposisi benda-benda organic yang belum mengalami oksidasi. Sumber air tanah tidak boleh mengandung amonia albuminoid. Jika terjadi hasil pemeriksaan menunjukan adanya perembesan dari limbah kotoran manusia, batas yang di perbolehkan 0,1 mg/l.

d.      Nitrit

Dalam keadaan normal, nirit tidak di temukan dalam air minum, kecuali dalam air yang berasal dari air tanah akibat adanya proses reduksi nitrat oleh garam besi. Apabila hasil pemeriksaan menunjukan adanya nitrit (walau konsentrasinya rendah, perlu di curigai adanya pencemaran.

e.       Nitrat

Adanya nitra dalam sumber air minum menunjukan adanya bekas pencemaran yang lama dan batasan yang di perolehkan tidak lebih dari 1 mg/l.

f.       Oxygen adsorbed

Kadar oksigen yang diabsorpsi oleh air dapat di gunakan sebagai approximate test terhadap kadar oksigen yang di absorpsi oleh bahan-bahan organic dalam air. Kadar oksigen yang di absorpsi oleh air pada temperatur 37oC dalam waktu 3 jam tidak boleh >1mg/l

g.      Dissolved oxygen

h.      Kadar oksigen yang di lepaskan oleh air tidak boleh <5 mg/l. pemeriksaan kimia lengkaphanya dapat di lakukan pada pemeriksaan sumber air baru, sedangkan dalam pemriksaan rutin selanjutnya dapat di lakukan uji-uji semacam  pemeriksaan pH, oxidizability, amonia, nitrit, nitrat, klorida, amonia albumniod, dan zat besi.

Pemeriksaan bakteriologis

Pemeriksaan bakteriologis merupakan pemeriksaan yang paling baik dan sensitive untuk mendeteksi kontaminasi air oleh kotoran manusia. Mikroorganisme yang sering di periksa sebagai indicator pencemaran oleh feses, antara lain:

1.      Organisme kolifrom

Organisme kolifrom merupakan organism nonspora yang motil dan nonmotil, berbentuk batang, dan mampu memfermentasi laktosa untuk menghasilkan asam dan gas pada temperatur 37oC da dalam waktu 48 jam. Contoh tipikal kolifrom tinja adalah E. coli dan kolifrom nontinja adalah klebsiella aerogeus. Keberadaan E. coli dalam sumber air merupakan indikasi pasti terjadinya kontaminasi ti ja manusia. Ada beberapa alas an mengapa organisme kolifrom di pilih sebagai indikator terjadinya kontaminasi tinja di bandingkan kuman patogen lain yang terdapat di saluran pencernaan manusia, antara lain:

a.        Jumlah organisme kolifrom cukup banyak dalam usus manusia. Sekitar 200-400 miliar organisme ini di keluarkan melalui tinja setiap harinya. Karena jarang sekali di temukan dalam air, keberadaan kuman ini dalam air member bukti kuat adanya kontaminasi tinja manusia.

b.      Organisme ini lebih mudah di deteksi melalui metode kultur (walaupun hany terdapat 1 kuman dalam 100 cc air) di bandingkan tipe kumanpatogen lainnya.

c.       Organism ini lebih tahan hidup di bandingkan dengan kuman usus patogen lainnya.

d.      Organisme ini lebih resisten terhadap proses purifikasi air secara alamiah. Bila colifrom organism ini di temukan dalam sampel air maka dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa kuman usus patogen yang lain dapat juga di temukan dalam sempel air tersebut di atas walupun dalam jumlah yang kecil.

2.      Streptokokus tinja

Organism ini biasaya di temukan dalam tinja bersam dengan E.coli. pada kasus-kasus yang tidak jelas sterptokokus tinja ini di gunakan sebagai indikator untuk uji pembuktian (compirmatory test) adanya konfirmasi tinja manusia.

3.      Clostridium perfringens dan clostridium welchii

Organism ini dapat di temukan dalam feses manusia dalam jumlah kecil. Sporanya dapat bertahan lama dalam air dan biasanya resiten terhadap dosis klorinasi normal. Keberadaan Cl. Perfringens bersama E.coli dalam air menunjukan terjadinya kontaminasi baru, sebaliknya jika yang di temukan hanya Cl. Perfringens, kontaminasi terjadi setelah waktu berselang.

Pengujian yang biasa di lakukan pada pemriksaan bakteriologis air, antara lain:

1.      Presumptive colifrom test

a.       Multiple tube method

b.      Membrane filtration method

c.       Primary health care technique

2.      Koliny count

3.      Pemeriksaan streptokokus tinja dan Cl. Perfringens

Presumptive colifrom test

Pemeriksaan ini terbagi 3 tipe, antara lain:

a.       Multiple tube method

Dasar dari pemeriksaan ini adalah estimasi jumlah paling memungkinkan (most propable number, MPN)organism kolifrom di dalam 100 cc air.

Prosedur : sediakan satu sedi tabung yang mengandung media Mc conkey’s lactose bile salt broth dan bromcresal purple sebagai indikator. Untuk setiap 5 tabung, masukan sampel air yang akan di periksa masing-masing sebanyak 0,1 cc; 1cc; dan 10cc. sampai tabung dalam inkobator selama 48 jam pada tempetarur 37oC. jika dalam sempel terdapat kontaminasi tinja maka organisme kolifrom  akan mempermentasi laktosa yang kemudian menghasilkan asam dan gas di dalam tabung. Dari jumlah tabung positif dapat di temukan MPN organism kolifrom dalam 100cc sampel air.

Konfirmasi hasil tes : tabung yang menunjukan hasil positif di ambil sampelnya dan di-inokulasikan pada 2 tabung yanag berisi brilliant green bile lactose broth. Tabung pertama di masukan dalam incubator selama 48 jam pada temperatur 37o C dan tabung kedua di masukan dalam inkunator selama 48 jam pada temperatur 44oC. E.coli merupakan satu-satunya oragisme kolifrom yang dapat membentuk gas dari lactose pada temperatur 44oC.

b.      Membrane filter technique

Teknik filter mebran ini di temukan oleh Goetz dari german pada tahun 1947. Teknik ini telah di pakai oleh beberapa Negara sebagai standar di dalam melakukan pemeriksaan terhadap organisme kolifrom.

Prosedur : sampel ini kurang lebih 500 cc di saring dengan membrane khusus yang terbuat dari bahan cellulose ester. Semua bateri akn melekat dan tinggal di atas permukaan mebran. Bakteri yang melekat itu kemudian di pindahkan ke atas lapisan kapas atau tissue yang mengandung cairan endomedial/eosin methylene blue medium dan di simpan dalam inkubator selama 20 jam pada temperature 37oC. bila terdapat organisme kolifrom dalam sampel air maka akan terbentuk koloni-koloni bakteri berwarna merah dan hitam mengkilap.

c.       Primary health care technique

Prinsipnya hamper sama dengan membrane filter technique dan di gunakan di lapangan saat terjadi wabah penyakit muntaber dan hanya dapat di pakai sebagai indikator untuk uji pembuktian adanya kontaminasi tinja manusia.

Colony count

Penghitunga koloni hanya memberikan gambaran perkiraan secara umum terhadap derajat pencemaran yang terjadi. Bila penghitungan koloni di lakukan hany 1 kali tidak akan memberikan banyak arti, tetapi bila di lakukan bebrapa kali sumber yang sama dalam beberapa interval waktu, hasilnya dapat di jadikan indikasi dini terjdi suatu pencemaran.

Contoh:

Penghitungan I             0 koloni

Penghitungan II           2 koloni

Penghitungan III         3 koloni

Dengan demikian, dapat di simpulkan  bahwa telah menjadi suatu pencemaran oleh organisme kolifrom pada sumber air yang ada.

Pemeriksaan sterptokokus tinja dan Cl. Perfringens

Apa bila hasil pemeriksaan sampel air tidak jelas, tetapi di temukan keberadaan streptokokus tinja dan Cl. Perfringens dalam sampel itu, hasil tersebut dapat di pakai sebagai indikasi yang kuat adanya kontaminasi sumber air oleh tinja manusia.

Berikut standar bakterilogis air minum yang tercantum dalam international standar for drinking water (1971) dari WHO.

a.       Kapan saja sepanjang tahun, 95% dari sampel air yang di periksa tidak boleh mengandung organisme kolifrom per 100 ml.

b.      Tidak satupun sampel air yang boleh mengandung E.coli per 100 ml.

c.       Tidak ada dari sampel air yang boleh mengandung lebih 10 organisme kolifrom per 100 ml.

d.      Dalam setiap sampel yang di ambil berturut-turut tidak boleh di temukan organisme kolifrom per 100 ml.

Pemeriksaan virologist

Secara umum dapat di katakana bahwa air yang mangandung klorine bebas dapat di nyatakan bebas dari virus apabila di dalam sampel air tersebut tidak terdapat sama sekali mikroorganisme kolifrom. Sebaliknya, pada sumber air yang kaya bahan organic  sementar klorine bebas tidak dapat membebaskan diri, walau organisme kolifrom tidak di temukan sama sekali, air yang ada tidak dapat di anggap bebas dari virus dan perlu di jui melalui pemeriksaan virologist. Virus yang resisten terhadap dosis klorinasi adalah virus polio dan hepatitis.

Pemeriksaan biologis

Jasad renik termaksud alga, fungi, protozoa, udang cacing halus, dan lain-lain yang di sebut sebagai plankton dapat menimbulkan rasa dan bau tidak enak pada air minum dan dapat juga di pergunakan sebagai indeks pencemaran pada air.

Cara pemeriksaan ; ambil smapel air sebanyak 500-1.000 ml. tanpa bahan pengawet, periksa langsung sampel tersebut di bawah mikroskop. Jika dari pembesaran mikroskop tampak organisme uniselular dalam sampel air organisme itu selanjutnya akan di bedakan menjadi dua kelompok, kelompok A (pembawa klorofil) dan kelompok B (nonpembawah klorofil).

Berikut rumus yang dapat di gunakan dalam penghitungan indeks biologis pencemaran (biological index of pollution).

BIP =   A     X 100

A + B

Keterangan hasil perhitungan BIP :

0-8       : jerni

0-20     : agak teremar (slighty polluted)

20-60   : terecemar (polluted watrer)

60-100 : sangat recemar (grossly polluted)

BIP di prgunakan sebagi bahan perbandingan dari pemeriksaan bacteriologis dan kimia dalam menetukan derajat pencemaran air.

Pemeriksaan radiologis

Pencemaran pada sumber air oleh bahan-bahan radiologis dapat di pastikan melalui metode radio-chemical analysis. Batasan pencemaran yang di perolehkan oleh WHO (1971) dalam international standar of drinking water, antara lain:

a.       Gross alpha activity 3pci/l

b.      Gross betha activity 30 pci/l

Distribusi sumber air

Ada 2 jenis system distribusi sumber air yang sering di lakukan, intermittent suplly dan continous supply. Di antara ke dua system tersebut, system intermiten (tidak teratur) perlu mendapat perhatian lebih besar karena banyaknya kerugian yang di timbulkan akibat penerapan sisten ini. Kerugian tersebut, di antaranya :

a.       Pipa-pipa dalam keadaan kosong pada saat darurat.

b.      Penduduk terpaksa menyediakan tempat penampungan air yang terkadang dapat tercemar jika cara penyimpanan kurang baik.

c.        Pada keadaan pipa sedang kosong akan tejadi tekanan negatif yang disebut back siphoning. Akibat tekanan ini, bakteri dan gas beracun dapat terisap ke dalam pipa-pipa yang bocor yang selanjutnya akan menimbulkan wabah penyekit pada masyarakat.

WHO ExpretCommittee (1965) memberikan rekomendasi yang sangat kuat bahwa penerapan sistem intermiten di dalam pendistribusian air dan low pressure service tidak baik untuk kesehatan dan perlu di hindari.

Pemberian flourida pada air minum

Kekurangan dan kelebihan kadar flourida dlm air minum dpt menimbulkan bbrp masalah kesehatan. Kekurangan flourida dlm air minum dpt menimbulkan karies pd gigi, smtara kelebihan kadar flourida dpt mnimbulkan flourosis gigi dan tulang.

WHO (1969) merekomendasikan pemberian zat flourida (melaui proses flourisasi) pd sumber air minum u/ masy. Dgn nilai asupan flourida berada di bawah atas optimal untuk mencengah terjadinya karies gigi. Batas kadar flourida yg di perolehkn sekitar 0,5-0;8 ppm.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari  4-5 hari tanpa minum air. Selain itu, air juga di pergunakan untuk memeasak, mencuci, mandi dan memersihkan kotoran yang ada di sekitar rumah. Air juga di pergunakan untuk keperluan industry, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi dan lain-lain. Penyakit-penyakit yang menyerang manusia dapat juga di tularkan dan di sebarkan melalui air. Kondisi tersebut tentu dapat menimbulkan wabah penyakit di mana-mana.

Di tinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persedian air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit masyarakat. Volume rata-rata kebutuahn  air individu perhari berkisar antara 150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan dan kebiasaan masyarakat.

B.     Saran

Pemberian penyuluhan tentang jenis – jenis air bersih kepada masyarakat harus terus di lakukan agar masyarakat tahu ciri,cara dan jenis – jenis air bersih serta dapat mengetahui air yang tidak bersih dan bahaya dari konsumsi air yang tidak bersih.

 

DAFTAR PUSTAKA

ü  Dikutip dari buku kesehatan lingkungan Dr. Budiman, Chandra. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Cetakan I. EGC : Jakarta.

 

 

 

cairan dan elektrolit dalam tubuh manusia

BAB I.

PENDAHULUAN

Kehidupan manusia sangat bergantung pada apa yang ada di sekelilingnya termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu makan dan minum lebih kurang 60% berat badan orang dewasa pada umumnya terdiri dari cairan (air dan elektrolit). Faktor yang mempengaruhi jumlah cairan tubuh adalah umur, jenis kelamin, dan kandungan lemak dalam tubuh. Secara umum orang yang lebih muda mempunyai persentase cairan tubuh yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang lebih tua, dan pria secara proporsional mempunyai lebih banyak cairan tubuh dibanding dengan wanita. Orang yang lebih gemuk mempunyai jumlah cairan yang lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang lebih kurus, karena sel lemak mengandung sedikit air. Cairan tubuh terdiri dari dua kompartemen cairan, yaitu: ruang intra seluler (cairan dalam sel) dan ruang ekstra seluler (cairan luar sel). Kurang lebih 2/3 cairan tubuh berada dalam kompartemen cairan intra sel, dan kebanyakan terdapat pada massa otot skeletal. 60 % berat badan tubuh adalah :  a.Cairan intrasel (CIS) 40 % dari berat badan  b.Cairan ekstrasel (CES) 20 % dari berat badan yang terdiri dari cairan intravaskuler (plasma) 5 % dari berat badan, dan cairan interstisil 15 % dari berat badan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh.           Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.    2. Proportion Of Body Fluid Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung beberapa hal antara lain : a.    Umur  b.    Kondisi lemak tubuh c.    Sex Perhatikan uraian berikut ini :  no    umur    prosentase 1    bayi    75% 2    dewasa     a.  b.  3    Pria ( 20 – 40 tahun )  Wanita ( 20 – 40 tahun )  Lanjut Usia    60%  50%  45 – 50 % Pada orang dewasa kira-kira 40 % baerat badannya atau 2/3 dari TBW-nya berada di dalam sel (cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 1/3 dari TBW atau 20 % dari berat badannya berada di luar sel (ekstraseluler) yaig terbagi dalam 15 % cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler.  3. Elektrolit Utama Tubuh Manusia Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif. Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun pada plasma terinci dalam tabel di bawah ini :  No. Elektrolit Ekstraseluler Intraseluler Plasma Interstitial 1. Kation : • Natrium (Na+) 144,0 mEq 137,0 mEq 10 mEq • Kalium (K+) 5,0 mEq 4,7 mEq 141 mEq • Kalsium (Ca++) 2,5 mEq 2,4 mEq 0 • Magnesium (Mg ++) 1,5 mEq 1,4 mEq 31 mEq 2. Anion : • Klorida (Cl-) 107,0 mEq 112,7 mEq 4 mEq • Bikarbonat (HCO3-) 27,0 mEq 28,3 mEq 10 mEq • Fosfat (HPO42-) 2,0 mEq 2,0 mEq 11 mEq • Sulfat (SO42-) 0,5 mEq 0,5 mEq 1 mEq • Protein 1,2 mEq 0,2 mEq 4 mEq a. Kation : • Sodium (Na+) : – Kation berlebih di ruang ekstraseluler – Sodium penyeimbang cairan di ruang eesktraseluler – Sodium adalah komunikasi antara nerves dan musculus – Membantu proses keseimbangan asam-basa dengan menukar ion hidrigen pada ion sodium di tubulus ginjal : ion hidrogen di ekresikan – Sumber : snack, kue, rempah-rempah, daging panggang.  • Potassium (K+) : – Kation berlebih di ruang intraseluler – Menjaga keseimbangan kalium di ruang intrasel – Mengatur kontrasi (polarissasi dan repolarisasi) dari muscle dan nerves – Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis.  • Calcium (Ca++) : – Membentuk garam bersama dengan fosfat, carbonat, flouride di dalam tulang dan gigi untuk membuatnya keras dan kuat – Meningkatkan fungsi syaraf dan muscle – Meningkatkan efektifitas proses pembekuan darah dengan proses pengaktifan protrombin dan trombin – Sumber : susu dengan kalsium tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll. b.Anion : • Chloride (Cl -) : – Kadar berlebih di ruang ekstrasel – Membantu proses keseimbangan natrium – Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster – Sumber : garam dapur • Bicarbonat (HCO3 -) : Bagian dari bicarbonat buffer sistem – Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk menurunkan PH. • Fosfat ( H2PO4- dan HPO42-) : – Bagian dari fosfat buffer system – Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel – Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang – Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA. 4. Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh   Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu  a.    Fase I  Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal. b.    Fase II             Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel  c.    Fase III  Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan cara :  • Diffusi • Filtrasi • Osmosis • Aktiv Transport Diffusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas. Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu :  • Permebelitas membran kapiler dan sel • Konsenterasi • Potensial listrik • Perbedaan tekanan.           Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang tinggi. Perpindahan zat terlarut melalui sebuah membrane sel yang melawan perbedaan  konsentrasi dan atau muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif berbeda dengan transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium dan natrium. Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam bagian plasma dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua bagian itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang terutama disebabkan oleh albumin serum. Proses perpindahan cairan dari kapiler ke ruang interstisial disebut ultrafilterisasi. Contoh lain proses filterisasi adalah pada glomerolus ginjal. Meskipun keadaan di atas merupakan proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu keadaan yang disebut keseimbangan dinamis atau homeostatis.  5. Regulating Body Fluid Volumes           Di dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman. Dalam kondisi normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang terjadi. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilanagn caiaran antara lain melalui proses penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urine), ekresi pada proses metabolisme. a.    Intake Cairan :  Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-lira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang diperlukan berdasarkan umur dan berat badan, perhatikan tabel di bawah ini :  No                            Umur      berat badan ( Kg ) Kebutuhan cairan ( mL/24 jam ) 1    3 hari    3,0    250 – 300 2     1 tahun       9,5    1150 – 1300 3    2 tahun       11,8    1350 – 1500 4    6 tahun                                                                         20,0    1800 – 2000 5    10 tahun                                                                       28,7    2000 – 2500 6    14 tahun                                                                       45,0    2200 – 2700 7    18 tahun ( adult )                                                       54,0    2200 – 2700 Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di otak Sedangakan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal.   b.    Output Cairan : Kehilangan caiaran tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :  a.Urine :  Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam. Pada orang dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh.  b.IWL (Insesible Water Loss) :  IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat.  c.Keringat  Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit.  d.Feces : Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).    6. Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit  Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain : a.Umur  Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung. b.Iklim : Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.  c.Diet  Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema. d.Stress  Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah. e.Kondisi Sakit  Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh Misalnya  – Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL. – Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh  – Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri. f. Tindakan Medis  Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti :suction, nasogastric tube dan lain-lain. g.Pengobatan  Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh padakondisi cairan dan elektrolit tubuh.  h.Pembedahan  Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan.  7. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh  Tiga kategori umum yang menjelaskan abnormalitas cairan tubuh adalah : • Volume • Osmolalitas • Komposisi Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi cairan ekstraseluler (ECF) dan menyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama, sehingga berakibat pada kekurangan atau kelebihan volume ekstraseluler (ECF).  Ketidakseimbangan osmotik terutama mempengaruhi cairan intraseluler (ICF) dan menyangkut bertambahnya atau kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif tidak seimbang. Gangguan osmotik umumnya berkaitan dengan hiponatremia dan hipernatremia sehingga nilai natrium serum penting untuk mengenali keadaan ini. Kadar dari kebanyakan ion di dalam ruang ekstraseluler dapat berubah tanpa disertai perubahan yang jelas dari jumlah total dari partikel-partikel yang aktif secara osmotik sehingga mengakibatkan perubahan komposisional.  a.    Ketidakseimbangan Volume  • kurangan Volume Cairan Ekstraseluler (ECF)  Kekurangan volume ECF atau hipovolemia didefinisikan sebagai kehilangan cairan tubuh isotonik, yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama. Kekurangan volume isotonik sering kali diistilahkan dehidrasi yang seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang relative mengakibatkan hipernatremia. – airan Isotonis adalah cairan yang konsentrasi/kepekatannya sama dengan cairan tubuh, contohnya : larutan NaCl 0,9 %, Larutan Ringer Lactate (RL). – Cairan hipertonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekatannya melebihi  cairan tubuh, contohnya Larutan dextrose 5 % dalam NaCl normal, Dextrose 5% dalam RL, Dextrose 5 % dalam NaCl 0,45%.  – Cairan Hipotonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekataannya kurang dari cairan tubuh, contohnya : larutan Glukosa 2,5 %., NaCl.0,45 %, NaCl 0,33 % • Kelebihan Volume ECF :  Kelebihan cairan ekstraseluler dapat terjadi bila natrium dan air kedua-duanya tertahan dengan proporsi yang kira- kira sama.Dengan terkumpulnya cairan isotonik yang berlebihan pada ECF (hipervolumia) maka cairan akan berpindah ke kompartement cairan interstitial sehingga mnyebabkan edema. Edema adalah penunpukan cairan interstisial yang berlebihan. Edema dapat terlokalisir atau generalisata. b.Ketidakseimbangan Osmolalitas dan perubahan komposisional  Ketidakseimbangan osmolalitas melibatkan kadar zat terlarut dalam cairan- cairan tubuh. Karena natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif secara osmotik dalam ECF maka kebanyakan kasus hipoosmolalitas (overhidrasi) adalah hiponatremia yaitu rendahnya kadar natrium di dalam plasma dan hipernatremia yaitu tingginya kadar natrium di dalam plasma. Pahami juga perubahan komposisional di bawah ini :  • Hipokalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum kurang dari 3,5 mEq/L. • Hiperkalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum lebih dari atau sama dengan 5,5 mEq/L. • Hiperkalemia akut adalah keadaan gawat medik yang perlu segera dikenali, dan ditangani untuk menghindari disritmia dan gagal jantung yang fatal.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Air adalah komponen pembentuk tubuh yang paling banyak jumlahnya. Pada orangdewasa kurang lebih 60 % dari berat badan adalah air (air dan elektrolit), 2/3 bagian berada di intrasel, dan 1/3 bagian berada di ekstrasel. 60 % berat badan tubuh adalah :  a.Cairan intrasel (CIS) 40 % dari berat badan  b.Cairan ekstrasel (CES) 20 % dari berat badan yang terdiri dari cairan intravaskuler (plasma) 5 % dari berat badan, dan cairan interstisil 15 % dari berat badan.  Elektrolit utama  a.Dari CES : Natrium (N = 135 – 147 mEq/liter), Klorida (N = 100 – 106 mEq/liter) b.Dari CIS : Kalium (N = 3,5 – 5,5 mEq/liter), Phospat (N = 3 – 4,5 mg/liter) Cairan dan elektrolit merupakan factor yang dominan dalam menjalankan fungsi tubuh.

Riwayat alamiah penyakit

BAB I.

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Ditinjau dari proses yang terjadi pada orang sehat, menderita penyakit dan terhentinya penyakit tersebut dikenal dengan nama riwayat alamiah perjalanan penyakit (natural history of disease) terutama untuk penyakit infeksi. Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural.

B.     Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah diharapkan pembaca dapat :

1.      Mengetahui dan memahami konsep riwayat alamiah perjalanan penyakit.

2.      Mengetahui dan memahami tahap-tahap dalam riwayat alamiah penyakit

C.     Manfaat penulisan

Dengan dibuatnya penulisan makalah ini dapat memberikan manfaat pengetahuan tentang riwayat alamiah perjalanan penyakit.

BAB II.

PEMBAHASAN

A.    Apa Itu Riwayat Alamiah Penyakit

Riwayat alamiah penyakit (natural history of disease) adalah deskripsi tentang perjalanan waktu dan perkembangan penyakit pada individu, dimulai sejak terjadinya paparan dengan agen kausal hingga terjadinya akibat penyakit, seperti kesembuhan atau kematian, tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif maupun terapeutik (CDC, 2010c). Riwayat alamiah penyakit merupakan salah satu elemen utama epidimiologi deskriptif (Bhopal, 2002, dikutip Wikipedia, 2010). Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural. Riwayat alamiah penyakit perlu dipelajari.

Pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit sama pentingnya dengan kausa penyakit untuk upaya pencegahan dan pengendalian penyakit. Dengan mengetahui perilaku dan karakteristik masing-masing penyakit maka bisa dikembangkan intervensi yang tepat untuk mengidentifikasi maupun mengatasi problem penyakit tersebut (Gordis, 2000; Wikipedia, 2010).

Keadaan sehat – sakit merupakan hasil interaksi antara host-agent-environment. Pencegahan penyakit selain informasi host-agent-environment, perlu diketahui riwayat perkembangan penyakit.

B.     Manfaat riwayat mempelajari alamiah perjalanan penyakit :

  1. Untuk diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai pedoman penentuan jenis penyakit, misal dalam KLB (Kejadian Luar Biasa)
  2. Untuk Pencegahan : dengan mengetahui rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
  3. Untuk terapi : terapi biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan awal penyakit, adalah waktu yang tepat untuk pemberian terapi, lebih awal terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan.

C. Tahapan
Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :

a.  Tahap Pre-Patogenesa

  • Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. Keadaan ini disebut sehat.

b.  Tahap Patogenesa
Fase Suseptibilitas (Tahap Peka)

1)        Pada fase ini penyakit belum berkembang, tapi mempunyai faktor resiko atau predisposisi untuk terkena penyakit.

2)        Faktor resiko tersebut dapat berupa :

  • Genetika/etnik
  • Kondisi fisik, misalnya : kelelahan, kurang tidur dan kurang gizi.
  • Jenis kelamin.

Wanita mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit diabetes mellitus dan reumatoid artiritis dibandingkan pria dan sebaliknya pria berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan hipertensi dibandingkan wanita.

  • Umur

Bayi dan balita yang masih rentan terhadap perubahan lingkungan mempunyai resiko yang tinggi terkena penyakit infeksi sedangkan pada usia lanjut mempunyai resiko untuk terkena penyakit jantung dan  kanker.

  • Kebiasaan hidup

Kebiasaan hidup kurang sehat aeperti merokok mempunyai resiko untuk terkena penyakit janutng dan karsinoma paru-paru.

  • Sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi yang rendah mempunyai resiko terkena penyakit hipertensi, penyakit jantung koroner, gangguan kardiovaskuler, dll. Karena pada dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi mempunyai kecenderungan untuk terjadinya perubahan pola konsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi.

3)        Untuk menimbulkan penyakit, faktor-faktor diatas dapat berdiri sendiri atau kombinasi beberapa faktor. Contoh : kadar kolesterol meningkat akan mengakibatkan terjadinya penyakit jantung koroner.

a)        Fase Subklinis

1.        Disebut juga Fase Presimptomatik

2.        Pada tahap ini penyakit belum bermanifestasi dengan nyata (sign dan symptom masih negatif), tapi telah terjadi perubahan-perubahan dalam jarinagn tubuh (struktur ataupun fungsi)

3.        Kondisi seperti diatas dikatakan dalam kondisi “Below The Level of Clinical Horizon”

4.        Fase ini mempunyai ciri-ciri :

Perubahan akibat infeksi  atau pemaparan oleh agent penyebab penyakit masih belum nampak. Pada penyakit infeksi terjadi perkembangbiakan mikroorganisme patogen sedangkan pada penyakit non-infeksi merupakan periode terjadinya perubahan anatomi dan histologi, misalnya terjadinya ateroskelotik pada pembuluh darah koroner yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah.

b)        Fase Klinis

1.        Pada fase ini perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan tubuh telah cukup untuk memunculkan gejala-gejala (symptom) dan tanda-tanda (signs) penyakit.

2.        Fase ini dibagi menjadi fase akut dan kronis.

c)        Fase Konvalescen

1.        Akhir dari fase klinis dapat berupa :

Fase Konvalescen (penyembuhan)

Meninggal dunia

2.        Fase Konvalescen dapat berkembang menjadi :

Sembuh total

Sembuh dengan cacat (disabilitas atau sekuele)

Penyakit menjadi kronis

3.        Disabilitas (kecacatan atau ketidakmampuan)

Terjadi penurunan fungsi sebagian atau keseluruhan dari struktur/organ tubuh tertentu sehingga menurunkan fungsi aktivitas seseorang secara keseluruhan. Dapat bersifat : sementara (akut), kronis dan menetap.

4.        Sekuele

Lebih cenderung kepada adanya defect/cacat pada struktur jaringan sehingga menurunkan fungsi jaringan dan tidak sampai mengganggu aktivitas seseorang.
2)  Tahap Penyakit Dini

  • Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat. Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan, karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan.
  • Tahap penyakit dini ini sering menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat, terutama jika tingkat pendidikan penduduk rendah, karena tubuh masih kuat mereka tidak datang berobat, yang akan mendatangkan masalah lanjutan, yaitu telah parahnya penyakit yang di derita, sehingga saat datang berobat sering talah terlambat

3)  Tahap Penyakit Lanjut

  • Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.

c. Tahap Pasca Patogenesis

Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu :

  1. Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita penyakit.
  2. Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh. Sayangnya kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada pejamu. Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat fisik yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
  3. Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala penyakit memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih ditemukan bibit penyakit yang pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh berkurang, penyakit akan timbul kembali. Keadaan karier ini tidak hanya membahayakan diri pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena dapat menjadi sumber penularan
  4. Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya pejamu tetap berada dalam keadaan sakit.
  5. Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh, tetapi karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari setiap tindakan kedokteran dan keperawatan.

D.      Gambar Riwayat Alamiah Penyakit

E. Upaya Pencegahan

Gambar Tingkat Upaya Pencegahan

v  Primordial Prevention (Pencegahan Tingkat Awal)

  • Menghindari obesitas
  • Menghindari rokok
  • Perilaku hidup bersih dan sehat
  • Mengindari bahan pengawet, pewarna
  • Makan bergizi seimbang
  • Istirahat cukup
  • Olah raga teratur

v  Primary Prevention (Pencegahan Tingkat Pertama)

  • Pendidikan kesehatan
  • Imunisasi
  • PSN-3M
  • Konsul genetika
  • Sterilisasi alat
  • Memakai sarung tangan
  • Memaki masker

v  Secondary Prevention (Pencegahan Tingkat Kedua)

  • Diagnosis awal
  • Pengobatan cepat dan tepat
  • Kemo-profilaksis
  • Screening (pencarian penderita dengan gejala umum)

v  Tertiary Prevention

  • Mencegah penyakit agar tidak bertambah parah
  • Mencegah: kematian, kecacatan
  • Rehabilitasi: fisik, mental, social

BAB III.

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Riwayat alamiah penyakit menerangkan perjalanan suatu penyakit mulai dari tahap prepatogenesis samapai pada tahap post pathogenesis.

Tahap Prepatogenesis

  • Kondisi Host masih normal/sehat
  • Sudah ada interaksi antara Host dan Agent, tetapi Agent masih diluar Host
  • Jika interaksi Host, Agent dan Environment berubah → Host jadi lebih rentan atau Agent jadi lebih virulen → Agent masuk ke Host (memasuki tahap patogenesis)

Tahap Patogenesis

  • Tahap Inkubasi → tahap mulai masuknya Agent kedalam Host, sampai timbul gejala sakit
  • Tahap penyakit dini → tahap mulainya timbul gejala penyakit dalam keadaan awal (ringan)
  • Tahap penyakit lanjut → tahap penyakit telah berkembang pesat dan menimbulkan kelainan patologis dan gejalanya

Tahap Post Patogenesis

  • Tahap penyakit akhir → tahap berakhirnya perjalanan penyakit, dapat dalam bentuk;
  • Sembuh sempurna → Agent hilang, Host pulih dan sehat kembali
  • Sembuh dengan cacat → Agent hilang, penyakit tidak ada → Host tidak pulih sempurna (ada bekas gangguan/cacat)
  • Karier →Agent masih ada, Host pulih → gangguan Agent masih ada (minimal)

B.     Saran

PERCOBAAN BIOKIMIA

1.      REAKSI BIURET

 

BAHAN

-         putihtelur

-         larutan CuSO4

-         NaOH 10%

Cara kerja

 

Ø  Keluarkanputihtelur (5ml + air (6 x 5/10 x 5) sampaiputihteluritumenjadiencer.

Ø  Setelahputihtelurmenjadiencer,putihtelurtersebutdipanaskansampaiterjadiendapan.

Ø  Setelahputihtelur yang dipanaskanterjadiendapan,putihteluritudisaringdenganmenggunakancoronguntukdiambilairnya.sedangkanendapandibuang.

Ø  Dan air saringannyadibagidalam 2 tabung

  • Yang mengendap                                              :ovo globulin.
  • Yang terapung/busa/serumnya/sisanya   : albumin.

 

Campuranpertama

Ø  Setelahdisaringairnyadipipetkankedalamtabungsebanyak 2ml (40 tetes).

Ø  Setelahdidalamtabung air saringanitudicampurdengancairanNaOHsebanyak 2ml.

Ø  SetelahdicampurNaOHlarutantersebutdicampurdengan CuSO4 (0,1%)  dancampurantersebutmenjadiberwarnaungu.

Campurankedua

Ø  Saringan air putihtelur yang telahdisaringpadatabungkedua,dicampurdengancairan HNo3 sebanyak 2ml,lalu dipanaskandanlarutanmenjadibewarnakuning

Ø  Kemudiandinginkandibawahkrandantambahkantetes demi teteslarutan alkalipekat.

 

2.      Kelarutan protein padakondisilingkunganekstrim

 

BAHAN

-         Putihtelur

-         H2SO4 pekat

-         Larutan timbale asetat

-         Larutan HgCI2

CARA KERJA

 

Campuranpertama

Ø  Putihtelurdisarigdenganmenggunakanpenyaringataucorong

Ø  Setelahdisaring ,pipetkan 2ml putihtelurtersebutkedalalamtabungreaksi yang pertama

Ø  Setelahberadadidalamtabungreaksi,tabungreaksitersebutdipanaskandenganpenangas air mendidih

Ø  Dengantujuannyauntukmelihatapakahterjadiendapanatautidak

 

Campurankedua

Ø  putihtelur yang disaringlaludipipetkanpadatabungkeduadicampurdengankimia H2SO4 sebanyak 1ml.

Ø  Putihtelur yang telahdicampurituakanmenggumpaldancairanputihtelurituakanberubahwarnayamenjadibeningdariwarnanya yang semulayaituwarnaputihagakkabur (krem).

 

Campuranketiga

Ø  Putihtelur yang telahdisaringdandipipetkankedalamtabung yang ketigadicampurdenganlarutantimbalasetattetes demi tetessampaiterjadiperubahan.

Ø  Putihtelurakanterjadigumpalan/endapandancairantersebutberubahwarnanyamenjadiputihterang

Ø  Endapanyngterjaditidaksemuaatautidakseluruh

 

Campurankeempat

Ø  Putihtelur yang di saring yang telahdipipetkanpadatabungkeempatdicampurdengan HgCI2 terjadiendapan yang kecil-kecildanmenjadiwarnaputihbening, danpenggumpalanakanterjadiperlahan-lahan.

 

 

PRAKTIKUM SALIVA

UJI MUSIN

Ujimolish

a)      Tujuan

Memperlihatkan, bahwadalam air liurterdapatkarbohidrat yang diantaranya

Cara kerja

Campuranpertama

Ø  Pipetkan 1ml liurkedalamtabungreaksi

Ø  Kemudiandioleskanpadakertas PH

Ø  SetelahdioleskanpadakertasPH,kertas yang mengandung air liurtersebutdidekatkanpadatabel PH untukmelihatnilai PH dari air liurtersebut.

 

Campurankedua

Ø  Air liur yang adadidalamtabungditeteskancairanasamasetat 2n 10%

Ø  Setelahdicampur, disaringlaludibagimenjadi 2 bagian

 

v  Tabung yang pertamaair yang disaringdicampurkandengancairan BaCl2 5% sebanyak 1ml.dan reaksitersebutterjadiendapanreaksi BaSO4 danwarnanyaputihkeruh

v  Tabung yang keduadicampurkandengancairan AgNO3 sebanyak 3tetes, danlarutan HNO3 sebanyak 4 tetes,danlarutantersebutterjadiendapandanberwarnalembyun (ungu)

 

 

 

 

A.     UJI AMILASE

 

Bahan

-         Air liur

-         Larutanpati 1%

-         Larutanlugol

-         Aqua des

 

Cara kerja

 

Ø  Air liur yang didalamtabungditambahkanlarutanpati 1ml, dancairanlugol 1ml, danwarnanyaberubahmenjadiberwarnabirukemudianmerahdan yang terakhirmenjaditidakberwarna.

Ø  Aqua des didalamtabungditambahkanlarutanpati 1ml danlarutanlugol 1ml.dan cairantersebutmenjadiberwarnaungu.

ppt DBD/DHF

« Previous entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.