pengkajian perioperatif dan integumen

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kemajuan teknologi terahkir telah mengarah pada prosedur yang lebih kompleks, seperti produser yang memerlukan teknik-teknik bedah mikro atau penggunaan  laser: peralatan bypass  yang lebih canggih dan peralatan pemantauan  yang sangat sensitif. Pembedahan telah meliputi transplantasi dari berbagai organ tubuh manusia, implamntasi alat-alat mekanik dan pelekatan kembali bagian-bagian tubuh.

Kemajuan yang sama  juga telah dibuat dalam perkembangan obat farmasi dan suplemen nutrisi. Walaupun kemajuan teknologi ini telah memfokuskan perhatian pada peran penting high-tech dari tenaga keperawatan, peran sentuhan manusia juga sama pentingnya.

Pada waktu yang sama dimana terjadi kemajuan teknologi, pelayanan dan pembayaran  untuk perawatan kesehatan juga berubah, mengakibatkan lama hari rawat ynag lebih singkat dan tindakan-tindakan dengan biaya efektif. Sebagai akibatnya, banyak orang yang dijadwalkan untuk pembedahan menjalani persiapan diagnostik dan praoperatif sebelum masuk rumah sakit. Mereka juga meninggalkan rumah sakit lebih cepat, meningkatkan pertumbuhan akan penyuluhan pasien, perencanaan  pemulangan, persiapan untuk  perawtan diri dan rujukan untuk perawatan rumah dan layanan rehabilitatif dan tindakan-tindakan dengan biaya efektif. Sebagai akibatnya banyak orang dijadwalkan  untuk pemmbedahan menjalani persiapan diagnostik dan praoperatif sebelum masuk rumah sakit. Mereka juga meninggalkan rumah sakit dengan cepat . meningkatkan kebutuhan akan penyuluhan pasien, perencanaan, pemulangan, persiapan untuk perawatan diri dan rujukan  untuk perawatan rumah dan layanan rehabilitatif.  Dengan mulainya penghematan biaya perawatan, pembedahan sehari dan pemulangan pascaoperatif dini, maka bukanlah suatu hal yang tidak lazim bagi pasien untuk masuk  rumah sakit pada hari ia di operasi untuk menerima anestesi umum dan menjalani prosedur pembedahan dan dipulangkan ke rumah pada hari yang sama ia dioperasi untuk dirawat oleh keluarga atau temanya.

Pada tahun 1980 –an tujuh dari delapan pasien bedah memerlukan setidaknya menginap satu malam dirumah sakit. Sekarang ini diperkiraan bahwa 60% pembedahan dilakukan di unit-unit rawat jalan. Bedah ampula tori, pembedahan sehari mengharuskan perawat untuk     mempunyai pengetahuan yang solid mengenai semua aspek perawatan pasien bedah. Pengetahuan keperawatan praoperatif dan pascaoperatif tidak lagi memadai perawatan yang lengkap harus mencakup pemahaman tentang aktivitasi intraoperatif.

  1. Tujuan

–          Tujuan Umum

Agar mahasiswa maupun mahasiswi STIKES Muhammadiyah Manado dapat memahami dan menerapkan apa yang telah di pelajari dalam makalah ini dalam praktek klinik.

–          Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi penyebab ansietas praoperatif dan tindakan  keperawatan untuk untuk menurunkan ansietas tersebut.
  2. Menggunakan pengkajian keperawatan praoperatif komprehensif untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko pembedahan.
  3. Mengidentifikasi pertimbangan etis dan legal yang berkaitan dengan izin operatif dan informed consent
  4. Menguraikan tindakan-tindakan keperawatan praoperatif yang dapat menurunkan resiko terjadinya infeksi dan komplikasi pascaoperatif lainya
  5. Mengembangkan rencana penyuluhan praoperatif yang di desain untuk mencegah komplikasi pascaoperatif
  6. Mengambarkan persiapan praoperatif segera pasien
  7. Mengidentifikasi tanggung jawab perawat dalam memenuhi kebutuhan keluarga dari pasien praoperatif dan pascaoperatif.
  1. Manfaat

Manfaat penulisan dari makalah ini agar mahasiswa maupun mahasiswi dapat menerapkan apa yang telah di pelajari dalam makalah ini baik di klinik maupun di masyarakat.

menambah pengetahuan  dan referensi kita semua yang bergulat dengan dunia kesehatan khususnya dokter maupun perawat.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien Kata” perioperatif “ adalah suatuistilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. Seperti yang diperlihatkan 19-1 masing-masing dari setiap fase inu dimulai dan berakhir pada waktu tertentu dalam urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah, dan masing-masing mencakup tentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang dilakukan oleh perawat  dengan menggunakan proses keperawatan dan standart praktik keperawatan.

Fase Praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah di buat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi lingkup aktivitas keperawatan selama  waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan klinik atau di rumah, menjalani wawancara praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan dan pembedahan. Bagaimana pun aktivitas keperawatan mungkin di batasi  hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat atau  ruang operasi.

Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai ketika pasien masuk atau di pindah ke bagian atau  depertemen bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan padapascaoperatif

fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi : memasang infus(IV) memberikan  medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada beberapa contoh aktivitas keperawatan dapat terbatas hanya pada menggengam tangan pasien selama induksi anestesia umum, bertindak dalam peranannya sebagai perawat scrub atau membantu dalam mengatur posisi pasien di atas meja operasi  dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh.

Fase praoperatif

Pengkajian Praoperatif diklinik

  1. Melakukan pengkajian praoperatif awal
  2. Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien
  3. Melibatkan keluarga dalam wawancara
  4. Memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperatif
  5. Mengkaji kebutuhan pasien terhadap transportasi dan perawatan

Uji bedah

  1. Melengkapi pengkajian praoperatif
  2. Mengkoordinasi penyuluhan pasien degan staf keperawatan lain
  3. Menjelaskan fase-fase dalam periode praoperatif dan hal-hal yang di perkirakan terjadi
  4. Membuat rencana asuhan

Ruang operasi

  1. Mengkaji tingkat kesadaran pasien
  2. Menelitiiii lembar observasipasien
  3. Mengidentifdikasi pasien
  4. Memastikan daerah pembedahan

Perencanaan

  1. Menentukan rencana asuhan
  2. Mengkoordinasi pelayanan dan sumber2 yang sesuai

Dukungan psikologis

  1. Menceritakan pada pasien apa yang sedang terjadi
  2. Menentukan status psikologis
  3. Memberikan peringatan akan stimuli nyeri
  4. Mengkomunikasikan status emosional pada anggota tim kesehatan lain yang berkaitan.

Fase intraoperatif

  1.  Atur posisi pasien
    1. Kesejajaran fungsional
    2. Pemajanan area pembedahan
    3. Mempertahankan posisi  sepanjang prosedur operasi
    4. Memasang alat grouding  ke pasien
    5. Memberikan dukungan fisik
    6. Memastikan bahwa jumlah  APONGA dan jarum instrumen tepat

Pemantauan fisiologis

  1. Memperhintungkan efek dari hilangnya atau masuknya cairan secara berlebihan pada pasien
  2. Membedahkan data kardiopumonal yang normal dengan yang abnormal
  3. Melaporkan perubahan-perubahan pada nadi,pernafasan, suhu badan dan tekanan darah pasien

Dukungan psikologis ( sebelum induksi dan jika pasien sadar)

  1. Memberikan dukungan emosional pada pasien
  2. Berdiri dekat dan  menyentuh  pasien selama prosedur  dan induksi
  3. Terus mengkaji status emosional pasien
  4. Mengkomunikasi status emosional pasien ke anggota tim perawatan kesehatan lain yang sesuai

Penatalaksanaan keperawatan

  1. Memberikan keselamatan untuk pasien
  2. Mempertahankan lingkungan aseptik dan terkontrol
  3. Secara efektif mengelola sumber daya manusia.

Fase pascaoperatif

Komunikasi   dari informasi intraoperatif

  1. Menyebutkan nama pasien
  2. Menyebutkan jenis pembedahan yang dilakukan
  3. Menggambarkan faktor2 intraoperatif (y) pemasangan drain atau kadebor, kekambuhan peristiwa-peristiwa yang tidak diperkirakan )
  4. Mengambarkan keterbatasan fisik
  5. Melaporkan tingkat kesadaran praoperatif pasien
  6. Mengkomunikasi alat-alat yang diperlukan

Pengkajian pascaoperatif di ruang pemulihan

 

  1. Menentukan respons langsung pasien terhadap intervensi  pembedahan

 

Unit bedah

 

  1. Mengevaluasi efektivitas dari asuhan keperawatan di ruang operasi
  2. Menentukan tingkat kepuasan pasien dengan asuhan yang berikan selama periode perioperatif
  3. Mengevaluasi produk-produk yang digunakan pada pasien diruang operasi
  4. Menentukan status psikologis pasien
  5. Membantu dalam perencanaan pemulangan.

Di rumah klinik

 

  1. Gali persepsi pasien tentang pembedahan dalam kaitannya  dengan agens anestesi, dampak pada citra tubuh. Penyimpangan,imobilitas
  2. Tentukan persepsi keluarga tentang pembedahan

BAB III

PEMBAHASAN

Tinjauan proses keperawatan

  1. A.    Pengkajian

Pengkajian pasien bedah meliputi mengevaluasi faktor-faktor fisik dan psikologis secara luas. Banyak parameter dipertimbangkan dalam pengkajian menyeluruh pasien dan berbagai  masalah pasien atau diagnosa keperawatan dapat diantasipasi atau diidentifikasi dengan dibandingkan pada data dasar. Pembahasan rinci tentang pengkajian psikososial dan pemeriksaan fisik dari pasien bedah disajikan setelah bagian ini.

  1. B.     Diagnosa keperawatan

Berdasarkan pada data pengkajian diagnosa keperawatan praoperatif  mayor pasien bedah dapat mencakup

  1. Ansietas yang berhubungan dengan pengalaman bedah (anastesi, nyeri)  dan hasil akhir dari pembedahan
  2. Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan proterksi praoperatif dan harapan pascaoperatif
  3. C.     Perencanaan dan implementasi

Tujuan : tujuan utama pasien bedah dapat meliputi menghilangkan ansietas praoperatif dan peningkatan pengetahuan tentang persiapan praoperatif dan harapan pasceoperatif

  1. D.    Intervensi keperawatan

Menurunkan ansietas praoperatif intervensi keperawatan yang spesifik di bahas secara rinci dalam pengkajian dan intervensi keperawatan psikososial.

Penyuluhan pasienIntervensi keperawatan spesifik dibahas secara rinci  pada bagian lain dalam bab ini dalam penyuluhan pasien praoperatif lihat jga intervensi keperawatan praoperatif  dan intervensi keperawatan praoperatif segera.

  1. E.     Evaluasi

 

Hasil – hasil yang di harapkan

  1. Ansietas dikurangi
    1. Mendiskusikan kekwatiran yang berkaitan dengan tipe anestesia dan induksi dengan ahli anestesi
    2. Mengungkapkan suatu pemahaman tentang medikasi praanestesi dan anestesi umum
    3. Mendiskusikan kekwatiran saat-saat terakhir dengan perawat atau dokter
    4. Mendiskusikan mkasalah –masalah finansial dengan pekerja sosial bila diperlukan
    5. Meminta kunjungan pendeta bila di perlukan
    6. Benar-benar relaks setelah dikunjungi oleh tim kesehatan
    7. Menyiapkan terhadap intervensi  pembedahan
      1. Ikut serta dalam persiapan praoperatif
      2. Menunjukan dan mengambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan pasien setelah operasi
      3. Menelaah informasi tentang perawatan pascaoperatif
      4. Menerima medikasi praanestesi
      5. Tetap berada ditempat tidur
      6. Relaks selama transformasi ke unit operasi
      7. Menyebutkan rasional penggunaan pagar tempat tidur

Pengkajian dan intervensi keperawatan psikososial

 

Segala bentuk prosedur pembedahan selalu di dahului dengan suatu reaksi emosional tertentu oleh pasien apakah reaksi tersebut jelas atau tersembunyi normal atau abnormal sebagai contoh ansietas praoperatif kemungkinan merupakan suatu respons antisipasi terhadap suatu pengalaman yang dapat dianggap pasien sebagai  suatu ancaman terhadap perannya dalam hidup integritas tubuh atau Bahkan kehidupannya itu sendiri. Sudah diketahui bahwa pikiran yg bermasalah fikiran yg bermasalah secara lansung mempengaruhi fungsi tubuh. Karenanya penting artinya untuk mengidentifikasi ansietas yang di alami pasien

Dengan mengumpulkan riwayat kesehatan secara cermat, perawat menemukan kekwatiran pasien yang dapat menjadi beban langsung selama pengalaman pembedahan. Tidak diragukan lagi, pasien yang menghadapi pembedahan dilingkupi oleh ketakutan termasuk ketakutan akan ketidaktahuan, kematian,tentang ansietas kanker. Kekwatiran mengenai kehilangan waktu kerja kemungkinan kehilangan pekerjaan,tanggung jawab mendukung keluarga, dan ancaman ketidakmampuan permanen yang lebih jauh,memperberat ketengangan emosional yang sangat hebat yang diciptakan oleh prospek pembedahan. Kekwatiran nyata yang lebih ringan dapat terjadi karena pengalaman sebelumnya dengan system perawatan kesehatan dan orsng-orang yang dikenal pasien dengan kondisi yang sama. Akibatnya perawat harus memberikan dorongan untuk pengungkapan dan harus mendengarkan,harus memahami dan memberikan informasi yang membantu  menyingkirkan kekhwatiran tersebut.

Keluasan reaksi pasien didasarkan pada banyak factor, meliputi ketidaknyamanan dan perubahan-perubahan yang diantisipasi baik fisik, financial, psikologis,spiritual, atau social dan hasil akhir pembedahan yang diharapkan akankah pembedahan tersebut memperbaiki keadaan? Akankah pembedahan tersebut mengakibatkan ketidakmampuan? Apakah ini hanya merupakan tindakan sementara dalam kondisi kronik?

Bagian terpenting dari pengkajian adalah untuk menentukan peran dari keluarga atau sahabat pasien, nilai dan keabsahan  dari ke semua system pendukung yang tersedia juga ditentukan. Informasi lain,tingkat fungsi yang lazim dan aktivitas sehari-hari yang khas, dapat membantu dalam perawatan pasien dan rencana rehabilitasi.

Takut diekpresikan dengan cara yang berbeda oleh orang yang berbeda. Sebagai contoh, takut mungkin diekpresikan secara langsung oleh pasien  yang secara berulang mengajukan banyak pertanyaan,walaupun telah di jawab sebelumnya. Untuk pasien lainyan,reaksinya mungkin menarik diri yaitu dengan sengaja menghindari komunikasi, barangkali dengan membaca atau menonton televisi, atau pasien lainnya lagi mungkin membicarakan secara terus menerus tanpa henti mengenai hal-hal yang yang sepele. Saat pasien mengekspresikan ketakutan atau kekwatiran tentang pembedahan yang akan di hadapinya penting artinya untuk mempertahankan agar komunikasi tetap terbuka.

Pasien praoperatif dan mengalami berbagai ketakutan. Takut terhadap ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas. Perawat dapat melakukan banyak hal untuk menghilangkan kesalahan konsep dan kesalahan informasi, dan untuk memberikan penenangan ketika memungkinkan. Selain ketakut-takutan diatas, pasien sering mengalami kekwatiran lain seperti masalah financial, tanggung jawab terhadap keluarga dan kewajiban pekerjaan atau ketakutan akan pragnosa yang buruk atau probabilitas kecacatan dimasa datang. Perawat dapat mengalihkan ketakut-takutan bersama dan mengatur untuk mendapat bantuan dari tenaga kesehatan professional lainya jika dibutuhkan. Jika kekwatiran berasal dari ketakutan tentang prognosisnya, maka dokter harus di hubungi.

Kepercayaan spiritual memainkan peranan penting dalam menghadapi ketakutan dan ansietas. Tanpa memandang anutan keagamaan pasien, kepercayaan spiritual dapat menjadi medikasi teraupetik. Segala upaya harus dapat dibuat untuk membantu pasien mendapat bantuan spiritual yang pasien inginkan. Keyakinan mempunyai kekuatan yang sangat besar; dengan begitu, kepercayaan yang dimiliki oleh setiap individu pasien harus di hargai dan didukung. Beberapa pasien menghindari kunjungan dari pemuka agama dengan alasan bahwa, tindakan tersebut dapat membuat pasien gelisah. Bagaimana pun menanyakan apakah pemuka  agama mengetahui tentang pembedahan yang akan dijalaninya adalah pendekatan penuh kasih dan tidak mengancam.

Menghormati nilai budaya dan kepercayaan pasien menfasilitasi terciptanya hubungan dan saling percaya beberapa area pengkajian termasuk kelompok etnik yang menjadi bagian dari pasien dan adat kebiasaan serta kepercayaan terhadap penyakit dan tenaga perawatan kesehatan. Sebagai contoh pasien dari kelompok budaya tertentu tidak terbiasa untuk mengekpresikan perasaan secara terbuka. Perawat harus mempertimbangkan pola control diri ini ketika mengkaji nyeri. Sebagai tanda  hormat, ada individu. dari kelompok budaya tertentu tidak melakukan kontak mata langsung dengan orang lain penting bagi perawat untuk mengetahui tidak adanya kontak mata ini bukanlah suatu penghindaran atau tidak adanya minat.

Barangkali fasilitas yang paling berguna saat perawat memberikan asuhan adalah kemampuan untuk mendengarkan  pasien, terutama ketika sedang mengumpulkan riwayat pasien. Melalui keterlibatan dalam percakapan dan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dan mewawancara, perawat dapat mengumpulkan informasi dan wawasan yang sangat berharga. Perawat yang tenang memperhatikan, pengertian, menimbulkan kepercayaan pada pihak pasien.

                      Status Nutrisi dan Penggunaan Bahan Kimia     

Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan  mengukur tinggi dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus dikoreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup unuk perbaikan jaringan.

Dehidrasi, hipovolemia dan ketidakseimbangan elektrolit adalah umum terjadi dan harus didokumentasikan dengan cermat. tingkat keparahan sering sulit untuk dietukan, ketika pasien sedang disiapkan untuk pembedahan, waktu tambahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki deficit untuk meningkatkan kondisi persoperatif  sebaik mungkin. Nutrien yang diperlukan untuk penyembuhan luka diringkaskan pada table 19-2.

Obesitas, obesitas sangat meningkatkan resiko dan keparahan komplikasi yang berkaitan dengan pembedahan. Selama pembedahan, jaringan lemak terutama sekali rentan terhadap infeksi. Selain itu pula, obesitas menciptakan peningkatan masalah-masalah teknik dan mekanik, oleh karenannya, dehisens (perlepasan luka) dan infeksi luka, umum terjadi, pasien obes sering lebih sulit dirawat karena tambahan berat badan; pasien tidak optimal ketika ia berbaring miring dan karenannya mudah mengalami hipovelintasi dan komplikasi pulmonary pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, fiebitis, dan kardiovaskuler, endokri, hepatic, dan penyakit biliariterjadi lebih sering pada pasien obes, telah diperkirkan bahwa untuk setiap kelebhan berat badan 13 kg, diperlukan sekitar 40 km pembuluh darah. Kebutuhan yang meningkat pada jantung dalam hal ini sangat jelas.

Penggunaan Obat Dan Alkohol, orang yang mengalami ketagihan terhadap obat dan alcohol seringkali menyangkal atau berupaya unuk menyembunyikan kebiasaan tersebut. Sering berbagai infeksi dan letak trauma pada tubuh dapat terlihat. Situasi ini membutuhkan perhatian yang sangat cermat, pertanyaan gambling. Dan sikap yang tidak menunjukan tuduhan dari sisi perawat yang mengkaji pasien.

Individu yang mengalami inoksikasi akut rentan terhadap cedera, oleh karenanya, pembedahan ditundadahulu bila memungkinkan. Jika diperlukan pembedahan kedaruratan, anestesi local atau regional digunakan untuk bedah minor, sebaliknya, untuk mencegah muntah dan aspirasi, lambung harusn diintubasi dan diispari sebelum anestesi umum diberikan.

Anestesi local atau regional digunakan untuk bedah minor, sebaliknya, untuk mencegah muntah dan aspirasi, lambung harusn diintubasi dan diispari sebelum anestesi umum diberikan.

Individu dengan riwayat alkoholik kronis sering kali menderita malnutrisi dan maslah-masalah sistemiklain yang meningkatkan risiko pembedahan. Selain itu pula, delirium akibat heni-alkohol (tremens delirium) mungkin diperkirakan pada hari kedua atau ketiga setelah henti alcohol da kondisi ini berkaitan dengan mortalitas yang signifikan bila kondisi ini terjadi pada periodepasca-operatif.

                      Status Pernafasan

Tujuan bagi pasien yang berpotensi menjalani pembedahan adalah untuk mempunyai fungsi pernafasan yang optimal. Semua pasien diminta untuk berhenti merokoksampai 6 minggu sebelum pembedahan; mereka yang akan menjalani bedah abdomen bagian atas dan bedah dada diajarkan latihan bernapas dan cara menggunakan spirometer insentif.

Karena penting sekali untuk mempertahankan ventilasi yang adekuat selama semua fase pemedahan, pembedahan biasanya dikontraindikasikan ketika pasien mengalami ifeksi pernapasan.

Kesulitan pernapasan meningkatkan kemungkinan atelektasis, bronkopneumonia, dan gagal napas ketika anesthesia diberikan pada keadaan ventilasi yang tidak adekuat . pasien dengan masalah paruyang sudah ada sebelumnya dievaluasi dengan melakukan pemeriksaan fungsi paru dan anallis gas darah untuk menemukan luasnya insufisiensi respirasi. Mungkin diresepkan antibiotic untuk mengatasi infeksi tersebut.

                        Status Kardiovaskuler

Tujuan dalam  menyiapkan semua pasien untuk pembedahan adalah agar fungsi system kardiovaskuler berfungsi dengan baik untuk memenuhi kebutuhan oksigen, cairan dan  nutrisi sepanjang periode perioperatif

Karena penyakit kardiovaskuler meningkatkan resiko, pasien dengan penyakit ini membutuhkan peerhatian yang lebih besar dari besarnya selama semua fase perawatan dan penatalaksanaan. Bergantung pada keparahan gejala, pembedahan mungkin diundur sampai pengobatan medis dapat dilakukan untk memperbaiki kondisi pasien. Pada waktunya, tindakan pembedahan dapat dimodifikasi untuk memenuhi toleransi jantung pasien. Sebagai contoh, pada arter koroner, kolostomi sederhana sementara mungkin lebih baik dilakukan dari pada tindakan reseksi koloe secara ekstensif.

Yang terpenting dari pasien dengan penyakit kardiovaskuler adalah kebutuhan untuk menghindari perubahan posisi secara mendadak, imobilisasi berkepanjangan hipotensi aau hipoksia, dan terlalu membebani system sirkulasi dengan cairan atau darah.

Fungsi Hepatik Dan Ginjal

Tujuannya adalah untuk mempunyai fungsi hepar dan system urinary yang maksimal sehingga medikasi, agen anesthesia dan sampah tubuh serta toksin dapat dibuangoleh tubuh secara adekuat.

Hepar penting dalam biotransformasi senyawa-senyawa anesthesia. Karena itu, segala bentuk kelainan hepar mempunyai efek pada bagaimana anestetik tersebut dimetabolisme. Karena penyakit hepar akut berkaitan dengan mortalitas bedah yang tinggi, perbaikan fungsi heparpraoperaif amalah diperlukan. Pengkajian ang cermat dilakukan dengan berbagai pemeriksaanfungsi hepar.

Ginjal terlibat dalam ekskresi obat-obat anesthesia dan metablitnya.

Status asam basa dan metabolisme juga merupakan pertimbangan penting dalam pemberian anesthesia. Pembedahan dikontraindikasikan bila pasien menderita nefritis akut, insufisiensi renal akut dengan oliguri atau anuri, atau maslah-masalah renal akut lainnya, kecuali pembedahan merupakan satu tindakan penyelamat hidup atau amat penting untuk memperbaiki fungsi urinary, seperti pada obstruksi uropai.

 

Fungsi Endokrin

Pada diabetes tidak terkontrol, bahaya pokok utama yang mengancam hidup adalah hipoglikemia, yang memungkin terjadi selama anesthesia atau akibat masukan karbohidrat pascaoperatif yang tidak adekuat atau pembeerian obat insulin yan berlebihan. Bahaya lain yang mengancam pasien tetapi terjadinya tidak secepat hipoglikemia adalah asidosis atau glukosuria. Secara umum, risiko pembedahan bagi pasien dengan diabetes tidak terkontrol tidak lebih besar dari pasien yang bukan diabetes; bagaimanapun, pemantauan kadar gula darah yang sering adalah penting sebelum, selama dan setelah pembedahan.

Pasien yang mendapat kortikosteroid beresiko mengalami insufisiensi adrenal; karena itu, penggunaan modikasi steroid untuk segala tujuan selama tahun-tahun sebelumnya harus dilaporkan pada ahli anestesi dan ahli bedah. Selain itu, pasien dipantau terhadap tanda-tanda insufisiensi adrenal.

Fungsi imunologi

Fungsi pengkajian praoperatif yang penting adalah untuk menentukan adanya alergi, termasuk reaksi alergi sebelumnya. Terutama sekali penting untuk mengidentifiasi dan mencatat segala bentuk  sensitivitas terhadap medikasi tertentu dan reaksi merugika terhadap agens ini di masa lalu. Pasien diminta untuk mengingat segala substansi yang mencetuskan reaksi alergi sebelumnya, termasuk medikasi, tranfusi darah dan agens kontras dan untuk menggambarkan tanda dan gejala yag ditimbulkan oleh substansi ini. Riwayat asma bronchial dilaporkan pada ahli anestesi.

Immunosupresi umum terjadi pada terapi kortikosteroid, transplantasi ginjal, terapi radiasi, kemoterapi dan gangguan yang menyerang system imun (mis, AIDS dan leukemia )

Gejala ringan atau sedikit kenaikan suhu tubuh harus diteliti, karena pasien ini sangat rentan terhadap infeksi, harus hati-hati sekali untuk menggunakan asepsis yang sangat cermat.

Terapi Medikasi Sebelumnya

Riwayat medikasi dikumpulkan dari setiap pasien karena kemungkina efek samping dari medikasi pada perjalanan perioperatif pasien dan kemungkinan efek inerkasi oba. Segala medikasi yang digunakan pasien atau yang perna digunakan dimasa lalu didokumentasikan., termasuk obat-obat yang dijual bebas dan frekuensi penggunaannya medikasi yang poten mempunyai efek pada fungsi fisiologis; interaksi medikasi ini dengan agens anestetik tela menyebabkan masalah serius, seperti hipotensi arteri dan kolaps sirkulasi atau depresi.

Efek potensial dari terapi obat sebelumnya dievaluasi oleh ahli anestesi, yang mempertimbangkan lamanya waktu pasien telah menggunakan modikasi, pasien dan sifat dari pembedahan yang direncanakan. Medikasi yang menyebabkan kekhawatiran tertentu meliputi:

Kortikosteroid adrenal-kosikoteoid tidak akan dihentikan secara tiba-tiba sebelum pembedahan. Individu yang telah menggunakan steroid selama beberapa waktu dapat menderita kolaps system kardiovaskular jika steroid tersebut dihentikan secara tiba-tiba. Karena itu, bolus steroid diberikan secara intravena dengan segera sebelum dan sesudah pembedahan.

Diuretic-diuretik tiasid dapat menyebabkn depresi pernapasan berlebihan selama anesthesia; ini terjadi akibat ketidakseimbagan elektrolit.

Fenotiasin-menikasi ini dapat meningkatkan kerja hipotensif dari anestesi

Antidepresan-inhibitor monoamine oksidase (MAO) meningkatkan efek anestes.

Tranquilizer-barbiturat, diazepam dan klordiasepoksid dapat menyebabkan ansietas, ketegangan dan bahkan kejang jika dihentikan secara tiba-tiba.

Insulin-interaksi antara anestesi dan inslin harus dipertimbangkan ketika pasien dengan diabetes menjalani pembedahan.

Antibiotic-obat-obat “mycin” seperti neomisin, kanamisin dan kurang umum, streptomisin dapat menimbulkan masalah; saat medikasi ini dikombinasi dengan relaksan otot bentuk kurare, transimisi saraf terganggu dan dapat terjadi paralisis system pernapasan.

Untuk alas an-alasan tersebut diatas, adalah penting di mana riwayat medikasi pasien dikaji oleh perawat dan anestesi.

Perimbangan Geronologi

Individu lansia yang menghadapi oprasi dapat mempunyai suatu kombinasi penyakit dan masalah kesehata selain masalah kesehatan yang mengidintikasikan pembedahan. Individu lansia sering tidak melaporkan gejala, barang kali karena mereka takut akan didiagnosa penyakit serius atau karena mereka menerima gejala tersebut sebagai bagian dari proses pemuaan. Tingkat kewaspadaan yang tinggi tentang isyarat yang sangat halus mewaspadakan perawat terhadap masalah yang mendasari.

Secara umum, lansia dianggap memiliki resiko pembedahan yang lebih buruk dibandingkan pasien yang lebih muda, cadangan jantung menurun, fungsi ginjal dan hepar menurun dan aktivitas gastrointestinal tampaknya berkurang. Dehidrasi, konstipasi, dan malnutrisi mungkin terjadi.

Keterbatasan sensori seperti penggunaan peglihatan dan pendengaran dan penurunan sensitivitas terhadap sentuhan seringkali menjadi alas an terjadinya kecelakaan, cedera dan luka bakar. Karena itu, perawat harus waspada untuk mempertahankan lingkungan yang aman. Arthritis merupakan masalah yang umum terjadi pada lansia dan dapat mempengaruhi mobilitas, membua pasien sulit untuk merubah posisi dari yang satu ke sisi lainnya tanpa disrtai ketidaknyamanan. Tindakan protektif yang mencakup pemasangan bantalan busa untuk daerah yang nyeri, memindahkan pasien dengn pelan, melindungi area tonjolan tulang dari tekanan yang lama dan melakukan masase ringan untuk meningkatkan sirkulasi yang adekuat.

Keadaan mulut penting pula untuk dikaji sebab seringkali ditemukan adanya karies gigi, gigi palsu, temuan ini erutama penting bagi ahli anestesi.

Penuunan perspirasi mengarah pada kulit yang kering dan gatal-gatal. Kulit yag rapuhtersebut mudah mengalami abrasi, sehngga tindakan kepaspadaan yang lebih tinggi harus diterapkan ketika memindahkan pasien lansia. Penurunan lemak subkutan membuat individu lansia lebih rentan terhadap perubahan suhu tubuh. Selimut katun yang ringan akan sesuai untuk menyelimuti pasien lansia dipindahkan ked an dari ruang operasi.

Individu lansia tidak diragukan lagi telah mengalami banya penyakit pribadi dan kemungkinan penyakit mengancam jiwa dan keluarganya. Pengalaman seperti ini dapat mengakibatkan ketakutan terhadap masa depan. Memberikan kesempatan untukmengekspreikan ketakutan ini memberdayakan pasien untuk mendapat ketenangan dalam pikiran dan suatu perasaan bahwa dirinya dimengerti.

Secara ringkasnya, tujua keseluruhan dalam periode praoperaif adalah untuk mempunyai sebanyak mungkin factor-faktor kesehatan yang positif. Setiap upaya dilakukan untuk mengstabilkn kondisi-kondisi ersebut yang bila tidak akan menghambat kelancaran penyembuhan. Kitika factor-fakor negative seperti yang tertera pada bagian 19-2 mendominasi, risiko pembedahan dan komplikasi pascaoperasi akan meningkat.

Informed Consent

Izin tertulis yang dibuat secara sadar dan sukarela dari pasien diperlukan sebelum suatu pembedahan dilkukan. Izin tertulis seperti ini melindungi pasien terhadap pembedahan yang lalai dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari suatu lembaga hukum. Demi kepentingan semua pihak yang terkait, perlu mengikuti prinsip medikolegal yang baik.

Tanggung jawab perawat adalah untuk memastikan bahwa informed consen telah didapat secara sukarela dari pasien oleh dokter. Table 19-3 menyajikan criteria untuk persetujuan tindak meik yang abash.

Sebelum pasien menandatangani formulir consent  ahli bedah harus memberikan penjelasan yang jelas dan sederhana tentang apa yang akan diperlukan dalam pembedahan. Ahli bedah juga harus menginformasikan pasien tentang alternative-alternatif yang ada, kemungkinarisiko, komplikasi, perubahan bentuk tubuh, menimulkan kecacatan, ketidakmampuan, da pengangkata bagian tubuh, juga tentang apa yang diperkirakan terjad pada periode pascaoperatif awal dan lanjut.

Persetujuan tindak medic diperluan ketika:

  • Prosedur tindakan adalah invasive, seperti insisi bedah, biopsy, sistoskopi, atau parasentesia
  • Menggunakan anastesi
  • Prosedur non-bedah yang dilakukan dimana resikonya pada pasien lebih dari sekadar resiko ringan, seperti anterigoram
  • Prosedur yang dilakukan yang mencakup terapi radiasi atau kobalit

Pasien secara pribadi menandatangani consent tersebut jikia dia telah mencapai usia legal dan mampu secara mentall. Bila pasien dibawah umur, atau idak sadar atau tidak kompeten, izin harus didapat dari anggota keluarga yang bertanggung jawab atau wali yang sah. Individu dibawah umur dengan kondisi khusus (menikah atau yang dapat menghidupi dirinya sendiri) dapat menandatangani surat izin tersebut. Peraturan Negara bagian dan kebijakan lembaga hukum harus dipatuhi.

Pada kasus-kasus kedaruratan penting bagi ahli bedah untuk mengambil tindakan bersifat penyelamatan tanpa inferomed consent dari pasien. Namun demikian, setiap usaha harus dilakukan untuk menghubungi pihak keluarga pasien. Pada siuasi ini komunikasi dapat dilakukan melalui telepon, telegram, fax, atau medis elektronok lainnya.

Jika pasien ragu-ragu dan tidak sempat encari pengobatan alternative, opini orang kedua dapat diminta. Tidak ada pasien yang boleh dpaksa untuk menandatangan izin oprasi. Penolakan terhadap prosedur pembedahan adalah hak hukum dan hak  istimewa seserang. Akan tetapi, informasi tersebut harus didokumentaskan dan disampaikan keahli bedah sehingga pengaturan  lain dapat dibuat; sebagai contoh, penjelasan tambahan dapat diberikan kepada pasien dan keluarganya, atau pembedahan dapat dijadwalkan ulang nantinya.

Proses consent ini dapat dilengkapi dengan memberikan materi audiovisual untuk melengkapi diskusi, dengan memastikan bahwa kata-kata formulir consent tersebut dapat dipahami, dan dengan  menggunakan  strategi dan sumber-sumber lain sesuai dengan kebutuhan untuk membantu pasien mengerti.

  • Formulir conset yng ditandatngani diletakkan ditempat yang mudah dilihat pada kardeks pasien danmenyertai pasien keruang operasi.

Pendidikan Pasien Praoperatif

Manfaat dari instruksi praoperatif telah dikenal sejak lama. Setiap pasien diajarkan sebagai seorang individu, dengan mempertimbangkan segala keunikan ansietas, kebutuhan dan harapan-harapannya, program instruksi yang didasarkan pada kebutuhan individu direncanakan dan diimplementasikan pada waktu yang tepat. Jika sesi penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum pembedahan, pasien mungkin tidak ingat tentang apa yag telah dikatakan. jika instruksi diberikan terlalu dekat dengan waktu pembedahan, asien mungkin tidak dapat berkosentrasi ata belajar karena ansietas atau efek dari medikasi praanestesi.

Idealnya, instruks dibagi dalam beberapa periode waktu untuk memungkinkan pasien mengasimilasi informasi dan untuk megajukan pertanyaan ketika timbul pertanyaan. Seringkali, sesi penyuluhan ini dibarengi dengan berbagai persiapan prosedur untuk memudahkan aliran informasi. Pada kenyataannya, perawat harus membuat penilaian tentang seberapa banyak yang pasien ingin dan harus ketahui. Pada beberapa contoh, terlalu rinci malahmeningkatkan tingkat ansietas pasien.

Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah-langkah prosedur dan harus mencakup penjelasan tentang sensasi yang pasien akan alami. Sebagai contoh, memberiahu pasien hanya medikasi praoperatif yang akan membuatnya relas sebelum operasi tidaklah seefektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan megantuk. Mengetahui apa yang diperkrakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapa tingkat relaksasi yang lebih tinggi dari pada yang diperkirakan sebaliknya.

Pengaturan waktu yang tepat untuk penyuluhan praoperatif tidaklah realistic bila diterapkan dipusat-pusat pembedahan atau dilingkungan bedah hari ayng sama.bagaimanapun, selaa kunjungan pra-masuk ketika meriksaan diagnostic sedang dilakukan, perawat atau tenaga ain dapat menjawab pertanyaan dan memberikan kesempatan untuk penyuluhan pasien dan membangun hubungan. Selama kunjungan ini, pasien dapat bertemu dan bertanya pada perawat yang akan bertugas, dan melihat audiovisual, menerima materi ertulis,dan akan diberi nomor telepon yang dapat dihubungi bila timbul pertanyaan ketika mendekati waktu pembedahan.

Latihan Napas Dalam, Batuk Dan Relaksasi

Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anestesi umum. Hal ini dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal, MSI) dan bagaimana menghembuskan  napas dengann lambat. Pasien diletakkan dalam  posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru yang maksimum. Setelah melakukan latihan  napas dalam beberapa kali, pasien diinstruksikan untuk bernapas dalam-dalam, menghembuskan melalui mulut, ambil napas pendek, dan batukkan dari bagian paru yang paling dalam selain meningkatkan pernapasan, latihan ini membantu pasien untuk relaksasi.

Bila akan dilakukan insisi abdomen atau toraks, perawat memperagakan bagaimana garis insisi dapat dibebat sehingga tekanan diminimalkan dan nyeri terkonrol. Pasien harus membentuk jalinan kedua elpak tangannya dengan kuat. Lalu meletakkan jalinan tersebut melintang diatas luka insisi dan bertindak sebagai bebat yang efektif keika batuk. Selain itu, pasien diinformasikan bahwa medikasi akan diberikan untuk mengontrol nyeri.

Tujuan dalam meningkatkan batuk adalah untuk memobbilisasi sekresi sehingga dapat dikeluarkan. Ketika dilakukan napas dalam sebelum batuk, reflex batuk dirangsang. Jika pasien tidak dapat batuk secara efektif, pneumonia hipostastik dan komplikasi paru lainnnya dapat terjadi.

Perubahan Posisi dan Gerakan Tubuh Aktif

Tujuan peningkatan pergerakan tubuh secara hati-hati pada pascaoperatif adalah untuk memperbaiki sirkulasi, untuk mencegah statis vena, dan untuk menunjang fungsi pernafasan yang optimal.

Pasien ditunjukan bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya dan cara untuk mengambil posisi lateral. Posisi ini akan digunakan pada pascaoperatif (bahkan sebelum pasien sadar) dan dipertahankan sebelu 2 jam.

Latihan ekstreimas meliputi ekstensi dan fleksi lutut dan sendi panggul (sama dengan mengendarai sepeda selama posisi berbaring mirng). Telapak kaki diputar seperti membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu jari kaki. Siku dan bahu juga dilaih ROM. Pada awalnya pasien akan dibantu dan diingatkan untuk melakukan latihan ini, etapi selanjutnya dianjurkan untuk melakukan laihan secara mandiri. Tonus otot dipertahankan sehingga ambulasi akan lebih mudah dilakukan.

Perawat diingatkan untuk tetap mnggunakan mekanik tubuh yang tepat dan mengintruksikan pasien untuk melakukan hal yang sama. Ketika pasien dibaringkan dalam posisi apa saja, tubuhnya dipertahankan dalam kelurusan yang sesuai.

Kontrol Dan Medikasi Nyeri

Pasien diberitahukan bahwa medikasi praanestesi akan diberikan untuk meningkatkan relaksasi dan dapat menyebabkan rasa mengantukdan keunikan haus. Pada pascaoperatif, medikasi akan diberikan untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan rasa nyaman tetapi bukan untuk mencegah aktifitas yang sesuai atau pertukaran udara yang adekuat. Pasien diyakinkan bahwa medikasi ersebut akan tersedia pada pascaopertif untuk menghilangkan nyeri. Metode yang diantisipasi mengenai emberian agens anestesi (seperti PCA, epidural) dibicarakn dengan pasien sebelum pembedahan dan minat serta dikaj keinginan pasien untuk berpartisipasi dalam penerapan metode tersebut.

Antibiotic profilaksis mungkin akan diberikan dalam kasus spesifik. Seringkali, sefalosorin dipilih karena agens ini mempunyai oksisitas yang rendah dan spectrum kerja luas. Akan tetapi, penggunaan antimikrobial profilaksis jangka pendek atau doksis tunggal untuk prosedur bedah bersih harus ekstra hati-hatidipertimbagkan karena penggunaannya dapat menyebabkan peningkatan koloni dan bukannya menurunkan.

kontrol Kognitif

Strategi kognitif dapat bermanfaat untuk menghilangkan ketegangan, ansietas yang berlebihan dan relaksasi. Contoh dari strategi tersebut meliputi yang berikut:

Imajinasi-pasien dianjurkan untuk berkosentrasi pada pengalaman yang menyenangkan atau pemandangan yang menyenangkan.

            Distraksi-pasien dianjurkan untuk memikirkan cerita yang dapat dinikmati atau mendeklamasikan puisi favoritnya.

Pikiran optimis diri-menyatakan pikiran-pikiran imistik (“saya tau semuanya akan berjalan dengan lancar”) dianjurkan.

Informasi Lain

Pasien akan mendapat manfaat bila mengetahui kapan keluarganya dan temannya bisa berkunjung setelah pemedahan dan bahwa penasihat spiritualnya dapat hadir bila diinginkan. Mengetahui sebelumnya tentang kemungkinan diperlukan ventilator atau terpasangnya selang akan membantu pasien menerima alat ini pada periode pascaopertif.

Nutrisi dan Cairan

Bila pembedahan dijadwalkan untuk pagi hari, makanan kecil mungkin diperbolehkan pada malam sebelumnya, pada pasien dehidrasi, dan terutama pada pasien lansia. Cairan peroral seringkali dianjurkan sebelum operasi dilakukan. Selain itu, cairan mungkin akan diresepkan secara intravena. Terutama pada pasien yang tidak mampu minum. Jika pembedahan dijadwalkan siang hari dan tidak melibatkan bagian saluran gastrointestinal manapu, sarapan pagi lunak bisa saja diberikan. Seringnya, masukan makanan atau air peroral harus sudah idak diberikan 8 samai 10 jam sebelum operasi. Bagaimanapu, banyak pusat ambulatory sekarang membolehkan masukan cairan jernih 3 sampai 4 jam sebelum pembedahan.

Tujuan menunda memberikan sebelum pembedahan adalah untuk mencegah aspirasi. Aspirasi terjadi ketika makanan dan air mengalami regurgitasi dari lambung dan masuk kedalam system paru. Material yang terhirup tersebut bertindak sebagai benda asing, yang mengiritasi, dan menyebabkan reaksi inflamasi yang menggangggu pertukaran yang adekuat dari udara. Aspirasi merupakan masalah serius dan menyebabkan angka moralitas yang tinggi (60% sampai 70%) ketika hal tersebut terjadi. Pasien bedah yang lansia bahkan berisiko lebih tinggi lagi terhadap aspirasi.

Persiapan Intestinal

Pembersihan dengan enema atau laksatif mungkin dilakukan pada malam sebeum operasi dan mungkin diulang jika tidak efektif. Pembersihan ini adalah untukmencegah defekasi selama anestesi atau untuk mencegah trauma yang tidak diinginkan pada intestinal selama pembedahan abdomen. Kecuali kondisi pasien menyebabkan suatu kontraindikasi, toilet atau commode atau tempat tidur, ketimbang menggunakan bedpan, digunakan untuk evaluasi enema, selain itu pula mungkin diresepkan antibiotic untuk mengurangi flora usus.

Persiapan Kulit

Tujuan dari persiapan kulit praoperatif adalah untuk mengurangi sumber bakteri tanpa mencederai kulit. Bila ada waktu, seperti pada bedah selektif, pasien dapat diinstruksikan untuk menggunakan sabun yang mengandung deterjen-germisida untuk membersihkan area kulit selama beberapa hari sebelum pembedahan. Untuk mengurangi jumlah organisme  kulit, persiapan ini dapat dilakukan dirumah.

Sebelum pembedahan, pasien harus mandi air hangat dan  merelakskan serta menggunakan sabun betadin. Eskipun hal ini lebih disukai dilakukan pada hari pembedahan, waktu yang dijadwalkan untuk pembedahan dapat mengharuskan bahwa hal tersebut dilakukan pada malam sebelumnya. Tujuan menjadwalkan mandi pembersihan sedekat mungkin waktu dengan pembedahan adalah untuk mengurangi risiko kontaminasi kulit terhadap luka bedah. Mencuci rambut sehari sebelum pembedahan sangat disarankan kecuali kondisi pasien tidak memungkinkan hal tersebut.

Amat disarankan agar kulit dan sekitar letak opertif tidak dicukur. Selama mencukur, kulit mengalami cedera oleh silet dan menjadi pintu masuk untuk bakteri. Jaringan yang cedera ini dapat bertindak sebagai untuk pertumbuhan bakteri. Selain itu, makin jauh interval antara bercukur dan operasi, makin tinggi angkainfeksi luka pascaoperatif. Kulit yang dibersihkan dengan baik tetapi tidak dicukur sering jarang menyulitkan dibanding dengan kulit yang dicukur.

Protocol untuk persiapan kulit, bervariasi banyak ahli bedah lebih menyukai rambut dibersihkan dari area yang akan dioperasi. Salah satu pendekatan menyangkut penggunaan alat cukur listrik untuk mencukur rambut 1 sampai 2 mm dari kulit supaya jangan melukai kulit. Alat cukur harus dibersihkan dengan seksama setelah digunakan. Pendekatan lain adalah dengan menggunakan krim penghilang rambut.

Jika protocol lembaga atau ahli bedah mengharuskan kulit untuk dicukur, pasien diberitahukan tentang prosedur mencukur, dibaringkan dalam posisi yang nyaman, dan tidak memajang bagian yang tidak perlu. Substansi adesif atau berminyak mungkin dapat dihilangkan cepat dengan menggunakan benzen atau eter, jika balutan rasa dinginnyatidak mengganggu bagi pasien.

Kulit mungkin dicukur oleh tim persiapan khusus, oleh perawat ditugaskan untuk merawat pasien, atau oleh anggota tim ruang operasi. Gunting dapat digunakan pertama-tama untuk membuang rambut yang lebih panjang. Deterjen antimikrobial dapat digunakan untuk menghasilkan busa yang membuat rambut yang lebih mudah untuk dibuang. Kulit ini diregangkan dan dicukur dengan arah sesuai dengan arah pertumbuhan rambut. Sapuan panjang yang kontinu biasanya lebih baik. Hindari guratan, dan semua tempat potensial untuk terjadinya infeksi dilaporkan semua tindakan dan temuan didokumentasikan.

Krim Penghilang Rambut, senyamaan kimia (krim untuk melepaskan rambut). Aman untuk mempersiapkan guna keperluan pembedahan. Jika terdapat keraguan tentang kemungkin suatu reaksi alergi, uji bercak, harus dilakukan terlebi dahulu. Sebagai tindakan penghematan, rambut yang panjang dpat digunting terlebi dahulu sebelum mengoleskan krim untuk mengurangi jumlah krim yang digunakan.

            Krim ini dioleskan secara merata 1,25 cm diatas keseluruhan didaerah operasi. Spatel lidah atau tangan yang bersarung dapat digunakan untuk mengoleskan krim ini. Setelah krim digunakan pada kulit selama 10 menit (berganung pada instruksi kemasan), krim dibershkan dengan spatel lidah atau dengan spon kasa yang telah dibasahi. Bil semua krim dan rambut telah diangkat, kulit dibilas dengan sabun dan air dan dikeringkan dengan baik.

Ada beberapa keuntungan menggunakan krim penghilang rambut untuk persiapan kulit praoperatif. Hasil akhir adalah kulit bersih, halus dan utuh, goresan, abrasi, terluka dan pembuangan rambut yang tidak adekuat dapat dicegah. Penggunaan ini memberikan kenyamananan pada pasien dan pasien dapat mengoleskan krim ini secara pribadi untuk prosedur operatif tertentu.

Intervensi Keperawatan Praoperatif Segera

Pasien dipakaikan baju rumah sakit yang dibiarkan tidak terikat dan terbuka bagian belakangnya. Jika pasien memiliki rambut yang panjang, rambut tersebut mungkin diikat; jepit rambut dilepas dan seluruh rambut ditutup dengan topi operasi yang terbuat dari kertas sekali pakai.

Mulut asien diinfeksi, dan gigi palsu atau mungkin ikat gigi dilepaskan, jika dibiarkan didalam mulut alat ini akan dengan mudah jauh kebelakang tenggorok selama induksi anestesi dan menyebabkan obstruksi pernapasan.

Perhiasan tidak dikenakan keruang operasi, bahkan cincin kain sekalipun harus dilepas. Jika pasien menolak unuk melepaskan cincinnya, sehelai kasa kecil disisipkan melalui cincin dan ikatkan dengan kuat kepergelangan tangan pasien. Semua barang berharga, termasuk gigi palsu dan alat-alat protetk, diberi label nama pasien denga jelas dan disimpan dengan tempat yang aman sesuai dengan kebijaksanaan rumah sakit.

Semua pasien (kecuali merekadengan ganggun urologi) harus buang air kecil tepat sebelum masuk ruang operasi untuk meningkatkan kontnen selama pembedahan abdomen bagian bawah dan untuk memudahkan mengakses organ-orga abdomen. Kateterisasi tidak selalu dilakukan kecuali dalam keadaan kedaruratan atau keika dierlukan untuk memastikan pengosongan kandung kemih dengan memasang indwelling kateter. Dalam contoh ini, kateter ersebut harus dihubungkan dengan system drainase tertutup. Urin yang dikeluarkan diukur dan jumlah serta waktu berkemih dicatat pada catatan praoperatif.

Medikasi Praanestesi: Farmakokinetik

Barbiturate/Tranquilizer. untuk sedasi, umumnya dipakai barbiturate erutama pentobarbital (Nembutal) dan sekobarbital (sodium seconal)-sebagai hipnotik seperti benzodiazepine (flurazepam, diazepam). Akan tetapi kunjungan ahli anestesi dan perawat ruang operasi seringkali memiliki efek yang menenangkan dan melegakkan dari pada barbiturate. Meskipun demikian, malam sebelum operasi, biasanya diberikan hipnotik untuk menghilangkan insomnia.

Opioid, medikasi seperti morfin dan meperidin (demoral) mungkin diresepkan sebelum operasi untuk menurunkan besarnya anestesi umum yang diperlukan. Medikasi ini dapat juga digunakan untuk menghasilkan analgesia pada pasien yang mengalami nyeri sebeum pembedahan. Pada saat sama, penting artinya untuk menyadari bahwa dosis analgesic dapat mendepresi pernapasan dan reflex batuk dan meningkatkan resiko asidosia respiratori pneumotitis aspirasi. Dosis penuh dapat menyebabkan hipotensi, mual, muntah, konstipasi dan distensi abdomen.

Antikolirgenik. Medikasi kolirgenik mungkin diberikan untuk menurunkan sekresi saluran napas dan untuk mencegah atau mengatasi reflex melambat jantung selama anestesi. Medikasi ini juga diberikan untuk nmelawan sekresi yang diinspasi degan induksi anastesi dan intubasi. Antropin seringkali diberikan; akan tetapi, harus diberikan dengan sangat hati-hati pada pasien yang mengalami glaucoma, tirotoksikosis, hiperplasi prostat atau beberapa bentuk kelainan jantung.

Karena alkaloid beladona (atropine dan skopolamin) mempunyai efek yang berada pada frekuensi nadi, juga efek lemahnya, glikopirolat (robinul), suatu senyawaan ammonium kuartenari, sering digunakan. Adalah medikasi antikolinergik yang dua kali lebih poten dari anti sialagong (menurunkan sekresi) dan bekerja tiga kali lebih lama.

Medikasi praanestetik lain. Preparat lain yang digunakan sebagai medikasi praanestesik adalah droperidol, fentanil, atau kombinasinya. Medikasi ini tidak boleh digunakan bersama sedative karena dapat menyebabkan depresi pernapasan dan sirkulasi dan dapat menguatkan depresan.

Antbiotik profilaktik diberikan ketika diduga ada kotaminasi bakteri, atau bagi pasien dengan luka yang bersih yang merupakan tempat pemasangan alat protetis.

Penentuan waktu pemberian medikasi, karena medikasi praanestestik harus sudah diberikan 45 sampai 75 menit sebelum anestesi dimulai, sangat penting arinya bila perawat memberikan obat ini tepat pada waktu yang ditentukan; jika tidak efeknya akan tidak maksimal, atau tidak akan mulai beraksi keika anestesi dimulai.

Setelah medikasi praanestesik diberikan, pasien ditempatkan ditempat tidur dengan pagar tempat tidur terpasang karena medikasi dapat menyebabkan kepala seperti melayang dan mengantuk. Jika diberikan antropin atau glikopirolat (robinul), pasien diinformasikan bahwa obat tersebut akan membuat mulutnya terasa kering. Selama waktu tersebut, perawat mengamati pasien terhadap reaksi medikasi yang tidak diinginkan, lingkungan dekat pasien dijaga agar tetap tenang untuk meningkatkan relaksasi.

Sangat sering terjadi, pembedahan ditunda atau jadwal ruang operasi berubah, dan hal tersebut membuat tidak.

  1. Nama Pasien :                     tanggal:                      tinggi badan             berat badan

Pita identifikasi terpasang :

  1. Informed consent ditandatangani :                               izin khusus ditandatangani:
  2. Laporan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik disertakan :                     tanggal :
  3. Catatan laboratorium disertakan :

HSD:                HB:               urinalisis:              ht:

  1. Item:                                 ada:                           tidak ada:
    1. Gigi asli:

Gigi palsu; atas bawah ,parsial,kawat gig,mahkota

  1. Lensa kontak:
  2. Protosis lain-tipe:
  3. Perhiasan:

Cincin kawin:

Cincin:

Anting:giwang,jepit:

Kalung:

  1. Tata rias:

Cat kuku:

  1. Pakaian:
    1. Gaun bersih pasien:
    2. Topi:
    3. Pembalut wanita dll.:

 

  1. A.                Pernafasan Diafragmatik

Pernafasan diafragmatik mengacu pada pendataran kubah diafragma selama insipari dengan mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejajar dengan desakan udara masuk. Selama ekspirasi, otot-otot abdomen berkontraksi.

  1. Lakukan dalam posisi yang sama seperti posisi anda ditempat idur nanti setelah pembedahan, posisi semifowler, berbaring ditempat tidur dengan punggung dan bahu terangga baik dengan bantal.
  2. Dengan tangan dalam posisi genggaman kendur, biarkan tangan berada diatas iga paling bawah-jari jari tangan menghadap dada bagian bawah untuk merasakn gerakan.
  3. Keluarkan napas dengan perlahan dan penuh bersamaan dengan gerakan iga menurun dan kedalam mengarah pada garis tengah.
  4. Kemudian ambil napas dalam  melalui hidung dan mulut anda, biarkan abdomen mengembang bersamaan dengan paru-paru terisi oleh udara.
  5. Tahan napas ini dalam hitungan kelima.
  6. Hembuskan dan keluarkan semua udara melalui hidung dan mulut anda.
  7. Ulangi 15 kai denga istirahat singkat seelah setiap lima kali.
  8. Lakukan hal ini dua kali sehari praoperatif.
  1. B.                     Batuk
    1. Condong sedikit kedepan dari posisi duduk ditempat tidur, jalinkan jari-jari tangan, dan letakkan tangan melintang letak insisi untuk bertindak sebagai bebat ketika batuk.
    2. Napas dengan diafragma seperti yang digambarkan pada bagian A.
    3. Dengan mulut agak terbuka, hirup napas dengan penuh.
    4. “hak” kan keluar dengan keras dengan tiga kali napas pendek.
    5. Kemudian, degan mulu tetap terbuka, lakukan napas dalam dengan cepat dan dengan cepan batukdengan kuat satu atau dua kali. Hal ini mebantu membersihkan sekres dari dada. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan tetapi tidak membahayakan insisi.
  1. C.    Latiha Tungkai
  2. Berbaring dalam posisi semi-fowler dan lakukan latihan sederhana berikut ini untuk memperbaiki sirkulasi
  3. Bengkokkan lutut dan naikkan kaki-tahan selama beberapa detik, kemudian  luruskan tungkai dan turunkan ketempat tidur.
  4. Lakukan hal lima kali untuk satu tungkai, kemudian ulang pada tungkai lainnya.
  5. Kemudian buat lingkaran engan kaki dengan membengkkokkannya kebawah, kedalam mendekat satu sama lain, ke atas, dan kemudian keluar.
  6. Ulang gerakan ini ima kali
  1. D.    Miring
  2. Mring ke salah satu sisi dengan bagian paling atas tungkai fleksi dan disangga diatas bantal.
  3. Raih pagar tempat tidur sebagai alat bantu untuk maneuver kesamping.
  4. Lakukan pernapasan diafragmatik dan bauk keika anda miring.
  1. E.     Turun Dari Tempat Tidur
  2. Miring kesalah satu sisi .
  3. Dorong tubuh anda keatas dengan satu tangan ketika mengayunkan tungkai anda turun dari tempat tidur.

PENGKAJIAN PADA SISTEM INTEGUMEN

1. DATA DEMOGRAFI

1)   Usia ( aging proses).

2)   Suku bangsa – ras normal / abnormal tergantung suku bangsa.

3) Pekerjaan – paparan sinar matahari, kimia iritasi zat atau substansi yang abrasive     lingkungan yang menjadi faktor masalah kulit.

2. RIWAYAT KESEHATAN

1) Riwayat medis dan pembedahan

a. Riwayat medis baik saat ini atau sebelumnya.

b. Riwayat pembedahan.

2) Riwayat keluarga riwayat pengobatan

a. Tentang penyakit kulit yang kronis.

b. Anggota keluarga yang bermasalah dengan gangguan sistem integument.

3) Riwayat sosial

Pekerjaan aktifitas sehari-hari dengan lingkungannya, reaksi dss.

4) Riwayat kesehatan saat ini

  • Kapan pertama kali mendapat masalah kulit.
  • Bagian tubuh mana yang pertama kali terkena.
  • Menjadi lebih baik atau memburuk.
  • Mempunyai kondisi yang sama sebelumnya.
  • Apa faktor penyebabnya.
  • Bagaimana penatalaksanaanya.
  • Adakah masalah yang menyertai :
  • gatal, rasa terbakar, baal, nyeri, demam,vomiting, diare, sakit tenggorokan,dingin kaku
  • Keadaan buruk jika tersinar matahari, pengobatan padnas atau dingin.
  • Apa yang membuat masalah menjadi baik.
  •  Apa faktor pencetus karena makanan , sprei baru, sabun baru, kosmetik baru.
  • Bagaimana ruam atau lesi tersebut terlihat ketika muncul untuk pertama kalinya.
  • Apakah terdapat rasa gatal, tebakar, kesemutan atau seperti ada yang merayap.
  • Apakah ada gangguan sensasi kulit.
  • Apakah masalah tersebut menjadi bertambah pada musim tertentu.
  • Apakah anda mempunyai riwayat hypever, asma atau alergi.
  • Apakah ada di keluarga yang mempunyai masalah kulit.
  • Apakah erupsi kulit muncul setelaah makan makanan tertentu.
  • Apakah anda mengkonsumsi alcohol.
  • Apakah ada hubungan antara kejadian tertentu dengan ruam kulit.
  • Obat- obatan apa yang anda gunakan ( krim, salep, lotion) untuk mengobati kelainan kulit tersebut yang dapat dibeli di toko obat.
  • Jenis kosmetik apa untuk perawatan kulit yang anda gunakan.
  • Apakah di lingkungna sekitar anda terdapat faktor- faktor ( tanaman, hewan jat iritan, kimia infeksi ) yang menimbulkan masalah pada kulit.
  • Apakah ada sesuatu mengenai kulit yang yang menimbulkan ruam.

5) Riwayat diet

kaji BB, Bentuk tubuh, makanan yang disukai

 3. STATUS SOSIAL EKONOMI

Latar belakang status ekonomi klien untuk mengidentifikasi faktor lingkungan yang dapat menjadi faktor penyebab penyakit kulit ( berapa jam terpapar sinar matahari, bagaimana dengan personal hygienenya).

RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG

Jika masalah kulit sudah dapat diidentifikasi, kaji :

  1.  1.  Kapan klien pertama kali melihat adanya rash
  2.  2.  Dibagian tubuh mana rash mulai

3. Apakah masalahnya dapat diatasi atau bertambah banyak jika masalah sama dengan  penyakit sebelumnya , kaji ;

1. Penyebab lesi kulit

2. Bagaimana cara mengatasinya

3. Hubungkan dengan gejala penyerta yang lain : gatal, gatal rasa terbakar, rasa    demam, nausea dan vomiting, nyerio tenggorokan , Kaku kuduk

4. Identifikasi yang menbuat masalah menjadi baik atau menjadi buruk

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi dan palpasi dengan menggunakan :

– Penglihatan untuk menyinari lesi

– Pakaian dapat dilepaskan seluruhnya dan diselimuti dengan benar

– Proteksi diri sarung tangan haris dipakai ketika melakukan pemeriksaan kulit Tampilan umum kulit karakteristik kulit normal diantaranya:

  1. Warna

warna kulit normal bervariasi antara orang yang satu dengan yang lain dari berkisar warna gading atau coklat gelap, kulit bagian tubuh yang terbuka khususnya di kawasan yang beriklim panas dan banyak cahaya matahari cenderung lebih berpigmen efek vasodilatasi yang ditimbulkan oleh demam sengatan matahari dan inflamasi akan menimbulkan bercak kemerahan pada kulit, pucat merupakan keadaan atau tidak adanya atau berkurangnya toonus serta vaskularissi yang normal dan paling jelas terlihat pada konjungtiva.

Warna kebiruan pada sianosis menunjukan hipoksia seluler dan mudah terlihat pada ekstremitas , dasar ,kuku bibir serta membran mukosa. Ikterus adalah keadaan kulit yang menguning , berhubungan langsung dengan kenaikan bilirubin serum dan sering kali terlihat pada sklera serta membran mukosa.

  1. Tekstur kulit

Tekstur kulit normalnya lembut dan kencang, pajanan matahari, proses penuaan dan peroko berat akan membuat kulit sedikit lembut. Niormalnya kulit adalah elastis dan akan lebih cepat kembali turgor kulit baik

  1. Suhu

Suhu kulit normalnya hangat , walaupun pada beberapa kondisi pada bagian   ferifer seperti tangan dan telapak kaki akan teraba dingin akibat vasokontriksi

  1. Kelembaban

Secara normal kulit akan teraba kering saat disentuh. Pada suatu kondisi saat ada peningkatan aktifitas dan pada peningkatan kecemasan kelembaban akan meningkat

  1. Bau busuk

Kulit normal bebas dari bau yang tidak mengenakan. Bau yang tajam secara normal akan ditemukan pada peningkatan produksi keringat pada area aksila dan lipat paha

  1. Eflorensi

Eflorensi adalah pengkajian kelainan kulit yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan bila perlu di periksa dengan perabaan ada 2 macam pengkajian efrolensi

1. Eflorensi primer adalah kelainan kulit yang terjadi pada permulaan penyakit        diantaranya :

– makula : warna kulit tegas, ukuran bentuk bervariasi, tanpa disertai peninggian atau cekungan diameter

2. Eflorensi sekunder adalah kelainan kulit yang terjadi selama perjalanan penyakit

PROSEDUR DIAGNOSTIK PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN

  1. Biops Kulit.

Mendapatkan jaringan untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan cara eksisi dengan scalpel atau alat penusuk khusus ( skin punch) dengan mengambil bagian tengah jaringan. Indikasi Pada nodul yang asal nya tidak jelas untuk mencegah malignitas.Dengan warna dan bentuk yang tidak lazim.Pembentukan lepuh.

  1. Patch Test

Untuk mrngenali substansi yang menimbulkan alergi pada pasien dibawah plester khusus ( exclusive putches ).

indikasi

– Dermatitis, gejalak kemerahan, tonjolan halus, gatal- gatal. Reaksi + lemah.

– Blister yang halus, papula dan gatal –gatal yang hebat reaksi + sedang.

– Blister/bullae, nyeri, ulserasi reaksi + kuat.

Penjelasan pada pasien sebelum dan sesudah pelaksanaan patch test :

– Jangan menggunakan obat jenis kortison selam satu minggu sebelum tgl pelaksanaan.

– Sample masing – masing bahan tes dalam jumlah yang sedikit dibubuhkan pada plester berbentuk cakaram kemudian ditempel pada punggung,dengan jumlah ynag bervariasi.( 20 – 30 buah.).

– Pertahankan agar daerah punggung tetap kering pada saat plester masih   menempel.

– Prosedur dilaksanakan dalam waktu 30 menit.

– 2- 3 hari setelah tes plester dilepas kemudian lokasi dievaluasi.

3. Pengerokan Kulit

Sampel kulit dikerok dari lokasi lesi, jamur, yang dicurigai.dengan  menggunakan skatpel yang sudah dibasahi dengan minyak sehingga jaringan yang dikerok menempel pada mata pisau hasil kerokan dipindahkan ke slide kaca ditutup dengan kaca objek dan dipriksa dengan mikroskop.

  1. Pemeriksaan Cahaya Wood ( Light Wood)

Menggunakan cahaya UV gelombang panjang yang disebut black light yang akan menghasilakan cahaya berpedar berwarna ungu gelap yang khas.cahaya akan terlihat jelas pada ruangan yang gelap, digunakan untuk memebedakan lesi epidermis dengan dermis dan hipopigmentasi dengan hiperpigmentasi.

5.   Apus Tzanck Untuk memeriksa sel – sel kulit yang mengalami pelepuhan.

Indikasi :

– Herpes zoster,varisella, herpes simplek dan semua bentuk pemfigus.

– Secret dari lesi yang dicurigai dioleskan pada slide kaca diwarnai dan periksa

Tujuan :

Agar mahasiswa dapat mengamati berbagai kelainan pada integument melalui  pemeriksaan fisik kulit, rambut dan kuku.

Alat satu-satunya yang digunakan untuk memeriksa kulit adalah lampu senter.

Pemeriksaan kulit anda perlu perhatikan :

  1. Warna
  2. Kelembaban
  3. Turgor
  4. Tekstur kulit

Perhatikan setiap perubahan warna seperti :

  • Sianosis
  • Ikterus
  • Anemis
  • Atau kelainan pigmentasi

Petekia atau purpura atau angioma adalah Lesi vascular merah mungkin adalah ekstravasasi darah dari pembuluh masuk ke dalam kulit.

Tes petekia dengan melakukan penekanan dengan kaca objek glas, dimana kemerahannya tidak akan hilang. Berbeda dengan angioma.

Kelembaban yang berlebihan mungkin terdapat pada orang normal, demam, emosi, penyakit keganasan, atau hipertiroidisme.

Kulit kering adalah perubahan menua normal, dapat dijumpai pada miksedema, nefritis (penyakit ginjal), atau obat-obat tertentu.

Turgor jaringan adalah alat secara kasar menafsir keadaan hidrasi umum biasanya.

Lesi Primer

  • Macula, bercak datar dan kecil, berukuran sampai 1,0 cm.

Contoh: hemangioma, vitiligo

  • Patch, bercak datar, 1.0 cm atau lebih.

Contoh: bercak Café-au-lalt

  • Papula, berukuran sampai 1,0 cm.

Contoh: nevus yang menonjol

  • Plak, lesi permukaan yang menonjol 1,0 cm atau lebih sering dibentuk oleh kumpulan papula

Lesi Sekunder

Jenis lesi

Pengertian

Skuma

Eksfolisasi epidermis/mengelupasnya epidermis, misalnya pada psoriasis, tinea versikolor

Ekskoriasi

Lapisan epidermis yang lecet karena trauma mekanik, misalnya karena digaruk atau dicakar

Fisura

Celah yang memanjang ke dalam epidermis, kadang sampai di korium, karena luka-luka atau penyakit

Krusta

Timbunan serum, pus, atau darah yang mongering, kadang-kadang bercampur jaringan epitel atau debris

Sikatriks

Pembentukan jaringan iakt baru, sebagai pengganti kerusakan jaringan korium (atau lebih dalam lagi), akibat suatu luka atau penyakit atau bekas operasi. Jaringan parut yang berlebihan pertumbuhannya disebut keloid

Ulkus

Luka yang menembus epidermis, biasanya disertai nekrosis, bervariasi dalam bentuk serta dalamnya luka

Perubahan Lokal

Angioma

Tumor yang terjadi dari system pembuluh, bila asalnya pembuluh darah di sebut hemangioma, bila asalnya pembuluh limpa disebut limfangioma

Nevi

Pertumbuhan yang sifatnya kongenital, merupakan tanda lahir

Spider nevi

Bercak merah kecil, merupakan pembuluh-pembuluh darah yang kecil mempunyai pusat dengan cabang-cabangnya yang terbesar dari pusat (sepetri sarang laba-laba). Biasanya dijumpai pada penyakit hati, misalnya sirosis hati.

Striae

Garis putih kemerahan dari daerah yang atrofi, dikelilingi oleh kulit yang normal. Dijumpai pada wanita hamil, gemuk, atau pada sindrom cushing, jaringan parut (sikatriks pada eflorosensi)

Pertumbuhan Rambut

Dinilai cukup tidaknya, adakah bagian-bagian yang berlebihan atau tidak ada pertumbuhan rambutnya.

Edema

Diperiksa didaerah pretibial, pergelangan kaki dan sacral, dengan cara menekan di atas dasar yang keras (di atas tulang, tidak di daerah otot). Adanya lekukan ke dalam setelah penekanan, disebut pitting edema,misalnya pada sirorosis hati, gagal jantung kanan dan sindrom nefrotik. Keadaan sebaliknya disebut non pitting, dijumpai misalnya pada miksedema.

Turgor

Diperiksa dinding perut, lengan dan punggung tangan.

Keringat

Seluruh badan, setempat.

Scleroderma

Gambaran kulit yang kasar, menebal, warna putih gading. Terabanya biasaanya tipis dan tegang, sehingga kadang kala pasien sukar untuk tersenyum atau menutup mulutnya.

Atrofia

Menipisnya kulit karena berkurangnya satu atau lebih lapisan kulit. Tampaknya kulit jadi pucat, elastisitas berkurang, pada keadaan ekstrim, kulit teraba seperti kertas.

Emfisema subkutis

Adanya udara pada jaringan subkutan, ditandai dengan adanya krepitasi pada perabaan.

Kuku

  • Falang dorsal membulat dan menggelembung, kecembungan dari lempeng kuku meningkat. Sudut antara lempeng kuku dan lipatan kuku proksimal bertambah sampai 180° atau lebih. Lipatan kuku proksimal teraba seperti busa. Banyak penyebab dari kondisi ini termasuk hipoksia kronis dan kanker paru
  • Inflamasi pada lipatan kuku proksimal dan lateral, dapat akut atau kronis. Lipatan berwarna merah, bengkak, mungkin terdapat nyeri tekan.
  • Pelepasan lempeng kuku yang tidak terasa sakit dari bantalan kuku, dimulai dari distal. Banyak penyebab dari kondisi ini.
  • Keputihan pada kuku disertai dengan pita distal kemerahan atau coklat. Terlihat pada penuaan dan beberapa penyakit kronis.
  • Bercak putih yang disebabkan oleh trauma. Tumbuh ke luar bersamaan dengan pertumbuhan kuku.
  • Garis kurva putih yang serupa dengan kurva linula. Pertumbuhan ini menyertai penyakit dan tumbuh ke luar bersama pertumbuhan kuku.

PERTUMBUHAN RAMBUT

Rambut rontok di seluruh badan ataupun setempat (alopesia areata).Dapat di jumpai pada penyakit infeksi berat (demam tifoid) atau penyakit endokrin (diabetes mellitus, miksedema).

  • Trikotilomania

Area tampa rambut karena penarikan, pencabutan atau pemuntiran rambut .batang rambut patah dan dalam berbagai ukuran. Lebih umum terjadi pada anak, sering pada situasi stress keluarga atau stress psikologis.

  • Tinea kapittis (“Ringworm”)

Area alopesia parut yang bulat.Rambut patah sangat dekat dengan pangkalnya di kulit kepala.Biasanya disebabkan oleh infeksi jamur karena tinea tonsurans.Menyerupai dermatitis seborea.

BAB IV

PENUTUP

  • Kesimpulan

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien Kata” perioperatif “ adalah suatuistilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif

Sistem integumen atau biasa disebut kulit adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan manusia terhadap lingkungan sekitarnya dan merupakan organ yang paling luas, dimana orang dewasa luasnya mencapai lebih dari 19.000 cm2.

Karena merupakan salah satu again yang terpenting pada tubuh manusia maka seharusnya di perhatiakan tingkat hygianenya.

  • Saran

Pentingnya seorang tenaga kesehatan untuk mengetahui prosedur-prosedur yang perlu di lakukan sebelum pasien di lakukan tindakan operatif khusus system integument

Baik menyangkut kesiapan fisik pasien,kesiapan alat dan sarana,kesiapan mental baik pasien maupun keluarga pasien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: