Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal

alhamdulillah akhirnya bisa merampungkan ASKEP trauma ginjal juga……..susah n kewalahan banget nyari bahannya yang minim di internet……….belajar dari situ nis nda pengen teman-teman juga rasain seperti itu, jadi begitu kelar langsung niat dalam hati harus di masukin k blog ku biar membantu teman – teman yang juga sama2 menempuh kuliah di jurusan keperawatan….semoga tulisan ini dapat menambah referensi kitaūüôā

Mata kuliah : Keperawatan Medikal Bedah

Semester      : VI( Enam )

Dosen          : Nurseha Djafar,S.Kep.Ns

ASUHAN KEPERAWATAN

TRAUMA GINJAL

OLEH

Kelompok III

v Niswan Iskandar Alam

v Mustikawati R. Kasiru

v Lispitasari Andiani

v Windra Oktaviani Ibrahim

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH

MANADO 2012

Kata Pengantar

Assalammualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah…..

Tiada kata yang paling indah selain puji dan puja syukur kehadirat Allah swt,yang mana dengan limpahan rahmat dan karunia Nya lah sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabiyaullah Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah rela mempetaruhkan harta,jiwa dan raganya untuk membawa umat manusia dari dunia kegelapan menuju dunia yang terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Saya sadari peyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan maka berpegang dari itu semua saya sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang konstruktif dari para pembaca pada umumnya dan dosen bidang studi pada khususnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat menambah referensi kita semua….

‚Äú tak ada gading yang tak retak,tak ada manusia yang sempurna ňĚ

 

Billahifii sabililhaq fastabiqulkhairat

Wassalammualaikum Wr.Wb

 

Penyusun

Kelompok III

Daftar Isi

Kata pengantar                                                                                                                i

Daftar Isi                                                                                                                         ii

BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………………………………………. 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………. 1
  2. Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………………… 2
  3. Metode Penulisan………………………………………………………………………………….. 2

BAB II. KAJIAN TEORI

  1. Definisi…………………………………………………………………………………………… 3
  2. Anatomi Ginjal………………………………………………………………………………… 3
  3. Fisiologi Ginjal………………………………………………………………………………… 4
  4. Etiologi…………………………………………………………………………………………… 6
  5. Patofisiologi…………………………………………………………………………………….. 8
  6. Manifestasi Klinis…………………………………………………………………………….. 9
  7. Penatalaksanaan……………………………………………………………………………… 10
  8. Asuhan Keperawatan……………………………………………………………………….. 10
    1. Pengkajian………………………………………………………………………………… 10
    2. 11 Pola Gordon…………………………………………………………………………. 11
    3. Pemeriksaan Fisik……………………………………………………………………………. 12
    4. Pemeriksaan Penunjang……………………………………………………………………. 14
    5. Pengelompokkan Data……………………………………………………………………… 17
    6. Analisa Data…………………………………………………………………………………… 18
    7. Penyimpangan KDM ( Patoflow )………………………………………………………. 19
    8. Diagnosa………………………………………………………………………………………… 20
    9. Perencanaan…………………………………………………………………………………… 20

BAB III. PENUTUP

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………………. 23

Daftar Pustaka                                                                                                                iii

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Walaupun sering di anggap hanya sebagai suatu organ yang diperlukan untuk mengeluarkan sisa ‚Äď sisa metabolisme, ginjal sebenarnya memiliki fungsi yang jauh lebih banyak. Ginjal penting untuk mempertahankan keseimbangan air, garam dan elektrolit dan merupakan suatu kelenjar endokrin yang mengeluarkan paling sedikit 3 hormon.ginjal membantu mengontrol tekanan darah dan sangat rentan mengalami kerusakan apabila tekanan darah terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Secara anatomis organ urogenital terletak sebagian besar di rongga ekstraperitoneal kecuali genitalia eksterna, dan terlindung oleh otot-otot dan organ-organ disekitarnya. Sehingga apabila didapatkan cedera pada organ-organ urogenital perlu diperhatikan juga kemungkinan cedera organ-organ disekitanya. Saluran urogenital (termasuk ginjal, ureter, kandung kemih, uretra) dapat mengalami trauma karena luka tembus, trauma tumpul, penyinaran maupun cedera Latrogenic akibat tindakan dokter pada saat operasi atau petugas medik lain.

Gejala yang paling banyak ditemukan adalah adanya darah pada urin (hematuria), berkurangnya proses berkemih dan nyeri. Karena cedera atau trauma, limbah metabolic yang seharusnya dapat dibuang lewat saluran kemih akan terganggu dan dapat berakibat fatal. Diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat mengurangi atau meminimalkan kerusakan menetap pada saluran kemih.

  1. Tujuan penulisan
  1.  Tujuan umum

Untuk mengetahui factor resiko terjadinya trauma ginjal

  1. Tujuan khusus
  1. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi trauma ginjal
  2. Mahasiswa dapat mengetahui jenis ‚Äď jenis trauma ginjal
  3. Mahasiswa dapat mengetahui penyimpangan KDM yang di timbulkan akibat trauma ginjal
  4. Mahasiswa dapat mengetahui penegakkan diagnose keperawatan yang actual maupun resiko
  1. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode :

1. Research library yaitu pengambilan sumber dari buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan atau studi pustaka.

2. Web search yaitu ialah pengambilan sumber dari internet yang ada hubunganya dengan materi pemeriksaan diagnostic system renal.

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. 1.                  Definisi

Definisi   Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai macam rudapaksa baik tumpul maupun tajam.

  1. 2.                  Anatomi Ginjal

a) Makroskopis

Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium, didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor). Ginjal pada orang dewasa penjangnya sampai 13 cm, lebarnya 6 cm dan berat kedua ginjal kurang dari 1% berat seluruh tubuh atau ginjal beratnya antara 120-150 gram. Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada 2 buah yaitu kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Potongan longitudinal ginjal memperlihatkan dua daerah yang berbeda yaitu korteks dan medulla. Medulla terbagi menjadi baji segitiga yang disebut piramid. Piramid-piramid tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan tersusun dari segmen-segmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papila atau apeks dari tiap piramid membentuk duktus papilaris bellini yang terbentuk dari kesatuan bagian terminal dari banyak duktus pengumpul (Price,1995 : 773).

b) Mikroskopis

Tiap tubulus ginjal dan glumerulusnya membentuk satu kesatuan (nefron). Nefron adalah unit fungsional ginjal. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar satu juta nefron. Setiap nefron terdiri dari kapsula bowman, tumbai kapiler glomerulus, tubulus kontortus proksimal, lengkung henle dan tubulus kontortus distal, yang mengosongkan diri keduktus pengumpul. (Price, 1995)

c) Vaskularisasi ginjal

Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra lumbalis II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam vena kavainferior yang terletak disebelah kanan garis tengah. Saat arteri renalis masuk kedalam hilus, arteri tersebut bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara piramid selanjutnya membentuk arteri arkuata kemudian membentuk arteriola interlobularis yang tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini kemudian membentuk arteriola aferen pada glomerulus (Price, 1995). Glomeruli bersatu membentuk arteriola aferen yang kemudian bercabang membentuk sistem portal kapiler yang mengelilingi tubulus dan disebut kapiler peritubular. Darah yang mengalir melalui sistem portal ini akan dialirkan kedalam jalinan vena selanjutnya menuju vena interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan vena renalis untuk akhirnya mencapai vena cava inferior. Ginjal dilalui oleh sekitar 1200 ml darah permenit suatu volume yang sama dengan 20-25% curah jantung (5000 ml/menit) lebih dari 90% darah yang masuk keginjal berada pada korteks sedangkan sisanya dialirkan ke medulla. Sifat khusus aliran darah ginjal adalah otoregulasi aliran darah melalui ginjal arteiol afferen mempunyai kapasitas intrinsik yang dapat merubah resistensinya sebagai respon terhadap perubahan tekanan darah arteri dengan demikian mempertahankan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus tetap konstan ( Price, 1995).

d) Persarafan pada ginjal

Menurut Price (1995) ‚ÄúGinjal mendapat persarafan dari nervus renalis (vasomotor), saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk kedalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal‚ÄĚ.

  1. 3.      Fisiologi Ginjal

Menurut Syaifuddin (1995) ‚ÄúFungsi ginjal yaitu mengeluarkan zat-zat toksik atau racun; mempertahankan keseimbangan cairan; mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh; mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh; mengeluarkan sisa metabolisme hasil akhir sari protein ureum, kreatinin dan amoniak‚ÄĚ. Tiga tahap pembentukan urine :

  1. Filtrasi glomerular

Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula bowman’s disebut filtrat. Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula bowman’s, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler.

  1. Reabsorpsi

Zat-zat yang difilltrasi ginjal dibagi dalam 3 bagian yaitu : non elektrolit, elektrolit dan air. Setelah filtrasi langkah kedua adalah reabsorpsi selektif zat-zat tersebut kembali lagi zat-zat yang sudah difiltrasi.

  1. Sekresi

Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi yang disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin). Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion-ion hidrogen. Pada tubulus distalis, transfor aktif natrium sistem carier yang juga telibat dalam sekresi hidrogen dan ion-ion kalium tubular. Dalam hubungan ini, tiap kali carier membawa natrium keluar dari cairan tubular, cariernya bisa hidrogen atau ion kalium kedalam cairan tubular ‚Äúperjalanannya kembali‚ÄĚ jadi, untuk setiap ion natrium yang diabsorpsi, hidrogen atau kalium harus disekresi dan sebaliknya. Pilihan kation yang akan disekresi tergantung pada konsentrasi cairan ekstratubular (CES) dari ion-ion ini (hidrogen dan kalium). Pengetahuan tentang pertukaran kation dalam tubulus distalis ini membantu kita memahami beberapa hubungan yang dimiliki elektrolit dengan lainnya. Sebagai contoh, kita dapat mengerti mengapa bloker aldosteron dapat menyebabkan hiperkalemia atau mengapa pada awalnya dapat terjadi penurunan kalium plasma ketika asidosis berat dikoreksi secara theurapeutik.

  1. 4.      Etiologi

Ada 3 penyebab utama dari trauma ginjal , yaitu

a. Trauma tajam

b. Trauma latrogenic

c. Trauma tumpul

Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman pada abdomen bagian atas atau pinggang merupakan 10 ‚Äď 20 % penyebab trauma pada ginjal di Indonesia.¬† Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan operasi atau radiologi intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde pyelography, percutaneous nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Dengan semakin meningkatnya popularitas dari teknik teknik di atas, insidens trauma iatrogenik semakin meningkat , tetapi kemudian menurun setelah diperkenalkan ESWL. Biopsi ginjal juga dapat menyebabkan trauma ginjal .¬† Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang menimbulkan trombosis.¬† Ada beberapa faktor yang turut menyebebkan terjadinya trauma ginjal. Ginjal yang relatif mobile dapat bergerak mengenai costae atau corpus vertebrae, baik karena trauma langsung ataupun tidak langsung akibat deselerasi. Kedua, trauma yang demikian dapat menyebabkan peningkatan tekanan subcortical dan intracaliceal yang cepat sehingga mengakibatkan terjadinya ruptur. Yang ketiga adalah keadaan patologis dari ginjal itu sendiri. Sebagai tambahan, jika base line dari tekanan intrapelvis meningkat maka kenaikan sedikit saja dari tekanan tersebut sudah dapat menyebabkan terjadinya trauma ginjal. Hal ini menjelaskan mengapa pada pasien yang yang memiliki kelainan pada ginjalnya mudah terjadi trauma ginjal.¬† Klasifikasi¬† Tujuan pengklasifikasian trauma ginjal adalah untuk memberikan pegangan dalam terapi dan prognosis.

American Association for Surgery of  Trauma, membagi trauma ginjal menjadi lima gradasi yaitu:

Gradasi

Lesi meliputi

                      Grade I Kontusio ginjal/hematoma perirenal, terdapat perdarahan di ginjal tanpa ada kerusakan

jaringan, kematian jaringan maupun kerusakan kaliks. Hematuria dapat mikrokospik

atau makroskopik. Pencitraan normal.                      Grade IILaserasi Ginjal terbatas pada korteks, tanpa ada kelainan parenkim.                       Grade IIILaserasi ginjal sampai pada medulla ginjal, mungkin terdapat thrombosis arteri

segmentalis, laserasi ginjal tidak melebihi 1cm, tidak mengenai pelviokaliks, dan

tidak terjadi ekstravasasi.                      Grade IVLaserasi sampai mengenai system kalises ginjal, laserasi lebih dari 1 cm, laserasi yang

mengenai korteks, medulla dan pelviokaliks.                      Grade Vcedera pembuluh darah utama, avulse pembuluh darah yang mengakibatkan gangguan

pembuluh darah ginjal, laserasi luas pada beberapa tempat/ginjal terbelah.

  1. 5.      Patofisiologi

Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olahraga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang menimbulkan trombosis. Ginjal yang terletak pada rongga retroperitoneal bagian atas hanya terfiksasi oleh pedikel pembuluh darah serta ureter, sementara masa ginjal melayang bebas dalam bantalan lemak yang berada dalam fascia Gerota. Fascia Gerota sendiri yang efektif dalam mengatasi sejumlah kecil hematom , tidak sempurna dalam perkembangannnya. Kantong fascia ini meluas kebawah sepanjang ureter ,meskipun menyatu pada dinding anterior aorta serta vena cava inferior, namun mudah untuk sobek oleh adanya perdarahan hebat sehingga perdarahan melewati garis tengah dan mengisi rongga retroperitoneal.(Guerriero, 1984). Karena miskinnya fiksasi, ginjal mudah mengalami dislokasi oleh adanya akselerasi maupun deselerasi mendadak, yang bisa menyebabkan trauma seperti avulsi collecting system atau sobekan pada intima arteri renalis sehingga terjadi oklusi parsial maupun komplet pembuluh darah. Sejumlah darah besar dapat terperangkap didalam rongga retroperitoneal sebelum dilakukan stabilisasi. Keadaan ekstrem ini sering terjadi pada pasien yang datang di ruang gawat darurat dengan kondisi stabil sementara terdapat perdarahan retroperitoneal. Korteks ginjal ditutupi kapsul tipis yang cukup kuat. Trauma yang menyebabkan robekan kapsul sehingga menimbulkan perdarahan pada kantong gerota perlu lebih mendapat perhatian dibanding trauma yang tidak menyebabkan robekan pada kapsul. Vena renalis kiri terletak ventral aorta sehingga luka penetrans didaerah ini bisa menyebabkan trauma pada kedua struktur. Karena letaknya yang berdekatan antara pankreas dan pole atas ginjal kiri serta duodenum dengan tepi medial ginjal kanan bisa menyebabkan trauma kombinasi pada pankreas, duodenum dan ginjal.. Anatomi ginjal yang mengalami kelainan seperti hidronefrosis atau tumor maligna lebih mudah mengalami ruptur hanya oleh adanya trauma ringan.(McAninch,2000).

  1. 6.      Manifestasi Klinis
  1.              1.    Nyeri
  2.              2.    Hematuria
  3.              3.    Mual dan muntah
  4.              4.    Distensi abdomen
  5.              5.    Syok akibat trauma multisistem
  6.              6.    Nyeri pada bagian punggung
  7.              7.    Hematoma di daerah pinggang yang semakin hari semakin besar
  8.              8.    Massa di rongga panggul
  9.              9.    Ekimosis

10. Laserasi atau luka pada abdomen lateral dan rongga panggul

  1. 7.      Penatalaksanaan

a.Konservatif

Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor, karena hampir 90% trauma tumpul ginjal berupa cedera minor seperti kontusio ginjal dan laserasi parenkim ginjal yang tidak memerlukan tindakan bedah. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital,kemungkinan adanya penambahan massa di pinggang, adanya pembesaran lingkaran perut,penurunan kadar hemoglobin, dan perubahan warna urin pada pemeriksaan serial. Tindakan  konservatif itu sendiri meliputi istirahat di tempat tidur, analgesic untuk hilangkan nyeri dan observasi status ginjal.

Observasi  Tanda vital suhu tubuh,Massa di pinggang ,Hemoglobin,Urine lebih pekat merupakan tanda-tanda perdarahan hebat, kebocoran urin,segera eksplorasi drainase urine, segera hentikan perdarahan.

b.Operasi

Operasi ditujukan pada trauma ginjal mayor dengan tujuan untuk segera menghentikan  perdarahan. Tindakan bedah dilakukan jika ada perdarahan dengan syok yang tidak dapat diatasi atau syok berulang. Selanjutnya diperlukan debridement, reparasi ginjal (renorafi atau penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan nefroktomi parsial bahkan total karena kerusakan ginjal yang berat.

  1. 8.      Asuhan Keperawatan

 

  1. Pengkajian
  1. Pengumpulan Data
  1. Identitas klien

Identitas klien terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status, alamat, tanggal masuk, no regeister, dan diagnosis medis.

  1. Identitas keluarga klien (yg bertanggung jawab pada klien)

Identitas keluarga klien terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, hubungan dengan klien.

  1. Riwayat Kesehatan
  1. Keluhan utama

Kjlien mengeluh Nyeri pada  daerah abdomen kurang lebih 1 hari yang lalu.

  1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien mengeluh nyeri pada abdomen sejak 1 hari yang lalu dan kencing di sertai darah,.

  1. Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien mengalami kecelakaan lalu lintas 1 hari yang lalu dan sakit pada abdomen.

  1. Riwayat Kesehatn Keluarga

Dalam keluarga klien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit seperti yang di alami klien, keluarga klien juga tidak mengalami penyakit hipertensi, jantung, ginjal, DM dan penyakit menular atau penyakit menurun lainnya.

B. 11 Pola Gordon

1.Pola persepsi kesehatan

Biasanya klien dengan trauma akan langsung memeriksakan keadaannya ke dokter berhubungan dengan keadaan yang di rasakan setelah trauma.

2. Pola Nutrisi Metabolik

Biasanya klien mengalami kurang napsu makan, BB menurun.

3. Pola eliminasi

Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.

4. Pola sensori dan kognitif

Pada pola sensori klien tidak mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Pada pola kognitif daya ingat klien masih baik.

5. Pola aktivitas dan latihan

Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, dan nyeri.

6.Pola tidur dan istirahat

Klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/ nyeri otot

7. Pola persepsi dan konsep diri

Klien merasa tidak berdaya,dan merasa bersalah pada keluarga karena merasa merepotkan keluarganya

8. Pola hubungan dan peran

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk beraktivitas

  1. Pola Intoleransi dan Stres

Klien merasa cemasa dan khawatir dengan kondisi klien saat ini.

10.Pola kesehatan reproduksi

Adanya perubahan libido dalam melakukan aktivitas seksual.

11.Pola tata nilai dan kepercayaan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/ kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. ( Marilyn E. Doenges, 2000 ).

  1. 10.  Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik yang diperiksa mencakup :

a. Keadaan umum : ditemukan jejas dan nyeri pada abdomen  bagian atas, nyeri pinggang, nyeri bervariasi

b. Suara bicara : tidak mengalami gangguan

c. Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi

d. Pemeriksaan integumen

§ Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan jelek.

§ Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis

§ Rambut : umumnya tidak ada kelainan

e. Pemeriksaan kepala dan leher

§ Kepala : bentuk normal

§ Muka : simetris

§ Mata : simetris, konjungtiva : anemis, sclera : ikteris (-), pupil : isokor

§ Leher : tidak ada pembesaran kelenjar karotis

f. Pemeriksaan dada

pernafasan normal tidak terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan.

g.  Pemeriksaan abdomen

distensi abdomen, adanya penimbunan cairan/darah pada abdomen

h. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus

Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine

i. Pemeriksaan ekstremitas

Sering didapatkan kelemahan anggota gerak

  1. 11.   Pemeriksaan penunjang

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pemeriksaan Diagnostik

¬Ľ Laboratorium

Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah urinalisis. Pada pemeriksaan ini diperhatikan kekeruhan, warna, pH urin, protein, glukosa dan sel-sel. Pemeriksaan ini juga menyediakan secara langsung informasi mengenai pasien yang mengalami laserasi, meskipun data yang didapatkan harus dipandang secara rasional. Jika hematuria tidak ada, maka dapat disarankan pemeriksaan mikroskopik. Meskipun secara umum terdapat derajat hematuria yang dihubungkan dengan trauma traktus urinarius, tetapi telah dilaporkan juga kalau pada trauma (ruptur) ginjal dapat juga tidak disertai hematuria. Akan tetapi harus diingat kalau kepercayaan dari pemeriksaan urinalisis sebagai modalitas untuk mendiagnosis trauma ginjal masih didapatkan kesulitan.

¬Ľ Radiologi

Cara-cara pemeriksaan traktus urinarius dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: foto polos abdomen, pielografi intravena, urografi retrograde, arteriografi translumbal, angiografi renal, tomografi, sistografi, computed tomography (CT-Scan), dan nuclear Magnetic resonance (NMR)

¬Ľ Intravenous Pyelography (IVP)

Tujuan pemeriksaan IVP adalah

(1) untuk mendapatkan perkiraan fungsional dan anatomi kedua ginjal dan ureter,

(2) menentukan ada tidaknya fungsi kedua ginjal, dan

(3) sangat dibutuhkan pada bagian emergensi atau ruangan operasi.

Sedangkan kerugian dari pemeriksaan ini adalah

(1) pemeriksaan ini memerlukan gambar multiple untuk mendapatkan informasi maksimal, meskipun tekhnik satu kali foto dapat digunakan;

(2) dosis radiasi relative tinggi (0,007-0,0548 Gy);

(3) gambar yang dihasilkan tidak begitu memuaskan.

¬Ľ Computed Tomography (CT)

Computed Tomography (CT)  merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menilai traktus urinarius. Pemeriksaan ini dapat menampakan keadaan anatomi traktus urinarius secara detail. Pemeriksaan ini menggunakan scanning dinamik kontras.

Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah memeriksa keadaan anatomi dan fungsional ginjal dan traktus urinarius, membantu menentukan ada atau tidaknya gangguan fungsi ginjal dan membantu diagnosis trauma yang menyertai.

Kerugian dari pemeriksaan ini adalah pemeriksaan ini memerlukan kontas untuk mendapatkan informasi yang maksimal mengenai fungsi, hematoma, dan perdarahan; pasien harus dalam keadaan stabil untuk melakukan pemeriksaan scanner; dan memerlukan waktu yang tepat untuk melakukan scanning untuk melihat bladder dan ureter.

¬Ľ Ultrasonografi (USG) Renal

Keuntungan pemeriksaan ini adalah non-invasif, dapat dilakukan bersamaan dengan resusitasi, dan dapat membantu mengetahui keadaan anatomi setelah trauma.

Kerugian dari pemeriksaan ini adalah memerlukan pengalaman sonografer  yang terlatih, pada pemeriksaan yang cepat sulit untuk melihat mendeskripsikan anatomi ginjal, dimana kenyataannya yang terlihat hanyalah cairan bebas, trauma bladder kemungkinan akan tidak dapat digambarkan.

¬Ľ Angiography

Keuntungan pemeriksaan ini adalah (1) memiliki kapasitas untuk menolong dalam diagnosis dan penanganan trauma ginjal, dan (2) lebih jauh dapat memberikan gambaran trauma dengan abnormalitas IV atau dengan trauma vaskuler.

Kerugian dari pemeriksaan ini adalah (1) pemeriksaan ini invasif, (2) pemeriksaan ini memerlukan sumber-sumber mobilisasi untuk melakukan pemeriksaan, seperti waktu; (4) pasien harus melakukan perjalanan menuju ke ruang pemeriksaan.

¬Ľ Magnetic Resonannce Imaging (MRI)

MRI digunakan untuk membantu penanganan trauma ginjal ketika terdapat kontraindikasi untuk penggunaan kontras iodinated atau ketika pemeriksaan CT-Scan tidak tersedia. Seperti pada pemeriksaan CT, MRI menggunakan kontas Gadolinium intravena yang dapat membantu penanganan ekstravasasi sistem urinarius. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksan terbaik dengan sistem lapangan pandang yang luas.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pemeriksaan lab pada perdarahan

Untuk skrinning test ada 5 :

– AT (hitung trombosit) : untuk mengetahui defect kuantitas

РBT (bleeding time) : untuk mengecek kuantitas dan kualitas trombosit.    Apakah ada gangguan agregasi dan adhesi

– CT (clotting time) : waktu yang dibutuhkan untuk membentuk sumbat yang sempurna.

– PPT (plasma protrombin time) : untuk melihat defect jalur koagulasi ekstrinsik dan memonitor antikoagulan oral warfarin.

РAPTT (activated partial tromboplastin time) : untuk  cek jalur intrinsic dan memonitor antikoagular heparin.

Tambahan:

– TAT (tes agregasi trombisit) : dengan menggunakan sampel plasma trombosit. Trombosit dipapar dengan aggregator untuk memicu agregasi. Kemudian disinari dengan spektofotometer. Jika makin banyak agregasi, sinar yang dihantarkan akan makin banyak. Sehingga bisa menilai kemampuan agregasi.

– Fibrinogen : tes utk cek proses fibrinolisis. Jika fibrinolisis teraktivasi, FDP akan meningkat.

  1. Pengelompokan data

DS  :- klien mengatakan nyeri pada daerah abdomen

– Klien mengatakan merasa kesulitan saat bergerak untuk miring kiri miring kanan

– Klien mengatakan merasa takut dan cemas dengan kondisi saat ini

– klien mengatakan BAK campur darah

DO  :   РKlien tampak meringis menahan sakit,

– ekspresi wajah tampak tegang

-Klien tanpak gelisah

– Semua aktivitas klien di bantu keluarga

– Konjungtiva anemis

– pada urine bag, urin tampak bercampur darah

– Tampak terpasang kateter

TTV : TD : 110 / 80 mmHg,  SB : 380C,  N : 86 x / menit,  R: 22 x / menit

  1. Analisa data

No

Data

Etiologi

Masalah

DS : – Ps mengatakan nyeri pada bagian abdomen

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Klien mengatakan kesulitan saat bergerak untuk miring ke kiri dan ke kanan

DO : – Klien tampak meringis menahan sakit

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† ekspresi wajah tampak tegangTrauma tumpulNyeri¬†DS : – Klien mengatakan merasa kesulitan saat bergerak untuk miring kiri miring kanan

DO : РSemua aktivitas klien di bantu keluarga Ketakutan bergerak/ traumaIntoleransi aktifitas DS : Рklien mengatakan nyeri pada daerah abdomen

– pada urine bag, urin tampak bercampur darahPerdarahan pada rongga peritoniumResiko infeksi

  1. patoflow

Trauma tumpul

Deselarasi (gerakan ginjal secara tiba-tiba)

Didalam rongga retroperitonium

Regangan predikal ginjal

Robekan tunika intima arteri renalis

Memacu pembentukan bekuan-bekuan darah

Menimbulkan trombosis renalis dan cabangnya

nyeri abdomen

Perdarahan didalam retroperitonium

Resiko infeksi

distensi abdomen      distensi ileus          Ketakutan bergerak

intoleransi aktifitas

Nausea

ansietas

                                                                                                                                                        Anoreksia

 Perubahan nutrisi <kebutuhan

15. diagnosa

1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan trauma

3.  resiko infeksi berhubungan dengan di dalam retroperitonium

4. perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksi

5. ansietas berhubungan dengan ketakutan bergerak

16. perencanaan

no

diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

intervensi

rasional

1 Nyeri akut berhubungan dengan trauma

.Setelah di berikan tindakan keperawatan selama 3 hari di harapkan nyeri dapat berkurang atau hilang. Dengan criteria hasil :

– Nyeri berkurang atau hilang.

– Klien tampak tenang.Mandiri

  1. Bedrest atau atur posisi yg nyaman bagi pasien.
  1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga.
  2. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri
  1. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
  1. Observasi tanda-tanda vital.

Kolaborasi :

  1. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik.

Рposisi yang  nyaman dapat membantu meminimalkan nyeri

– hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif.

-tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri.

– memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.

-untuk mengetahui perkembangan klien.

Рmerupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.2Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketakutan bergerak/ trauma.Setelah di berikan tindakan keperawatan selama 3 hari di harapkan  pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Dengan criteria hasil :

— perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
Рpasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.a.  Rencanakan periode istirahat yang cukup.

  1. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
  1. c.  Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.

d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.- mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secara optimal.

– tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

-mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.

-menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.3Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan di dalam retroperitoneumSetelah di berikan tindakan keperawatan selama 4 hari diharapkan infeksi tidak terjadi / terkontrol dengan kritri hasil :

– tidak ada tanda-tanda infeksi/ radang

– Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi..Mandiri

  1.  Pantau tanda-tanda vital.

b.Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.

d.Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.

e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.- mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.

-untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.

-penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.

– antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Ginjal sangat terlindungi oleh organ-organ disekitarnya sehingga diperlukan kekuatan yang cukup yang bisa menimbulkan cedera ginjal. Namun pada kondisi patologis seperti hidronefrosis atau malignansiginjal maka ginjal mudah ruptur oleh hanya trauma ringan. Mobilitas ginjal sendiri membawa konsekuensi terjadinya cedera parenkim ataupun vaskuler. Sebagian besar trauma ginjal adalah trauma tumpul dan sebagian besar trauma tumpul menimbulkan cedera minor pada ginjal yang hanya membutuhkan bed rest.

Diagnosis  trauma ginjal ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Pada pemeriksaan fisik digali mekanisme trauma serta kemungkinan gaya yang menimpa ginjal maupun organ lain disekitarnya. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menilai ABC nya trauma, lokal ginjal maupun organ lain yang terlibat. Pada pasien mungkin ditemukan hematuria gross ataupun mikroskopis atau mungkin tanpa hematuria. Bila kondisi tidak stabil walau dengan resusitasi maka tidak ada pilihan kecuali eksplorasi segera .Pada pemeriksaan penunjang plain photo bisa ditemukan patah tulang iga bawah, prosesus transversus vertebra lumbal yang menunjukkan kecurigaan kita terhadap trauma ginjal. Pada pemeriksaan IVU akurasinya 90% namun pada pasien hipotensi tidak bisa diharapkan hasilnya. IVU juga tidak bisa menilai daerah retroperitoneal serta sangat sulit melakukan grading. Pada kondisi tak stabil, maka hanya dilakukan one shotIVU yang bisa menilai ginjal kontralateral. Pemeriksaan dengan CT scan merupakan gold standard karena dengan alat ini bisa melakukan grading dengan baik. Bagian-bagian infark ginjal terlihat, serta seluruh organ abdomen serta retroperitoneum juga jelas. Pemeriksaan angiografi sangat baik dilakukan pada kecurigaan cedera vaskuler. Dilakukan arteriografi apabila CT scan tidak tersedia. Kerugiannya pemeriksaan ini invasif.

Prinsip penanganan trauma ginjal adalah meminimalisasi morbiditas dan mortalitas serta sedapat mungkin mempertahankan fungsi ginjal. Hanya pasien dengan indikasi jelas dilakukan nefrektomi. Keselamatan jiwa pasien tentunya lebih penting dari pada usaha peyelamatan ginjal namun jiwa melayang.  Teknik operasi saat ini memegang peranan penting dalam penyelamatan ginjal. Dengan kontrol pembuluh darah ginjal maka terjadi penurunan angka nefrektomi. Kontrol pembuluh darah dilakukan diluar fasia Gerota sebelum masuk zona trauma. Tanpa isolasi arteri dan vena , dekompresi hematom ginjal yang dilakukan durante operasi meningkatkan insidensi nefrektomi.

Daftar pustaka

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Rencana asuhan keperawatan Marlin E Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Gleissler

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/anatomi-ginjal-dan-saluran-kemih/

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† http://samire-samire.blogspot.com/2011/04/askep-trauma-ginjal.html

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† http://www.alenatore.com/tag/askep-trauma-renal

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† http://soimcakep.blogspot.com/2009/07/trauma-ginjal.html

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† http://www.scribd.com/doc/7524912/Laporan-Kasus-Trauma-Ginjal

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† http://soimcakep.blogspot.com/2009/07/trauma-ginjal.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: